Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Meringankan Duka Aceh

Meringankan Duka Aceh

Segalanya dari Allah dan kembali kepada Allah tiada satupun terjadi karena izin Allah dan kini Allah menimpakan ujian itu kepada kita.

Rabu, 20 Juli 2005

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, dimana pun berada di penjuru bumi ini, inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Segalanya dari Allah dan kembali kepada Allah tiada satupun terjadi karena izin Allah dan kini Allah menimpakan ujian itu kepada kita.

Hikmah dari kejadian yang menimpa Aceh ini, yang pertama menjadi peringatan bagi siapapun yang selama ini lalai lupa bahkan mengkhianati Allah dengan kesombongan, ketakaburan, karena merasa besar dan merasa perkasa. Terbukti kini, kita hanya mahluk lemah yang tiada berdaya.

Oleh karena itu mari kita jadikan musibah besar ini membuat kita semakin tertunduk, rendah hati, gemar bersujud. Ketahuilah saudaraku, orang yang rindu selalu bersimpuh agar mendapat pertolongan Allah. Setiap saat, setiap waktu. Karena, tiada mungkin kemuliaan diraih dengan kesombongan. Kemuliaan diraih justru dengan ketundukan dan kerendahan hati.

Hikmah yang kedua, bangsa kita sudah terlalu lama saling melukai, mencabik-cabik dan saling memusuhi. Inilah saatnya Allah mempersatukan kita dengan tujuan yang mulia, bahu membahu menolong saudara kita yang ditimpa musibah.

Hikmah yang ketiga, kita pun sudah terlalu lama membutakan hati kita dengan duniawi, dengan memuaskan nafsu. Dan inilah saatnya Allah membukakan pintu hati. Agar nurani kita peka dan peduli atas derita yang menimpa saudara-saudara kita.

Saudaraku, Aceh adalah tempat yang penuh dengan nestapa. Kini saatnya kita bersatu padu mengulurkan tangan. Menatap dengan penuh cinta dan kasih sayang, serta menyingsingkan lengan kita untuk bahu-membahu, berbuat sesuatu dari apa saja yang kita mampu. Semoga rakyat Aceh bisa merasakan kasih sayang yang tulus, perjuangan kita semua, dalam mengentaskan derita yang tak terperikan ini. Oleh karena itu, jangan sia-siakan saudaraku, inilah kesempatan yang sangat mahal dalam hidup kita. Apalah artinya kita makan nikmat, jikalau pada saat yang sama saudara kita kelaparan dan kehausan, tanpa sekeping makanan pun didapat. Sungguh tak berhati nurani jikalau kita tidur nyenyak dan kita lupakan penderitaan saudara-saudara kita yang kedinginan, menggigil, membeku. Sungguh tidak berhati nurani andaikata kita terbahak-bahak, berhura-hura, gembira ria, dan melupakan saudara kita yang benar-benar merintih dalam keadaan duka nestapa yang amat sangat.

Saudaraku, inilah kesempatan kita menebus dosa-dosa kita. Kita tebus segala kealpaan kita selama ini dengan bertobat, dan diantaranya dengan menolong saudara-saudara kita. Tidak penah ada balasan yang tertukar kecuali tepat kepada pelakunya. Tapi sekecil apapun kebaikan dari hati yang tulus, Allah jua yang akan melipat gandakan. In tanshurullaaha yanshurkum.

Saudaraku sekalian, marilah kita lihat apa saja yang bisa kita lakukan. Jangan sia-siakan kesempatan menghidupkan hati nurani kita. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Karena saudara-saudara kita amat menanti uluran tangan kita. Inilah kesempatan termahal dalam hidup kita untuk menjadi manusia bermartabat, berhati nurani, dengan menolong sesama. Datangilah tempat-tempat terdekat, wahai saudara-saudaraku. Lakukan apa saja yang kita sanggup, dengan hati yang tulus.

Selamat berjuang untuk memanfaatkan kesempatan mulia ini. Alhamdulillaahirrabbil`aalamiin.

Doc Photo : Yuwarlina

comments powered by Disqus

Ciri-ciri Ahli Ma`rifat

Hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki. Karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. Bila hati sudah terisi dunia, Allah tidak mau mengisinya. Begitu pun cinta kepada manusia,

connect with abatasa