Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Kebutuhan Terhadap Doa

Kebutuhan Terhadap Doa

Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan mengharap. Ia selalu membutuhkan sandaran, lebih-lebih pada saat-saat ia merasakan kecemasan atau mendambakan harapan. Kenyataan sehari-hari

Jum'at, 30 Desember 2011

Wujud Tuhan yang mutlak dan dirasakan oleh jiwa manusia, serta keyakinan akan adanya hukum-hukum alam yang ditetapkan- Nya, tidak boleh mengantar manusia meng­abaikan doa. Karena, keberlakuan hukum- hukum itu tidak mengakibatkan terbebasnya Tuhan dari perbuatan dan kebijaksanaan-Nya. Apakah Anda menduga Allah seperti pabrik yang memproduksi "jam" kemudian membiar­kannya berjalan secara otomatis di tangan Anda? Jangan menduga demikian! Ada sunnatullah (hukum-hukum Allah) yang meng­atur alam raya, dan ada pula ’inayatullah atau
pertolongan-Nya. Dan itu ditujukan kepada mereka yang benar-benar berdoa kepada-Nya.

"Keliru," tulis Oliver Lodge, seorang ahli ilmu alam, "mereka yang menduga bahwa shalat atau doa berada di luar fenomena alam ini. Kita harus memperhitungkannya, seperti memperhitungkan penyebab peristiwa lain yang terjadi dalam kehidupan manusia. Kalau doa dinilai sebagai salah satu sarana pendi­dikan kejiwaan, maka mengapa orang yang menentangnya tidak menduga bahwa ia pun dapat merupakan sebab untuk terjadinya beberapa kejadian, sebagaimana sebab yang lain?"

Manusia, lebih-lebih para ilmuwan, mem­butuhkan kepastian tentang tata kerja alam ini demi pengembangan ilmu dan penerapannya. Kepastian ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan tentang wujud Pengendali dan Penguasa Tunggal Yang Maha Esa lagi Mahakuasa, yaitu Allah Swt.

Doa menggambarkan pemahaman sese­orang menyangkut tata kerja alam raya ini, yang berfungsi antara lain memberikan kete­nangan dan kemantapan kepada manusia khususnya para ilmuwan. Karena itu, "permo­honan kepada Yang Maha Esa merupakan pertanda kemajuan pemikiran manusia dalam memahami tata kerja alam raya ini."

Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan mengharap. Ia selalu mem­butuhkan sandaran, lebih-lebih pada saat-saat ia merasakan kecemasan atau mendambakan harapan. Kenyataan sehari-hari membuktikan bahwa bersandar kepada makhluk, betapapun kuat dan berkuasanya, sering kali tidak mem­buahkan hasil. Yang mampu memberi hasil hanyalah Tuhan semata.

Yang kamu seru selain Allah tidak memiliki apa- apa walau setipis kulit ari sekalipun. Jika kamu meminta kepada mereka, mereka tidak mendengar permintaanmu dan kalau pun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan (QS Fathir [35]: 13-14).

 

Disadur dari buku Haji Bersama M. Quraish Shihab, Penerbit Mizan.

comments powered by Disqus

Ciri-ciri Ahli Ma`rifat

Hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki. Karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. Bila hati sudah terisi dunia, Allah tidak mau mengisinya. Begitu pun cinta kepada manusia,

connect with abatasa