Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Haji dan Kemanusiaan

Haji dan Kemanusiaan

Ibadah haji dikumandangkan oleh Ibrahim.a.s. sekitar 3600 yang tahun lalu. Sesudah masa beliau, praktik-praktiknya sedikit atau banyak telah mengalami perubahan, namun kemudian diluruskan kembali oleh Nabi Mu­hammad Saw.

Senin, 05 Desember 2011

Ibadah haji dikumandangkan oleh Ibra­him a.s. sekitar 3600 yang tahun lalu. Sesudah masa beliau, praktik-praktiknya sedikit atau banyak telah mengalami perubahan, namun kemudian diluruskan kembali oleh Nabi Mu­hammad Saw. Salah satu yang diluruskan itu adalah praktik ritual yang bertentangan de­ngan penghayatan nilai kemanusiaan univer­sal. Al-Quran Surah Al-Baqarah (2): 199 me­negur sekelompok manusia (dikenal dengan nama Al-Hummas) yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wukuf. Me­reka melakukan wukuf di Muzdalifah, sedang orang banyak di ’Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi oleh perasaan superioritas itu dicegah oleh Al-Quran dan turunlah ayat tersebut:



Bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang- orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Baqarah [2]: 199).

Tidak jelas apakah praktik bergandengan tangan saat melaksanakan thawaf pada tahap awai sejarah Islam tersebut bersumber dari ajaran Ibrahim a.s., dalam rangka mempererat persaudaraan dan rasa persamaan, atau bu­kan. Namun yang jelas, Nabi Saw. memba­talkannya bukan dengan tujuan membatalkan persaudaraan dan persamaan itu, tetapi agak­nya karena alasan-alasan praktis pelaksanaan thawaf.

Tentu makna kemanusiaan dan penga­malan nilai-nilainya tidak hanya terbatas pada persamaan nilai antara seseorang dengan yang lain, tetapi kemanusiaan mengandung makna yang jauh lebih dalam dari sekadar persamaan tersebut. Ia mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya, bermula dari kesadaran akan fitrah atau jati dirinya serta keharusan menye­suaikan diri dengan tujuan kehadiran manusia di pentas bumi ini.

Kemanusiaan mengantar putra-putri Adam untuk menyadari arah yang dituju serta perjuangan untuk mencapainya. Kemanusia­an menjadikan makhluk ini memiliki moral serta berkemampuan memimpin makhluk- makhluk lain untuk mencapai tujuan pencip- taan. Kemanusiaan mengantarkannya untuk menyadari bahwa ia adalah makhluk dwi- dimensi yang harus dilanjutkan evolusinya hingga titik akhir. Kemanusiaan mengantar­kannya untuk sadar bahwa ia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi.

Makna-makna di atas dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan nonritual, baik dalam bentuk nyata maupun simbolik, baik yang berupa kewajiban untuk melaksanakan­nya maupun larangan untuk melakukannya.

 
Disadur dari buku Haji Bersama M. Quraish Shihab, Penerbit Mizan.

comments powered by Disqus

Kumpulan Hadits tentang Keluarga

Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya)

connect with abatasa