Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Sudahkah Anak Kita Cerdas (Bag. 2)

Sudahkah Anak Kita Cerdas (Bag. 2)

Kita sebagai orang tua, pendidik atau siapa pun yang berhubungan dengan upaya pencerdasan anak, maka paragdigma yang harus kita bangun adalah pada dasarnya semua anak-anak memiliki potensi yang sama untuk tumbuh berkembang ...

Kamis, 27 Desember 2007

Kita sebagai orang tua, pendidik atau siapa pun yang berhubungan dengan upaya pencerdasan anak, maka paragdigma yang harus kita bangun adalah pada dasarnya semua anak-anak memiliki potensi yang sama untuk tumbuh berkembang dan berkemampuan cerdas. Howard grder (dalam Michael Pohl, 2000) mengemukakan bahwa kecerdasan seseorang itu tidak tunggal, nnamun ia memiliki kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences/MI) yang meliputi, kecerdasan bahasa, kecerdasan matematika, kecerdasan visual, musikal, kinestetik (tubuh), interpersonal, intra personal atau kecerdasan naturalis. Jadi, sangat memungkinkan jika anak-anak kita mempunyai kelebihan dari sekian jenis kecerdasan yang ada.

Namun, kita semua pun perlu menyadari bahwa kecerdasan tersebut masih belum sempurna. Psikolog Daniel Goleman menemukan konsep terbaru, yakni manusia tidak hanya dapat mengandalkan IQ semata. Untuk menggapai sukses, manusia ternyata memerlukan EQ (Emotional Quotient/ Emotional intelligence) yaitu kecerdasan emosi. Menurutnya, kecerdasan IQ hanya menyumbang sekitar 5-10 persen bagi kehidupan manusia untuk menjadi sukses, di mana selebihnya adalah milik kecerdasan emosi. Lewat kecerdasan emosi, manusia mampu membangun daya empati dan peroses aktualisasi diri dengan orang lain sehingga ia mampu membangun kinerja yang sinergis dengan apa yang dimiliki.

Namun kecerdasan-kecerdasan tersebut (IQ, EQ, atau MI) masih memiki kelemahan yang signifikan. Ukuran IQ memiliki kelemahan dalam hal pemberian peluang emosional seperti: empati, motivasi diri, pengendalian diri dan kerjasama sosial. MI (Multiple Intelligence) masih menonjolkan aspek kognitif sekalipun musik, olahraga dan hubungan antar pribadi dipadandang sebagai kecerdasan jenis tertentu. Sebagaimana ditemui pada konsep IQ dan MI, kecerdasan emosional (EQ) sama sekali menepiskan aspek spiritual seperti: rendah hati, inttegritas, ketulusan/ikhlas, ketundukan dan kepatuhan, serta kebajikan sosial. Padahal, kecerdasan tersebut akan akan memberi kepuasan total bila seseorang sukses. Aspek-aspek spiritual tidak hanya membuat seseorang sukses, tapi dengannya hidup manusia dapat menjadi lebih bahagia. Konsep kecerdasan inilah yang disebut dengan Spiritual Intellegence (kecerdasan Spiritual/SI).

Kecerdasan SI mampu membuat seseorang itu cerdas secara total dan mampu menjadi manusia yang bukan hanya berguna bagi diri sendiri, namun juga bermanfaat bagi yang lain. Dalam terminologi Al Quran kecerdasan inilah yang disebut sebagai Ulil Albab. Seseorang yang cerdas spiritualnya biasanya akan mampu biasanya akan mampu menguak tabir kecerdasan-kecerdasan lain. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadikan anak kita cerdas dan berprestasi, tugas kita adalah mengarahkan apa yang menjadi fitrahnya, yaitu mengabdi dan menyembah kepada Allah SWT.

Misalnya saja ketika anak kita, melatih anak untuk shalat tepat waktu, ia akan belajar mengenal dirinya, proses mendisiplikan diri, hingga bagaimana berkata-kata yang baik. Pada akhirnya ketaatannya kepada Allah akan menjadikannya ta’at dan patuh kepada orang tuanya, menyayangi sesamanya dan makhluk ciptaan-Nya yang lain.

Insya Allah, dengan mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki anak kita dan mengetahui jenis-jenis kecerdasan yang ada, kita sebagai pendidik baik di lingkungan sekolah, rumah tangga ataupun lingkungan masyarakat tidak lagi salah dalam melakukan upaya-upaya pencerdasan anak-anak kita. Wallahu A’lam Bisshawab.

*Pendidik di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Fiyah, Pekanbaru

comments powered by Disqus

Kumpulan Hadits tentang Keluarga

Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya)

connect with abatasa