Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Dengarkanlah Anak Kita

Dengarkanlah Anak Kita

Pernahkah anda membayangkan bagaimana perasaan anda jika anda datang kepada teman atau saudara unuk mengungkapkan isi hati anda, atau menceritakan sesuatu yang membuat anda terkesan, ...

Jum'at, 07 Agustus 2009

Masih tentang mengajarkan komunikasi sebagai modal utama anak menghadapi dunia luar, kali ini saya ingin berbagi tentang mendengar.

Pernahkah anda membayangkan bagaimana perasaan anda jika anda datang kepada teman atau saudara unuk mengungkapkan isi hati anda, atau menceritakan sesuatu yang membuat anda terkesan, lalu ia mendengarkan anda sambil memasak, atau mencuci mobil, atau membuka-buka tabloid, atau mondar-mandir mengerjakan hal lain ?

Tentu anda merasa kecewa, bukan ?

Sekarang mari kita bayangkan jika anda mendatanginya, kemudian ia menghentikan semua kegiatannya, ia menghadapkan tubuhnya kepada anda dan benar-benar mendengarkan anda serta memberi komentar yang tulus. Bagaimanakah perasaan anda ?

Mmm … Tentunya anda akan merasa sangat diperhatikan dan dihargai. Anda merasa menjadi orang yang penting baginya.

Perasaan-perasaan itu pun timbul dalam diri anak kita.

Mendengar nampaknya hal yang sepele. Tetapi sebenarnya mendengar merupakan bagian penting dari proses pendidikan anak. Anak yang terbiasa didengarkan dengan baik oleh orang tuanya akan merasa dirinya dihargai dan kelak ia pun akan berusaha menghargai orang lain.

Selain itu, mendengar dengan baik akan membangun rasa keterikatan yang tulus dari anak kepada orang tua. Anak bisa benar-benar mempercayai orang tuanya, bahkan menjadikan orang tua sebagai sahabatnya.

Ketika anak lebih mempercayai orang tua daripada orang lain, maka ia akan merasa aman untuk menceritakan secara terbuka tentang segala hal yang dilihat, didengar dan dialaminya kepada orang tua. Sehingga akan lebih mudah bagi orang tua untuk mengontrol dan mencegah masuknya pengaruh negatif dari pergaulannya di luar rumah.

Oleh karena itu, marilah kita mulai benar-benar mendengarkan anak kita. Tidak sulit untuk melakukannya.

Pertama, anda hanya perlu menghentikan kegiatan apapun yang sedang anda lakukan ketika ia ingin berbicara pada anda.

Kedua, hadapkanlah tubuh dan wajah anda kepada mereka. Tataplah matanya. Jika memungkinkan, posisikanlah tubuh anda sejajar dengan tubuh mereka.

Ketiga, biarkanlah ia berbicara sampai selesai. Jangan memotong, jangan memberi saran sebelum diminta. Berilah hanya komentar-komentar seperti: ‘woow …’ , ‘oooh …’ , ‘lalu ?’, ‘mmm …’, ‘begitu ya…’. Dan biarkan ia menceritakan semua ceritanya.

Keempat, gunakanlah bahasa tubuh yang sesuai dengan ceritanya. Tersenyumlah bila cerita itu gembira, tertawalah bila ia bercerita sesuatu yang lucu dan tunjukkanlah raut wajah sedih bila cerita itu sedih.

Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai dengan cerita, biasa disebut bahasa empati.

Anda pasti ingat dengan hukum alam kehidupan ini: what you give, you get back. Apa yang anda berikan, itulah yang akan anda dapatkan. Jika kita melakukan bahasa empati ini kepada anak, tentunya anak pun akan mendengarkan apa yang kita ucapkan dengan empati. Menyenangkan, bukan ?

comments powered by Disqus

Kisah Mertua dan Menantu

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua. Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Ura

connect with abatasa