Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Menjadikan Hidup Lebih Bermakna

Menjadikan Hidup Lebih Bermakna

Semua manusia diberi waktu yang sama, 1 hari 24 jam. Ada yang dalam satu hari bisa mengurus negara, atau mengurus perusahaan raksasa. Tapi ada yang dalam satu hari mengurus diri sendiri saja tidak bisa.

Kamis, 29 Desember 2005

Alangkah beruntung seseorang yang dikaruniai Allah kemampuan untuk memanfaatkan waktu hidup sebelum waktu matinya. Dia senantiasa memanfaatkan setiap detik dari waktunya sebaik mungkin. Memanfaatkan setiap helaan nafasnya secermat mungkin. Hal tersebut hanya dimiliki oleh seseorang yang terampil memainkan hidup. Sesungguhnya modal kita adalah umur dan waktu. Semua manusia diberi waktu yang sama, 1 hari 24 jam. Ada yang dalam satu hari bisa mengurus negara, atau mengurus perusahaan raksasa. Tapi ada yang dalam satu hari mengurus diri sendiri saja tidak bisa. Sebodo-bodo manusia adalah yang diberi modal tapi kemudian dihambur-hamburkannya. Modal itu adalah waktu. Waktu sangat berharga. Tidak layak kita melakukan sesuatu kecuali yang berharga.
 
Allah Yang Maha Adil telah melimpahkan karunia pada hamba-Nya tanpa pilih-pilih. Dia telah memberikan kesempatan, waktu yang sama. Dia pun telah memberikan keterampilan yang beraneka ragam bagi siapa pun. Dia juga telah membekali manusia dengan akal yang sempurna. Namun, tidak semua orang pandai memanfaatkannya. Banyak waktu, kesempatan terbuang dengan sia-sia, banyak potensi yang diabaikan begitu saja, dan tidak sedikit keterampilan yang dibekukan.
 
Hal tersebut terjadi karena ketidaktahuan akan tujuan hidup. Tidak tahu mau dibawa ke mana raga, pikiran, dan harapan. Sangat disayangkan. Sementara waktu bergulir begitu cepat. Kalau tidak dicari tahu ilmunya, bersiap-siaplah untuk terlunta-lunta. Tanpa tujuan yang jelas. Lalu, bagaimana caranya agar potensi yang ada dapat bermakna?
 

Hal pertama
dan terutama yang harus kita ketahui dan pahami yaitu mengetahui tujuan hidup. Untuk apa kita hidup? Apa yang akan kita lakukan selama hidup? Apakah mau mencari ridha Allah SWT atau hanya sekedar mencari kehidupan dunia? Tujuan hidup akan sangat menentukan seperti apa kelak kita dihadapan Allah. Pandai-pandailah memanfaatkan potensi. Sesungguhnya potensi atau keterampilan sudah ada, tinggal sungguh-sungguh mengoptimalkannya. Setiap manusia ketika lahir kedunia dibekali Allah SWT dengan bermacam potensi. Semua tergantung kita, apakah akan memanfaatkannya atau tidak.

 

Kedua, buat perencanaan dan target. Misalnya kita ingin menjadi hamba yang dicintai Allah SWT. Maka buat perencanaan amal yang nyata. Baik amal ibadah mahdhah maupun ghair mahdhah. Ringannya mulai dari aktivitas yang kita kerjakan sehari-hari dulu. Bejibun pekerjaan yang ada di hadapan. Akan menumpuk pada suatu waktu di kala tidak ada perencanaan yang jelas. Walaupun target tinggi, tetap saja keberhasilan tidak akan tercapai. Untuk itu matangkan setiap rencana jangan sampai gagal. Sebagaimana pepatah “Gagal dalam perencanaan berarti merencanakan kegagalan”.
 

 Ketiga,
tampil istiqomah, konsisten. Kita menjadi lemah salah satu sebabnya karena mudah sekali terpengaruh dan tidak memiliki keteguhan dalam berprinsip. Pentingnya tampil istiqomah ini ketika dihadapkan pada hambatan dan rintangan hidup.
 
 Dengan demikian, yang menjadikan hidup seseorang tidak bermakana karena ketidakjelasan tujuan hidup. Orang yang tidak memiliki tujuan hidup, hidupnya tidak akan terarah. Sebaliknya, orang yang punya tujuan hidup akan senantiasa tenang menjalanni hidup, karena orientasinya jelas. Ketika Allah menjadi tujuannya, maka semua apa yang dilakukan akan senantiasa terfokus untuk mendapat ridho Allah semata. Jadilah orang yang terampil membuat cita-cita, terampil menyusun rencana, dan terampil istiqomah, konsisten, tidak mudah terpengaruhi.
Wallahu a`lam bish showab 
 

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa