Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Aku Tidak Mau Sekolah I

Aku Tidak Mau Sekolah I

Kevin (4,5 tahun) berteriak sambil menangis dan mengentak-entakkan kakinya ke lantai. Tas sekolahnya yang sudah dipakai, dipelorotkan lagi. Topinya pun dibuang ke kolong meja. Sementara sepatunya yang satu lagi entah ke mana

Sabtu, 10 Desember 2011

"Kevin tidak mau! Pokoknya tidak mau! Hu...hu...hu...."

Kevin (4,5 tahun) berteriak sambil menangis dan mengentak-entakkan kakinya ke lantai. Tas sekolahnya yang sudah dipakai, dipelorotkan lagi. Topinya pun dibuang ke kolong meja. Sementara sepatunya yang satu lagi entah ke mana.

Hehh, Bu Wiwit (29 tahun) sampai geregetan melihat tingkah anaknya, Sudah beberapa kali ini Kevin rewel setiap hendak berangkat sekolah. Kemarin ia sudah tidak masuk. Masa hari ini tidak masuk sekolah lagi? Tangan Bu Wiwit bergerak. Hampir saja ia.... Untung Bu Wiwit sadar. Sambil menghela napas, Bu Wi­wit pun mengangkat pesawat telepon. Mau minta izin lagi ke bu guru Kevin.

Tidak hanya Kevin yang bermasalah. Anak-anak lain yang baru beberapa hari bersekolah, juga sering mengalami problem yang sama. Ekspresinya bermacam-macam. Ada yang ngambek tidak mau berangkat, mau sekolah asal ditemani ibu, atau menda­dak sakit perut saat mendengar bunyi mobil jemputan datang. Intinya, mereka tidak ingin bersekolah.

Penyebabnya bisa sederhana, misalnya karena takut terpisah dari orang tua. Namun juga bisa problem yang serius, misalnya karena dinakali teman sekelasnya, takut pelajaran, atau karena gurunya.

Jika Ibu tahu bahwa "penyakitnya" itu bukan karena masalah fisik, beberapa langkah berikut ini dapat Ibu lakukan agar anak tetap mau bersekolah.

1.   Beri Gambaran Positif

Tanpa memandang usia si kecil, Ibu mesti menerangkan mengapa ia perlu sekolah. Jelaskanlah dalam kalimat yang sederhana. Misalnya saat menonton iklan Aku Anak Sekolah-nya Rano Karno atau iklan GN-OTA. "Sekolah itu menyenangkan, lho. Tuh, lihat, anak-anak sekolah pada berlari-lari dan terse­nyum senang."

Tokoh Si Doel atau tokoh lain juga bisa dijadikan contoh. Misalnya, "Tahu nggak, kenapa Si Doel bisa pergi ke Swiss dan naik pesawat terbang? Itu karena Si Doel sekolah sampai jadi insinyur...."

Satu hal yang mesti selalu diingat, Ibu tidak boleh marah padanya, hanya karena ia tidak mau sekolah. Apalagi sampai memberi hukuman fisik.

2.   Jelaskan Konsekuensinya

Untuk anak yang sudah harus masuk SD, jelaskan bahwa sekolah itu wajib bagi mereka. Menurut para ahli, tidak apa-apa jika Ibu menerangkan konsekuensi buruk kepada si anak jika ia tidak mau atau mogok sekolah. "Kalau sering mbolos, kamu bisa ketinggalan pelajaran. Nanti nilaimu jelek. Kalau jelek, kamu bisa tinggal kelas. Malu kan, tertinggal sama teman-teman seusiamu...."

Bisa juga memberitahukan "contoh buruk" kepada anak. "Tuh lihat, Mandra. Waktu kecil, ia tidak mau sekolah. Akibatnya ia tidak diterima kerja, sebab tidak bisa membaca."

3.   Kunjungi Sekolah Si Kecil

Untuk anak yang baru masuk SD atau TK, atau baru pindah dari sekolah lain, lakukan kunjungan pendahuluan sebelum hari pertama sekolah dimulai. Luangkan waktu sebentar bersama anak di dalam kelas. Bicaralah juga dengan gurunya, agar si anak tahu bahwa ayah atau ibunya akrab dengan orang asing ini, dan ia tak perlu takut padanya. Ibu mungkin perlu melakukan ini lebih dari sekali jika si kecil termasuk anak yang mudah cemas.

4.   Siapkan Peta

Anak bisa sangat cemas dan stres jika saat di sekolah, ia tak segera menemukan toilet yang dicarinya. Sebelum terjadi, cobalah beri gambar peta berwarna lokasi-lokasi yang penting bagi si kecil. Sebab bagi anak, paham dengan seluk-beluk bangunan yang "asing" merupakan keharusan baginya.

Terangkanlah dengan cara yang mudah dipahami. Tunjukkan dalam peta itu, misalnya, letak kantin, toilet, kamar mandi, per­pustakaan, telepon umum, dsb. Bagus lagi kalau Ibu atau guru juga menunjukkannya langsung.

5.   Beri Dorongan

Cari tahu aktivitas menarik apa yang ada di sekolah, dan jelaskan hal ini kepada anak. Ceritakan jenis kegiatan apa yang dilakukan di sana, serta teman-teman yang akan ditemuinya. Carilah apa yang menarik pada kegiatan itu, yang tidak ditemui di rumah. Barangkali saja, di sekolah ada pelajaran melukis, baca puisi, atau bermain alat musik sederhana. (bersambung...)

 

Disadur dari buku Mengendalikan Si Kecil - editor Deni Karsana - Wyeth Nutritionals

comments powered by Disqus

Ciri-ciri Ahli Ma`rifat

Hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki. Karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. Bila hati sudah terisi dunia, Allah tidak mau mengisinya. Begitu pun cinta kepada manusia,

connect with abatasa