Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Harus Kukikis Rasa Bersalah itu

Harus Kukikis Rasa Bersalah itu

Kadang-kadang, kita begitu terperangkap oleh rasa bersalah atas apa yang kita angg sebagai cacat orangtua sehingga kita tidak mampu mengambil tindakan yang pali sederhana sekalipun-lebih mudah kita biarkan semuanya seperti...

Kamis, 06 Oktober 2011

Kadang-kadang, kita begitu terperangkap oleh rasa bersalah atas apa yang kita anggap sebagai cacat orangtua sehingga kita tidak mampu mengambil tindakan yang paling sederhana sekalipun-lebih mudah kita biarkan semuanya seperti semula. Kita kehabis tenaga dan membaca satu lagi gagasan atau kiat tentang cara menciptakan lebih banyak makna dalam keluarga atau meningkatkan penghargaan-diri anak dapat membuat kita ngeri. Kita pun menutup diri. Kita menjadi sinis. "Aduuh, memangnya anak-anak lebih suka menyalakan lilin dan mendengarkan dongeng daripada menonton televisi atau main Gameboy?"

Kita lebih suka merasa bersalah daripada melakukan perubahan. Rasa bersalah, saya yakin, dirasakan oleh kita semua dengan kadar sendiri-sendiri Seorang ibu empat anak mengatakan kepada saya, "Saya merasa bersalah setiap hari karena sesuatu. Namun, saya seorang wanita dan juga ibu. Jadi, ya ... memang harus begitu." Kita dapat mengubah itu. Kita mulai dengan memperhatikan diri kita sendiri sebagaimana kita memperhatikan anggota keluarga kita, dengan kesadaran bahwa, pada akhirnya. seluruh keluargalah yang akan memetik manfaatnya.

Sebagian di antara kita menyiksa diri sendiri saat menyimpang dari definisi kaku mengenai "orangtua yang baik". Kita menyuruh anak usia empat tahun pergi ke sekolah mengenakan pakaian mandi dan bukannya pakaian dalam sebab tidak ada pakaian dalam yang bersih. Lalu, kita merasa bahwa kita pantas dihukum atas kecerobohan itu. Kita bersikap kejam pada diri sendiri, padahal kita mungkin hanya perlu membeli pakaian dalam lebih banyak.

Sebenarnya, kita menjalani tugas sebagai orangtua ini nyaris tanpa persiapan. Perbedaan antara harapan kita dan kenyataan sangat besar. Suami saya berangan-angan, ketika anak pertama kami lahir, bahwa dia dapat membaca Wall Street Journal sambil dengan tenang mengayun-ayun bayi kami. Pada hari pertama bayi itu pulang dari rumah sakit, suami saya membaringkan sang bayi di atas dadanya dan dengan kikuk membuka koran. Hal Itu sama sekali tidak cocok dengan gambaran kebapakan yang romantis di benaknya. Dia pun menyesuaikan diri.

Pandanglah peranan orangtua sebagai jalan untuk mendapatkan kesadaran spiri­tual yang lebih besar (yang paling penting di antara berbagai tugas bagi pikiran/tubuh kita). Kesalahan justru merupakan kesempatan untuk berkembang lebih baik. Rasa bersalah membawa kita jauh dari saat sekarang tempat anak-anak kita hidup dan kita perlu melihat dan bertindak dengan jelas, dan menyeret kita ke wilayah lain yang dipenuhi gambaran masa lalu dan celaan batin yang tidak pada tempatnya.

Mulailah melepaskan pengondisian dari budaya masa kini yang tampaknya mengungkung kita, yang menyarankan bahwa kita harus mendengarkan dan mencurahkan diri sepenuhnya bagi anak-anak, tanpa memikirkan kebutuhan diri kita sendiri. Memerhatikan perasaan terdalam dan keinginan anak-anak kita itu penting, tentu saja, tetapi melakukan hal itu tanpa memedulikan keinginan dan kebutuhan kita sendiri hanya menyulut rasa bersalah, kebosanan, dan kebencian. Hubungan akan berkembang dan keluarga tumbuh subur jika orangtua maupun anak sama-sama mendapatkan "pupuk".

Gagasan-gagasan berikut ini akan membantu Anda mengikis rasa bersalah setiap kali perasaan itu muncul.

 
Disadur dari buku SQ untuk Ibu, Penulis: Mimi Doe, Penerbit KAIFA

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa