Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Puasa dan Pengendalian Diri   

Puasa dan Pengendalian Diri   

Saudaraku, ibadah puasa merupakan bagian dari pendidikan membentuk insan sempurna (insan kamil) yakni upaya memanusiakan manusia menjadi makhluk yang utuh sebagai khalifah di muka bumi ini.

Senin, 11 September 2006


Saudaraku, ibadah puasa merupakan bagian dari pendidikan membentuk insan sempurna (insan kamil) yakni upaya memanusiakan manusia menjadi makhluk yang utuh sebagai khalifah di muka bumi ini. Kehendak untuk menjadi hamba yang sesungguhnya dan khalifah adil dan amanah harus menempuh berbagai proses sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.
 
Melalui proses pengendalian diri dalam berpuasa, kaum muslimin akan mampu memposisikan dirinya sebagai khalifah ditengah-tengah manusia. Melalui proses puasa juga bisa memperhalus perasaan, mempertajam daya pikir, dan meningkatkan solidaitas kepada sesama manusia. Itulah sebabnya bagi mereka yang sedang menjalankan puasa, Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk senantiasa melakukan berbagai ibadah lainnya hingga bisa menggapai gelar insan takwa.
 
Manusia yang sanggup menghadirkan perasaan serta jiwa dengan Allah, ia membangun kesadaran dalam semua situasi, pikiran, dan sikap maupun perilaku di mana pun dan kapan pun senantiasa terkontrol oleh kesadaran dirinya akan kehadiran sang pencipta. Sedangkan manusia takwa yakni mampu memainkan fungsi-fungsi kekhalifahannya melalui proses hubungan sosial yang diperankannya.
 

Taqwa yang disyariatkan pada dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah:183 bukanlah rumusan yang nyata, namun bisa diamati dan dirasakan dalam berbagai kehidupan sosial. Sehingga, orang yang bertaqwa bukan hanya terpaku kepada upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah mahdlah saja melainkan juga menyatukan dirinya dalam kehidupan di masyarakat. Wallahu a`lam bish showab
 

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa