Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Menyadari "Keterbatasan" Diri

Menyadari "Keterbatasan" Diri

Saudaraku, sesuatu yang wajar jika setiap diri memiliki keinginan, cita-cita, rencana untuk meraih sesuatu dalam hidupnya. Bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia dan akhirat....

Senin, 18 Juni 2007

Saudaraku, sesuatu yang wajar jika setiap diri memiliki keinginan, cita-cita, rencana untuk meraih sesuatu dalam hidupnya. Bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia dan akhirat.

Karena tugas hidup kita di dunia ini memang hanya dua, pertama senantiasa meluruskan niat dan kedua, menyempurkan ikhtiar. Dan, jika kita berupaya semaksimal mungkin, apa yang menjadi keinginan kita, Insya Allah akan terwujud.

Namun, bersamaan dengan kepercayaan diri untuk mengoptimalkan ikhtiar, kita, sebagai manusia juga harus menyadari bahwa kita diciptakan dengan beragam keterbatasan. Kadangkala, terjadi sesuatu di luar jangkauan akal dan pikiran manusia.

Atau malah ada sebuah kondisi dimana kita telah mengerahkan seluruh kemampuan, tapi tidak kunjung berhasil. Saat ini kesadaran kita sebagai manusia biasa dengan banyak kekurangan harus dibangkitkan. Tanpa kesadaran ini, hidup kita akan dipenuhi rasa galau, gelisah, resah.

Betapa ruginya jika hidup yang sekali-kalinya ini dihiasi perasaan negatif seperti itu, hanya karena sebuah kejadian, atau peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Selama kita hidup, peristiwa-peristiwa di luar kehendak kita pasti akan terjadi lagi, karena kita, manusia memang tidak berdaya upaya apapun.

Sadari seyakin-yakinnya, bahwa Allah SWT mempunyai rencana tersendiri bagi setiap diri kita. Dan, apapun yang terjadi adalah salah satu bagian dari rencana Allah. Oleh karena itu, fa idza azzamta fatawakkal Alallah. Bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar kita, dan pasrahkan hati hanya kepada ketentuan terbaik dari Allah.

Segala sesuatu yang kemudian terjadi, bukanlah sebuah masalah, karena itulah keputusan terbaik dari Allah bagi kita, hamba yang disayangi-Nya.

Sekalipun kita bersikeras tidak mau menerima kehendak-Nya, namun bisa jadi memang hal itu yang terbaik bagi kita. Sebaliknya kita sangat menyukai sesuatu, namun boleh jadi sesuatu itu akan menjadi sebuah keburukan bagi kita.

Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Baqarah: 216,"...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," Wallahu'alam bishawab.

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa