Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Krisis Keimanan

Krisis Keimanan

Saudaraku yang baik, semoga apa yang disampaikan saat ini membuat kita semakin tahu bahwa sesungguhnya tiada yang tertukar dalam hidup ini. Setiap sesuatu ada porsi dan tempatnya sendiri-sendiri.

Rabu, 20 Juli 2005

 
Saudaraku yang baik, kita semua telah mengetahui dan menyaksikan bala-bencana silih berganti mendera bangsa kita. Belum reda kita dihantam satu bencana, sudah menyusul bencana yang paling dahsyat bahkan menjadi perhatian dunia internasional, bencana gelombang tsunami melanda Asia khususnya Nanggroe Aceh Daarusalam. Bencana ekonomi membuat jutaan manusia menganggur, lapangan pekerjaan sulit didapatkan, bahkan ada yang terjerumus kedalam kejahatan dan kehinaan. Bencana budaya membuat orang larut dalam maksiat dan sebagian mereka mati berlumur dosa.Bencana politik membuat sekelompok orang hilang kesadaran. Dengan ringan mereka menjegal tubuh-tubuh sesama saudaranya sendiri dengan kekejaman yang tidak mampu dibahasakan dengan bahasa manusia.

Di luar itu semua, kita masih berhadapan dengan gelombang bencana alam yang datang susul-menyusul. Seolah tidak memberi kita jeda waktu walau sebentar saja. Bencana alam datang tanpa seorangpun bisa menerka kedatangannya. Tiba-tiba dia muncul, melenyapkan semua kesenangan yang kita nikmati.

Sungguh, di hamparan bencana-bencana yang memilukan ini, tidak ada lagi kesombongan yang angkat bicara. Perhatikan, adakah manusia yang paling cerdas otaknya, paling kuat tubuhnya dan yang paling licik siasatnya, adakah mereka sanggup menahan gelombang bencana ini? Multi bencana yang selama ini terjadi, ada yang menyebutnya sebagai krisis ekonomi, krisis politik atau krisis apa saja. Namun, pada hakikatnya, ini adalah krisis iman. Bangsa kita belum mengenal tuhannya dengan baik. Dia tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik. Dan sejak lama bangsa kita belum mengenal jalan untuk hidup secara benar. Lihatlah, bagaimana hidup di dunia ini telah diurus dengan cara yang kurang tepat. Selama ini kita tidak memberi tempat yang pantas untuk mengenal Allah. Justru yang sangat kita agung-agungkan adalah harta, pangkat dan kedudukan. Apa yang kita kenal tak lebih dari perhiasan duni belaka.

Maka tidak usah heran, kekayaan negeri yang begitu melimpah sebagai karunia Allah, tiba-tiba berubah menjadi bala-bencana yang mengerikan. Negara yang kaya tiba-tiba jadi miskin, penuh tumpukan hutang. Negara yang subur makmur, tenggelam dalam banjir. Semua ini mengisyaratkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kurang bersyukur. Saat ini, saudarku, kita tengah berada di hamparan tanah yang gersang, yang untuk mendapatkan ketenangan saja sulit. Kita justru tenggelam dalam kesulitan tersebut.

Saudaraku yang baik, semoga apa yang disampaikan saat ini membuat kita semakin tahu bahwa sesungguhnya tiada yang tertukar dalam hidup ini. Setiap sesuatu ada porsi dan tempatnya sendiri-sendiri. Bala dan bencana tidak akan menimpa kecuali akan kembali kepada pembuatnya sendiri. Mengutuk, menyalahkan, mencemooh, silahkan saja sesuka kita. Namun ingat, semua itu tidak akan berguna untuk menyelesaikan masalah. Masalah utama kita bukan pada orang lain, namun lebih pada hati kita masing-masing yang rusak digerogoti penyakit. Bangsa yang kurang iman akan tercermin dari kualitas akhlaknya. Iman yang buruk pasti melahirkan akhlak yang rusak. Jika akhlak sudah rusak, manusia akan kehilangan sifat amanah. Ketika dititipi uang, uang itu akan segera lenyap dengan tidak jelas hasilnya. Maka tidak akan pernah benar bangsa ini, jika tidak pernah bersungguh-sungguh kembali kepada Allah dengan menjadikan prinsip perbaikan akhlak sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara. Kita berharap semoga bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat, bersih makmur, taat dan bersahabat. Amin…Wallahu a`lam.

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa