Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Anak Pintar Linguistik

Anak Pintar Linguistik

Manusia adalah makhluk sosial. Salah satu bentuk untuk menciptakan hubungan sosialnya adalah lewat komunikasi verbal atau kemampuan berbahasa. Kemampuan ini sudah ditunjukkan anak sejak masih bayi. Mula-mula ia menangis untuk

Sabtu, 24 Maret 2012

Mari kita perhatikan anak dengan kepintaran linguistik. Hampir semua orang suka pada anak yang pandai bicara. Anak selalu menjadi ‘bintang’ di mana pun ia berada. Namun, memiliki buah hati yang demikian tergantung pada pola asuh lingkungan terdekatnya.

Manusia adalah makhluk sosial. Salah satu bentuk untuk menciptakan hubungan sosialnya adalah lewat komunikasi verbal atau kemampuan berbahasa. Kemampuan ini sudah ditunjukkan anak sejak masih bayi. Mula-mula ia menangis untuk menunjukkan keinginannya. Kemudian mulai babbling (meraban/mengoceh), saat bayi kecil memperdengarkan suara-suara tertentu. Lambat laun, seiring dengan pertambahan usianya, bayi bisa mengerti bahkan merespon lingkungannya.

Kemampuan berbahasa, memahami bahasa, serta merespon, merupakan potensi yang dimiliki setiap anak manusia. Anak pun tak begitu saja mencapai kemampuan tersebut. Potensi berbahasa akan berkembang melalui proses belajar berbahasa (berbicara). Karena itu, jika lingkungan terdekat anak (baca: orangtua), tidak memberi suasana yang mendukung, maka potensi tinggal potensi. Anak akan tumbuh jadi anak ‘pendiam’ lantaran kemampuan berbahasanya kurang, sehingga sulit bagi anak untuk mengungkapkan dirinya dalam bentuk kata-kata.

Pola asuhlah yang sangat berperan meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Misalnya, pola asuh yang tidak memberi ruang anak untuk bebas berbicara, atau serba mengkritik bicara anak, sering menganggap anak salah, akan mematikan potensi berbahasa anak. Demikian sebaliknya. Pola asuh yang mendukung anak untuk berbicara, maka potensi anak pun akan tumbuh subur, melahirkan anak dengan kepintaran linguistik.

Bagaimana menstimulus anak agar memiliki kepintaran berbahasa? Tekni-teknik ini membantu Anda mengasah si kecil sesuai usianya:

1.    Usia 6 bulan - 2 tahun

Mulai usia 6 tahunan anak mulai mengoceh, 1 tahunan bisa memahami     namun belum bisa merespon dengan baik. Sering

mengajaknya berbincang-bincang akan membantu meningkatkan kemampuannya, juga:

Bicara dengan bayi menggunakan kata yang sebenarnya. Misalnya "susu" bukan "cucu", "minum" bukan "num" atau "botol" bukan "otong",dan sebagainya. Menggunakan kata seperti cara bicara anak, tidak mengajarkan anak berbicara yang benar. Ingat, anak belajar mengikuti suara dan intonasi Anda.

Perkenalkan kata-kata baru setiap hari dengan menunjukkan barang dan menyebutkan namanya.

Saat berbicara dengan bayi, dekatkan wajah Anda dengannya (jarak sekitar 20 -25 cm.) agar ia bisa melihat wajah Anda dan meresponnya sesuai penglihatannya. Berikan pula tatapan mata dan senyum, karena bayi pun akan belajar menghargai dari kasih sayang yang Anda berikan.

Lakukan stimulus dalam bentuk komunikasi lainnya seperti, pelukan, merespon tangisnya, menyanyikan lagu nina bobo, juga omelan atau keluhan.

2. Usia 2-3 tahun

Pada usia ini anak mulai mengumpulkan perbendaharaan kata. Kemampuan bicaranya maju pesat. Rata-rata anak usia 2 tahun menguasai 200-500 kata dengan kemampuan mengucapkan dua tiga kata. Anak 3 tahunan menguasai 1200-an kata. Memang, pada beberapa balita lainnya, masih ada yang mempunyai kesulitan dalam mengucapkan kata-kata atau intonasi. Bahkan, ada juga yang tidak mau mengucapkannya sama sekali.

Berbagai rangsangan diperlukan guna mengoptimalkan kemampuan berbahasanya:

Mengembangkan kata-kata anak dengan mengenalkan konsep-konsep sederhana. Misalnya, ketika anak berkata "rumah besar", tambahkanlah "Itu rumah yang besar, itu rumah yang tinggi, dan itu rumah kecil. Atau konsep besar-kecil, atas-bawah, basah-


memahami   namun belum bisa merespon dengan baik. Sering

mengajaknya berbincang-bincang akan membantu meningkatkan kemampuannya, juga:

Bicara dengan bayi menggunakan kata yang sebenarnya. Misalnya "susu" bukan "cucu", "minum" bukan "num" atau "botol" bukan "otong",dan sebagainya. Menggunakan kata seperti cara bicara anak, tidak mengajarkan anak berbicara yang benar. Ingat, anak belajar mengikuti suara dan intonasi Anda.

Perkenalkan kata-kata baru setiap hari dengan menunjukkan barang dan menyebutkan namanya.

Saat berbicara dengan bayi, dekatkan wajah Anda dengannya (jarak sekitar 20 -25 cm.) agar ia bisa melihat wajah Anda dan meresponnya sesuai penglihatannya. Berikan pula tatapan mata dan senyum, karena bayi pun akan belajar menghargai dari kasih sayang yang Anda berikan.

Lakukan stimulus dalam bentuk komunikasi lainnya seperti, pelukan, merespon tangisnya, menyanyikan lagu nina bobo, juga omelan atau keluhan.

2.    Usia 2-3 tahun

Pada usia ini anak mulai mengumpulkan perbendaharaan kata. Kemampuan bicaranya maju pesat. Rata-rata anak usia 2 tahun menguasai 200-500 kata dengan kemampuan mengucapkan dua tiga kata. Anak 3 tahunan menguasai 1200-an kata. Memang, pada beberapa balita lainnya, masih ada yang mempunyai kesulitan dalam mengucapkan kata-kata atau intonasi. Bahkan, ada juga yang tidak mau mengucapkannya sama sekali.

Berbagai rangsangan diperlukan guna mengoptimalkan kemampuan berbahasanya:

Mengembangkan kata-kata anak dengan mengenalkan konsep-konsep sederhana. Misalnya, ketika anak berkata "rumah besar", tambahkanlah "Itu rumah yang besar, itu rumah yang tinggi, dan itu rumah kecil. Atau konsep besar-kecil, atas-bawah, basah- kering, dan lainnya. Lanjutkan dengan buku-buku seperti buku cerita binatang dan buku tentang berbagai bentuk.

Berbicara dengan spesifik dan dengan penjelasan. Utarakan pengamatan sejelas mungkin, misal ada seekor kucing memanjat pohon, jangan hanya berkata "lihat kucing itu," tapi "lihat, seekor kucing berwarna putih memanjat pohon. Mungkin dia sedang mengejar burung, ya." Atau, " itu seekor anjing dengan bulu lebat dan ikat leher berwarna merah."

Perumit sedikit. Menggunakan kalimat sederhana dan singkat untuk batita memang bijaksana. Namun, ada saatnya si kecil mendapat tantangan dengan mendengar kata-kata agak rumit. Tetapi, Anda harus bicara jelas, dan mau mengulang apa yang tak ditangkap anak dengan j elas.

Terus bertanya. Memberikan pertanyaan dapat membangun kemampuan verbalnya. Ajukan pertanyaan menantang perbendahaan kata anak, namun jangan membuatnya frustasi (karena tak tahu cara menjawabnya.). Misalnya, jika ia bertanya "Apa itu?" jawablah "menurutmu itu apa ya?"

Bermain kata-kata. Mungkin masih terlalu dini tetapi ada peraturan sederhana. Yakni, saat membacakan buku cerita, sesekali berhentilah, dan tanyakan nama benda-benda yang ada di buku.

Perkenalkan alfabet. Pengenalan alfabet penting agar anak tak merasa asing saat pelajaran membaca dimulai. Pengenalan bisa dengan nyanyian atau lewat buku.

3.Usia 3-5 Tahun

Usia ini merupakan tahapan pembelajaran bahasa yang paling kuat perkembangannya - di banding usia-usia lain. Mereka mulai banyak menggunakan kata-kata yang bukan sebenarnya atau pun kata-kata ‘kotor’ yang ia terima dari lingkungannya. Namun, sebetulnya si kecil belum benar-benar mengerti arti kata-kata yang diucapkannya. Untuk meningkatkan kemampuannya:

Ajak bermain merangkai kata menggunakan gambar, permainan lego, atau menciptakan gambar sendiri. Caranya, gunting dua gambar yang sama. Tempelkan 6-8 gambar berbeda pada karton besar, dan gambar kecil di karton kecil. Tunjukkan pada anak, minta anak menunjukkan gambar yang sama dari dua tempat (karton besar dan kecil) yang berbeda. Anak yang memiliki kepintaran linguistik umumnya suka bermain kata-kata menggunakan gambar.

Mencari jawaban. Jika anak bertanya dan Anda tak tahu jawabannya katakan, "bunda belum tahu jawabannya. Yuk kita cari tahu di buku." Mengajak anak mencari jawaban dari buku membantu mereka belajar mengembangkan bahasa.

Minta anak menceritakan kembali. Karena sudah menguasai banyak kata, anak dapat menceritakan kembali apa yang mereka ketahui. Mintalah anak bercerita kegiatannya di sekolah, atau bersama teman-temannya. ■

Disadur dari buku Pintar Pintar Linguistik - editor Deni Karsana - Wyeth Nutritionals

comments powered by Disqus

Sembilan Langkah Supaya Anak Mau makan

Bukan itu saja. Ketika disuapi, anak bertingkah macam- macam. Ia lari ke sana ke mari, dan menangis jika dipaksa duduk. Jika pun mau makan, makanan tersebut tak dikunyah segera, tetapi diemut dulu.

connect with abatasa