Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Bercerita, Sudahkah Anda Membiasakannya? (Bag. 1)

Bercerita, Sudahkah Anda Membiasakannya? (Bag. 1)

Di negeri Cina, ada sebuah provinsi yang masyarakatnya masih sarat dan kental memegang nilai-nilai Islam. Padahal, mereka adalah minoritas di negaranya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ternyata diketahui salah satu penyebabnya karena kaum ibu ...

Selasa, 13 November 2007

Kini, banyak anak yang mengidolakan Doraemon, Dora, Kapten Tsubasa hingga Spongbob. Televisi mengambil alih peran orang tua dan menjadi pencerita utamanya. Tak demburu kah Anda?

Di negeri Cina, ada sebuah provinsi yang masyarakatnya masih sarat dan kental memegang nilai-nilai Islam. Padahal, mereka adalah minoritas di negaranya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ternyata diketahui salah satu penyebabnya karena kaum ibu ditempat tersebut seringkali menceritakan kisah atau bercerita pada anak-anaknya. Kisah?

Ya, kisah. Setiap kali anak-anak akan beranjak tidur, para ibu dengan rutin menceritakan kisah para pejuang, tokoh-tokoh muslim pada anak-anak mereka. Hal ’kecil’ itu ternyata mampu membuat nila-nilai rabbniah mengakar pada relung masyarakat agar selalu memegang nilai-nilai tersebut.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Alih-alih bercerita tentang rasul, sahabat, atau tokoh muslim, kita dan anak-anak mungkin lebih mengenal cerita ’Si kancil Curi Ketimun’. Tak berlebih rasanya jika setelah beranjak dewasa muncul cerita plesetan ”Si Tansil Curi Triliyun”.

”Ini memang sekadar anekdot. Namun mungkin saja terjadi dalam kehidupan nyata. Buktinya sekarang, otak kancil masih merajalela. Tanpa sadar kita sering dididik untuk menjadi licik, bukan cerdik. Tambah lagi, cerita-cerita rakyat pada umumnya sangat kentara dengan nilai-nilai syirik” ujar Wuntat Wawan Sembodo, S.Ag. seorang pencerita asal Yogya yang kerap diundang ke berbagai tempat untuk bercerita di depan anak-anak.

Tuhan Saja Berkisah

”Goyaaaang dombleeeet... goyaaaang dombleeeet” suara farah yang cadel melantukan sebuah lagu dangdut tempo dulu. Bunda tentu kaget bukan kepalang. Apalagi menyaksikan tubuh Farah bergoyang-goyang, seakan mengikuti irama nyanyiannya sendiri.

Selama ini Bunda merasa tidak pernah mengajarkan nyanyian semacam itu pada Farah. Kalaupun ngajak bernyanyi, tentu hanya dari dari film-film animasi islami yang Farah miliki. Selidik punya selidik ternyata beberapa tetanggalah yang mengajari anak berusia 4 tahun itu.

Mau main larang langsung, tak mungkin. Bunda paham, Farah termasuk anak yang sangat sensitif. Bukannya berhenti, ia justeru semakin menjadi dan penasaran bila dilarang tegas. Tring... serasa ada bohlam berpijar di atas kepala. Alhamdulillah...sini yuk. Bunda punya cerita. Mau dengar?”

***

Rupanya, sebagai seorang ibu, Bunda Farah sangat paham bahwa sangat mudah menerapkan nilai pada sang anak jika menggunakan metode bercerita. Berdasar pengalaman interaksi dengan anak, Wuntat menyimpulkan bahwa cerita biasanya akan lebih berkesan bagi anak dibanding lewat nasehat murni. Selain itu, lewat cerita, anak dapat mengambil hikmah tanpa kesan digurui.

Sebagian kita mungkin menganggap, metode berkisah hanya cocok bagi anak-anak. Padahal, kalau mo jujur, orang dewasa pun biasanya akan lebih tersentuh bila seorang da’i menyisipkan sebuah kisah dalam cermahnya. ”Bahkan, kalau ngobrol dengan teman, tanpa sadar kita selalu menyisipkan kisah. Malah, sering pula kebablasan dan akhirnya jadi gosip” ujar pria yang dkenal dengan sebutan Ustadz Wuntat ini kepada Auladi.

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa