Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Jangan Rusak Pede Anak (Bagian Kedua)

Jangan Rusak Pede Anak (Bagian Kedua)

Laqoad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Sejak lahir, anak-anak ini sebenarnya telah dikaruniai ahsani taqwiim, bentuk terbaik menurut Allah termasuk sifat-sifat pembawaanya. Semua anak seperti disebutkan dalam Surat At-tiin ayat 4 tersebut dengan demikiaan ...

Selasa, 28 Agustus 2007

Anak Merasa Aman dengan Masa Depannya


Laqoad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Sejak lahir, anak-anak ini sebenarnya telah dikaruniai ahsani taqwiim, bentuk terbaik menurut Allah termasuk sifat-sifat pembawaanya. Semua anak seperti disebutkan dalam Surat At-tiin ayat 4 tersebut dengan demikiaan pada asalnya cenderung memiliki sifat baik, potensinya ke arah kebaikan. Apa yang kerap kita sebut sebagai fitrah. Ini diperkuat dengan keterangan pada Surat Al-A'raf, surat ke-7 dalam urutan Alqur'qn ayat 172. Dalam ayat tersebut diterangkan, bahkan sebelum lahir ke dunia, seluruh manusia yang kemudian hidup dijagat raya ini pada asalnya pernah mengakui bahwa Allah SWT, satu-satunya Tuhan mereka. Sekali lagi, ini menjadi bukti asalnya manusia memang cenderung memiliki kebaikan-kebaikan.

Hanya saja kemudian, seiring dengan perjalanan usia anak, apakah anak menjadi percaya diri atau tidak kemudian menjadi bergantung kepada bagaimana lingkungan dan orang tua membentuk anak tersebut. Lalu, sejak kapan anak dapat terpengaruh?

Psikolog Sri Yenawati, Psi., mengatakan pengaruh orang tua ini bahkan dapat terasakan anak sejak orang tua mulai memberi sentuhan pengasuhan sejak anak berusia nol tahun. Dari usia nol tahun hingga usia 1,5 tahun anak sudah dapat merasakan apakah dunia yang ia tempati aman atau tidak, bagaimana respon yang diberikan orang tua pada anak ketika usia ini akan mempengaruhi perasaanya kelak.

“Jika sang ibu care maka ia akan mengerti anak menangis itu artinya ingin apa? Karena itu orang tua harus peka, kapan ekspresi nonverbal anak menunjukkan perasaan tidak nyaman,” ujarnya.

Jika sejak usia tersebut orang tua berhasil menanamkan rasa aman pada anak, menurut pengajar psikolog di Universitas Islam Negeri Gunung Djati Bandung ini, sampai usia itu orang tua dapat dikatakan berhasil memberi pengaruh positif pada kepercayaan diri anak.

Zirly Nova Zamil, nampaknya satu dari sedikit orang tua yang sadar benar akan hal tersebut. Bahwa pola asuh yang diterapkan pada anak akan terbentuk menjadi karakter dalam dirinya. Zirly dan sang suami, Eddy W. Abdul Jabbar yang diamanahi sembilan anak (dua diantaranya telah meninggal dunia) mersakan benar bagaimana dampak pola asuh yang diterapkan pada anak-anaknya.

Seperti layaknya pasangan muda, pada awal rumah tangga mereka, mendapatkan anak pertama tentu terasa sangat istimewa. Ditemui Auladi di sela-sela kesibukannya sebagaianggota komisi C DPRD Jawa Barat, Zirly mengaku pada anak sulungnya itu ian dan suami begitu overprotective.

M. Sibghotullah R, yang beranjak dewasa di umur 18 tahun ini diakui ibundanya sedari kecil begitu pemalu bahkan cenderung tak percaya diri. Bisa jadi karena Sibghoh anak pertama, maka waktu itu begitu banyak larangan yang diterapkan. Saat sekolah dasar, Sibghoh dipesantrenkan oleh kedua orang tuanya. Perbedaan pola di rumah dan di pesantren sempat membuat 'bingung' Sibghoh. Namun, setelah kembali lagi bersama kedua orang tuanya, menjelang SMP kelas dua, Sibghoh terbiasa melakukan segalanya seorang diri.

Lain kakak, lain pula sang adik. Bila Sibghoh sang kakak terlanjur pemalu, adik yang kedua Hudzaifah I., diakui Zirly merupakan anak yang superpercaya diri. “Mungkin karena dia anak kedua, ia ada 'guru'nya yaitu sang kakak. sebagai orang tua pun kami merasa tak terlalu overprotective seperti pada kakaknya” tuturnya.

Beruntung, Zirly dan suami sadar betapa pentingnya 'ilmu' ketika menjalankan amanah mendidik anak. Maka pasangan ini dengan lapang dada mengakui dan selalu maelakukan revisi bagaimana cara terbaik mendidik anak. Sebagai orang tua, manusia biasa, pastinya pernah melakukan kesalahan. Dengan melakukan revisi, evaluasi dalam mendidik anak pun dapat dilakukan. Mana yang salah coba ditanggalkan dan yang benar coba dipertahankan. .. (bersambung...)

comments powered by Disqus

Ciri-ciri Ahli Ma`rifat

Hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki. Karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. Bila hati sudah terisi dunia, Allah tidak mau mengisinya. Begitu pun cinta kepada manusia,

connect with abatasa