Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Ketika Anak Anda Terluka

Ketika Anak Anda Terluka

Minggu lalu, cukup menyakitkan bagi putri saya ketika sahabatnya melukai hatinya. Saya tidak bisa berteriak, "Jangan," atau mendatangi dan menuntutnya bersikap lebih manis dan tidak lagi mengucapkan kata-kata yang menyakitkan

Jum'at, 21 Oktober 2011

Ketika anak-anak kita masih kecil dan anak lain menyakiti mereka, kita ikut campur dan berusaha melerai. Seorang batita mendorong batita kita dan kita berjongkok agarwajah kita sejajar dengan wajahnya dan berkata dengan tegas, "Jangan begitu, itu tidak baik." Namun, setelah mereka bertambah besar, kita tidak dapat ikut campur dan menyelesaikan masalah.

Minggu lalu, cukup menyakitkan bagi putri saya ketika sahabatnya melukai hatinya. Saya tidak bisa berteriak, "Jangan," atau mendatangi dan menuntutnya bersikap lebih manis dan tidak lagi mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Saya ingin mengangkat telepon dan meminta agar seseorang, entah ibu anak itu, atau gurunya, mau membereskan masalah ini. Saya ingin memutar balikjam dan menyuruh gadis yang telah kami ker,= begitu lama ini agar menarik kembali kata-katanya yang tidak pantas dan tindakannya yang menyakitkan hati. Saya ingin membungkus putri saya yang manis dan rapuh ini dengan kapas merah jambu dan melindunginya dari rasa sakit.

Sebagai gantinya, sayalah yang maju, membuka kedua tangan saya untuk memeluk­nya, menceritakan berbagai permasalahan dengan kawan-kawan pada masa kanak-kanak saya, meyakinkan dia bahwa dia selalu didukung oleh spiritualitas. Kami meneguhkan diri bersama-sama untuk mendapatkan penyelesaian positif, kami membahas berbap strategi untuk menjalin persahabatan baru, dan akhirnya kami menemukan jalanyang dengan cara itu dia dapat mengungkapkan sakit hatinya secara langsung kepada kawannya. Saya mengingatkan dia bahwa tidak ada orang atau keadaan yang dapat menyingkirkan kegembiraan yang telah dipersiapkan Tuhan untuknya. Namun, masih ada bagian diri saya yang ingin menjegal "bekas sahabat" ini saat dia dengan riang melompat-lompat ke sekolah, bergandengan tangan dengan sahabat barunya.

Kinilah saatnya saya bisa membantu Elizabeth membongkar kotak peralatan spiritualnya dan menjalani sakit hatinya hari ini. Saya dapat menyediakan rumahyang mendukung, memberikan landasan dan tenaga baru saat dia datangdalam keadaan babak-belur dari dunia di luar sana.

Saya merasa sakit melihat luka hatinya, air matanya yang asin pada malam hari,dan kekecewaannya. Kakaknya mengingatkan saya bahwa penting bagi Elizabeth untuk mengatasi sendiri masalah ini sebab dia membutuhkan banyak latihan sebelum naik kelas enam, yang pada saat-saat itu hal-hal semacam ini terjadi setiap hari. Sarana, strategi, dan dukungan yang kita berikan kepada anak-anak kita untuk menghadapi ha1 yang tampaknya seperti luka kecil akan dapat membantu mereka mengatasi permasalahan yang tak terelakkan dalam pertumbuhan mereka.

 

 

Disadur dari buku SQ untuk Ibu, Penulis: Mimi Doe, Penerbit KAIFA

comments powered by Disqus

Kisah Mertua dan Menantu

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua. Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Ura

connect with abatasa