Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Parenting»Sudahkah Anak Kita Cerdas (Bag. I)

Sudahkah Anak Kita Cerdas (Bag. I)

Setiap orang tentu meginginkan anak-anaknya tumbuh cerdas dan berprestasi. Berbagai cara ditempuh sebagai upaya untuk mewujudkan keinginan tersebut. Misalkan saja mengikutsertakan anak-anak mereka ke berbagai tempat ...

Selasa, 30 Oktober 2007

Setiap orang tentu meginginkan anak-anaknya tumbuh cerdas dan berprestasi. Berbagai cara ditempuh sebagai upaya untuk mewujudkan keinginan tersebut. Misalkan saja mengikutsertakan anak-anak mereka ke berbagai tempat bimbingan belajar, mengundang guru les dan lain sebagainnya. Hal ini tak lain sebagai upaya orang tua agar anak-anak mereka memperoleh nilai rapor teringgi di sekolah. Seringkali orang tua menganggap, anak yang mendapat nilai rapor tertinggi di sekolah sebagai bukti keberhasilan. Pada akhirnya, mereka merasa telah memiliki anak yang cerdas dan berpretasi.

Sangatlah wajar bila orang tua sangat menginginkan anak-anak mereka berprestasi dan cerdas. Namun, yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana jika anak-anak mereka tidak mampu memenuhi semua keinginan orang tua? Apa yang terjadi jika anak ternyata hanya mampu mendapat angka ’merah’ untuk nilai matematika di rapor? Tak sedikit orang tua yang kemudian cenderung menjastifikasi anak mereka sebagai anak bodoh, anak pemalas atau bentuk-bentuk jastifikasi lainnya.

Disadari atau tidak, orang tua sedang membuat label bodoh pada diri anak, sehingga akhirnya anak pun akan kehilangan kemampuan diri. Setiap kali anak dihadapkan pada sebuah tangtangan, ia cenderung menganggap dirinya tidak mampu dan enggan mencoba karena sudah merasa bodoh. Jika ini terjadi, lantas siapa yang bersedia disalahkan?

Paradigma kecerdasan anak bagi sebagian besar orang tua adalah ketika anak-anak mereka memiliki nilai rapor yang bagus, penurut, patuh, pendiam, atau tidak banyak tingkah. Umumnya anak-anak yang demikian dipandang sebagai anak yang shaleh yang menjadi kebanggan kedua orang tua.

Padahal, kecerdasan anak tidak bisa dengan mudah diukur oleh seberapa hebat kemampuan matematikanya. Masih banyk aspek lainnya yang dimiliki oleh anak-anak kita. Anak bisa saja memiliki kecerdasan dalam bahasa, memiliki kemampuan dalam berseni, memiliki kemampuan dalam olah fisik (seperti olah raga) dan sebagainya.

Maka, sangat tidak pantas dan mendasar jika orang tua memarahi anak hanya karena alasan nilai pelajaran matematika di rapor berwarna merah. Sedangkan di satu sisi dalam pelajaran olahraga ia mendapat nilai 8. Ada pula anak yang memiliki kemapuan sosial yang tinggi, ia suka menolong kawan-kawannya di sekolah, namun dalam berhitung ia sealu lamban dan seringkali mendapat nilai di bawah rata-rata dan sering pula merah. Lantas, apakah kita harus serta merta mengatakan anak itu bodoh? (bersambung...)

*Pendidik di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Fiyah, Pekanbaru

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa