Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Bahagia Melayani Bag. I

Bahagia Melayani Bag. I

Budaya melayani dan menolong (salvation) merupakan bagian dari citra diri seorang muslim. Mereka sadar bahwa kehadiran dirinya tidaklah terlepas dari tanggung jawab terhadap lingkungannya.

Senin, 27 Februari 2012

Budaya melayani dan menolong (salvation) merupakan bagian dari citra diri seorang muslim. Mereka sadar bahwa kehadiran dirinya tidaklah terlepas dari tanggung jawab terhadap lingkungannya. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, mereka menunjukkan sikapnya untuk senantiasa terbuka hatinya terhadap keberadaan orang lain, dan merasa terpanggil atau ada semacam ketukan yang sangat keras dari lubuk hatinya untuk melayani.

Sikap melayani melekat pada fitrah dirinya, sebagaimana setiap hari mini­mal tujuh belas kali kita membaca surah al-Faatihah, sebagai pernyataan dan komitmen yang diungkapkan dengan penuh kesadaran, "Iyyaka na`budu" hanya kepada Engkaulah kami menyembah!"

Kata "abdun" dapat berarti menghamba, taat melayani (sebagaimana se­orang hamba melayani tuannya), berbakti (ta`abud), selalu bersamanya (`abada bihii), atau suatu jalan yang menurun dan rata (thariiqm mu`abbad).

Menarik untuk disimak, pernyataan iyyaka na`budu diungkapkan dalam bentuk jamak. Ada unsur kebersamaan (bukan a`budu `aku mengabdi`). Dalam melayani, ego keakuan kita hilang diganti dengan rasa kebersamaan. Hanya dengan melayani atau saling melayani, niscaya kehidupan kita meningkat menuju keluhuran budaya. Melayani bukan hanya sekadar menunjukkan sikap luar seperti tersenyum, berpakaian rapi, atau hal lain yang seringkali dijadikan tema pelatihan pelayanan prima. Tetapi, yang paling hakiki adalah bahwa "melayani merupakan bentuk keterpanggilan untuk memenuhi janji atau amanah, ungkapan hati nurani dan karenanya merupakan salah satu bentuk ketakwaan seseorang", sebagaimana Allah berfirman, "Siapa yang menepati janji (yang dibuatnya) dan bertakwa, maka sesung­guhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran: 76)

Ungkapan "hanya kepada Engkaulah kami menyembah`," tidak bisa di­buktikan kecuali tampak dalam kesehariannya untuk menunjukkan sikap pelayanan kepada siapa pun tanpa membedakan ras, golongan, maupun agama. Allah berfirman, "Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu terdiri dari laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orangyang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Penyayang." (al-Hujuraat: 13)

Salah satu bentuk kualitas pelayanan adalah tidak pemah tersirat sedikit pun dalam pikiran seorang muslim untuk mengingkari janji. Karena, mengingkari janji termasuk dalam kategori salah satu tanda orang munafik. Padahal, orang yang munafik adalah penduduk neraka Jahannam yang paling nista.

Seorang karyawan yang memiliki nilai takwa tidak mungkin dengan sengaja datang terlambat ke kantor. Karena, hal itu merupakan pelecehan teriiadap dirinya sendiri dan sekaligus memadamkan cahaya hatinya yang selalu tumbuh mekar untuk melayani. Allah berfirman, "Barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia akan melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri." (al-Fath: 10)

Karena itu, mereka yang cerdas secara ruhaniah akan tampak dari sikapnya yang sangat besar perhatiannya terhadap janji dan amanah, "Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (al- Israa`: 34)

Melayani dengan cinta, bukan karena tugas atau pengaruh dari luar. Tetapi, benar-benar sebuah obsesi yang sangat mendalam bahwa "aku ada karena aku melayani".

Bagi mereka, pelayanan merupalan investasi perilaku dirinya. Bertambah banyak mereka mengulurkan tangan dan melayani, maka bertambahlah inves­tasinya. Mereka sadar bahwa pelayanan akan memberikan keuntungan lahir- batin dan akan ada keuntungan nyata dari penanaman modalnya yang berupa pelayanan tersebut.

Dengan penghayatan itu, sadarlah mereka bahwa "siapa pun di luar diri­nya adalah customer" yang berhak mendapatkan pelayanan dirinya. Mereka menyadari bahwa keberadaan dirinya. tidak mungkin berarti kecuali bersama- sama dengan orang lain. Dengan melayani orang lain berarti dirinya ikut diberdayakan menuju kualitas akhlak yang lebih luhur dan bermakna. Jiwanya selalu cenderung untuk memberikan arti bagi orang lain dan lingkungannya,

"Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa."(al-Maa`idah: 2)

Dalam pelatihan service excellent yang saya selenggarakan, motivasi awai kepada para peserta adalah menggugah dirinya sebagai pelayan. Mereka harus memiliki "sense of servitude (service attitude)". Bahkan, salah satu yang mem­bedakan manusia dengan binatang, ada pada sikap dirinya untuk melayani. Kepada para peserta ditanamkan satu kesadaran bahkan komitmen bahwa dirinya hanya mungkin berkembang dan akhlaknya semakin luhur dan berbinar cemerlang dengan semangat pelayanan yang membara di hatinya. Selama pelatihan tersebut, kepada para peserta ditanamkan kesadaran self leadership `kepemimpinan yang dimulai dari diri sendiri` (ibda bin nafsik), kepemimpinan yang dimulai dari dalam keluar. Pandangan yang berorientasi pada "we atti­tude" bukan "I attitude" (kekamian bukan keakuan).

Salah satu ajaran yang diteladankan Rasulullah yang harus ditanamkan sejak dini adalah rasa hormat kita kepada mereka yang lebih tua (senior) dan sangat mengasihi kepada yang kecil (junior). Sikap untuk memuliakan tamu merupakan salah satu mutiara akhlak yang universal. Bermuka manis itu adalah sedekah. Menyingkirkan duri di jalanan adalah bagian dari cabang-cabang iman.

Sikap melayani diteladani pula oleh para sahabat (Khulafaur-Rasyidin), sebagaimana kisah-kisah masyhur yang sering menjadi tema pelajaran akhlak. Betapa Abu Bakar ash-Shiddiq membantu untuk memerah susu kambing, walaupun ia sudah menduduki jabatan sebagai khalifah. Begitu juga dengan Umar ibnul-Khaththab yang mengangkut sendiri karung gandum untuk diberi­kan kepada seorang ibu yang memelihara anak-anak yatim dan menderita kelaparan (diriwayatkan bahwa ibu tersebut memasak batu untuk menghibur anak asuhnya). Begitulah jiwa pelayanan melekat sebagai kepribadian yang tidak terpisahkan dalam rindunya untuk berjumpa dengan Allah.

* KH. Toto Tasmara, Penerbit Gema Insani Press

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa