Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Tanggungjawab Mereka Terhadap Visi...

Tanggungjawab Mereka Terhadap Visi...

Inilah makna lain dari pengertian takwa yang lebih bersifat workable, membumi, dan nyata. Ia tampak dari sikap dan tindakannya untuk memenuhi amanah dan melaksanakan atau membumikan pernyataan visi yang ditetap­kannya ...

Selasa, 22 November 2011

Inilah makna lain dari pengertian takwa yang lebih bersifat workable, membumi, dan nyata. Ia tampak dari sikap dan tindakannya untuk memenuhi amanah dan melaksanakan atau membumikan pernyataan visi yang ditetap­kannya dengan penuh tanggung jawab. Karena mereka yang cerdas secara ruhaniah, memiliki kepedulian terhadap akhirat setinggi kepeduliannya ter­hadap duniawi.

Seseorang tidaklah disebutkan cerdas secara ruhani, bila hanya peduli dengan akhirat tetapi membutakan dirinya terhadap misinya di dunia. Tujuan hidup yang hakiki adalah menetapkan target yang tinggi terhadap pengharapan ke akhirat, tetapi dalam kesehariannya mereka menampakkan rasa tanggung jawab moralnya dalam mengarungi samudra dunia. Untuk meraih ketinggian atau keluhuran hati nuraninya, hanya mungkin dibuktikan dalam kehidupan­nya secara nyata dengan dunia.

Bahkan, mereka menyadari posisi dirinya sebagai khalifah yang harus menundukkan dunia, bukan sebaliknya dirinya tertawan menjadi budak dunia. Mereka tidak ingin dikasihi atau mengemis kepada dunia. Tetapi, dengan iman, ilmu, dan amalnya yang prestatif kuat, mereka justru menjadikan dunia mengemis kepadanya. Karena, seseorang yang hanya mempedulikan norma- norma akhirat tanpa bukti nyata dan keterlibatannya dalam urusan dunia, adalah para pemimpin yang buta.



Diagram di atas memberikan pengertian sebagai berikut.

  1. Buta adalah tipe manusia yang hanya mempedulikan atau menyibukkan diri dengan urusan ritual (pada skala tinggi), tetapi kepedulian dan aktualisasinya terhadap dunia sangat rendah, sehingga nurani mereka terhadap persoalan yang berkaitan dengan kemasyarakatan maupun ekologi cenderung terlepas dari perhatian dirinya. Mereka beragama tetapi tidak mau berkorban, "religion without sacrifice"sebagaimana dikata­kan Mahatma Gandhi. Kepedulian atau keterlibatannya yang hanya terfokus pada daerah habluminallah tanpa sedikit pun bertancgung jawab terhadap masalah keduniaan, dapat me­nimbulkan dorongan atau kecenderungan pada fanatisme yang sempit. Mereka terpuruk dalam abstraksi yang fanatikdan kemudian menutup diri dari segala gagasan, saran, dan kerja sama yang mengajak dirinya terlibat dalam hal kemasyarakatan.
  2. Kufur adalah tipe manusia yang kepedulian dan keterlibatannya pada urusan dunia dan akhirat sangat rendah Mereka mudah terprovokasi, bertindak agresif, dan larut dalam suasana masaa. Mereka bagaikan "zombi", mayat hidup yang hanya memenuhi hiruk-pikuk dunia, tetapi tidak memberikan makna terhadap misi kehidupan diri dan orang lain. Ke dalam tak mengganjilkan, keluar tak menggenapkan. Ada dan tiadanya sama saja tidak memberikan pengaruh (wujuduhu kaadamihi). Hati mereka sungguh mempunyai penyakit, bahkan telah terkunci sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 7.
  3. Hedonis adalah tipe manusia yang mempunyai keterlibatan dan kepedulian tinggi dalam hal duniawi. Mereka memiliki kekayaan secara materi, tetapi rendah secara moral, sehingga cenderung menjadi tipe manusia yang haus akan kekayaan, ke­dudukan, dan kekuasaan. Mungkin saja mereka cerdas secara intelektual, tetapi bodoh secara spiritual. Hidup hanya mengejar kesenangan atau kenikmatan yang sementara, berjangka pendek, dan fana (hedonis). Lord Aton berkata "Power tends to corrupt, absolute power, corrupt absolutely."
  4. Muttaqiin adalah tipe manusia yang ideal, bertanggung jawab secara berke­seimbangan antara kepeduliannya yang tinggi terhadap akhirat dan pencapaian amal prestatifnya di dunia. Mereka selalu cenderung untuk berorientasi pada pencapaian prestasi (achievement orientation) yang tetap konsisten menjadikan "akhirat" sebagai ultimate goal dengan cara membuktikannya secara aktual dalam hubungannya de­ngan manusia dan alam.
Mereka adalah tipe manusia cerdas secara ruhani yang selalu mengarahkan sikap dan tindakannya secara berkesimbangan, mengarah, dan berupaya sekuat tenaga untuk menjadi orang-orang yang bertanggung jawab (al-muttaqiin).

 
* KH. Toto Tasmara, Penerbit Gema Insani Press

comments powered by Disqus

Keajaiban-Keajaiban Dunia Ketika Rasulullah S.A.W Dilahirkan

Kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. pada 12 Rabiulawal, Tahun Gajah di Mekah al-Mukarramah sebagai pembuka rahmat di pelosok alam semesta. Kelahiran baginda menjadi seribu satu tanda bahwa baginda akan menjadi utusan terakhir dala

connect with abatasa