Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Merendahkan Diri terhadap Orang Tuadengan Penuh Kesayangan

Merendahkan Diri terhadap Orang Tuadengan Penuh Kesayangan

Berdasarkan atsar yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adabul Mufrad dengan sanad yang shahih, dari Urwah ibnuz Zubeir, bahwa maksud firman-Nya, "Dan Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan,"

Minggu, 20 September 2015

Berdasarkan atsar yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adabul Mufrad dengan sanad yang shahih, dari Urwah ibnuz Zubeir, bahwa maksud firman-Nya, "Dan Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan," adalah jangan sampai Kamu menghalangi keduanya dari sesusatu yang mereka sukai.

Pendapat Ulama Tentang Merendahkan Diri di hadapan Orang Tua

Pendapat Ibnu Katsir rahimahullah tentang maksud firman Allah Ta’ala ini adalah berlaku redah hati kepada keduanya. Sedangkan, pendapat Imam al-Qurtubi tentang maksud firman Allat Ta’ala yang berbunyi, "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan" ini adalah berlaku kasih, sayang, dan tunduk kepada keduanya, seperti tunduknya seorang rakyat kepada rajanya atau tnduknya seorang budak kepada tuannya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Sa’id bin Musayyab.

Perintah yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada seroang anak untuk tunduk kepada kedua orang tuanya dengan menggunakan kata "janaah" (Sayap" adalah seperti halnya runduknya sayap burung manakala dia merangkul anak-anaknya. Sedangkan maksud kalimat "adzdzulli" adalah lembut.

Menurut pendapat Imam al-Qurtubi berdasarkan ayat Al-Quran ini, seorang anak harus berlaku secara lembut kepada kedua orang tuanya, baik dalam perkataan, diam, dan cara memandang. Seorang anak tidak boleh memangdang orang tuanya dengan pandangan yang tajam karena pandangan yang seperti ini adalah sebuah pandangan kemarahan.

Dia juga berpendapat bahwa kata "min" yang terdapt dalam ayat "minarrahmah" untuk menjelaskan jenis. Maksudnya, ketundukan seorang anak kepada orang tuanya lahir dari rasa sayang yang ada dalam hatinya, bukannya dengan cara yang dibuat-buat.

Setelah itu, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk menyayangi dan mendoakan orang tuanya. Menyayanginya sebagaimana halnya mereka dulu menyayangi Anda ketika msih kecil dan mengasihi mereka sebagaimana halnya mereka dulu mengasihi Anda ketika masih kecil.

Ketika Anda masih kecil, Anda tidak tahu apa-apa dan selalu membutuhkan pertolongan kedua orang tua Anda. Mereka mendahulukan Anda daripada diri mereka sendiri. Anda membuat mereka begadang untuk menjaga Anda. Mereka siap untuk merasa lapar demi membuat Anda kenyang. Mereka rela telanjang agar Anda bisa mengenakan pakaian. Maka dari itu, Anda tidak akan bisa membalas budi kedua orang tua Anda, kecuali dengan cara Anda mengasuh mereka ketika mereka telah lanjut usia, sebagaimana halnya merkea mengasuh Anda ketika kecil. Dalam kondisi umur yang renta ini, orang tua memiliki hak untuk didahulukan dalam segala hal.

Rasulullah Sholallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

"Seorang anak tidak akan dapat membalas budi bapaknya, kecuali bila dia mendapatkan bapaknya berada dalam kondisi perbudakan, maka dia beli bapaknya dan kemudian dia merdekakan bapaknya."

Dalam kitab Mahaasinut-Tawiil, penafsiran al-Qaasimi terhadap firman Allah Ta’ala, "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman, adalah lembutkanlah dirimu terhadap mereka dengan cara menyamakan ketundukan anak terhadap orang tua dengan kondisi sayap buruk. Sesunghguhnya burung jika ingin mendarat, dia turunkan sayapnya.

Penafsiran As-Sa’adi rahimahullah terhadap firman Allah Ta’ala,’ "Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak," adalah berlaku baiklah kepada keduanya dengan menggunakan semua bentuk kebaikan. Baik itu dari segi perkataan maupun dari segi perbuatan karena keduanya adalah yang menjadi sebab bagi keberadaan seroang anak. Rasa sayangnya, perbuatan baiknya serta rasa dekatnya kepadaanaknya, harus ditimpali dengan bakti si anak kepada keduanya.

Maksud firman Allah Ta’ala, "Jika salah saroang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu," adalah, jika keduanya telah mencapai lanjut usia yang berbuat fisik keduanya menjadi lemah, maka keduanya membutuhkan kasih sayang dan perlakukan baik dari anaknya.

Sedangkan, maksud firman Allah Ta’ala, "Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’," adalah sebuah perbuatan aniaya yang berada dalam tingkatan yang paling rendah. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memperingatkan seroang anak untuk tidak melakukan jenis tindakan aniaya yang lainnya. Maksud ayat ini, janganlah Anda menyakiti keduanya dengan jenis tindakan aniaya apa pun.

Lalu maksud firman Allah Ta’ala, "Dan janganlah kamu membentak mereka" adalah berbicaralah kepada keduanya dengan ucapan yang mereka suakai. Berlaku sopanlah kepada keduanya dan berbicalah kepada keduanya dengan perkataan ynag baik yang membuat hati mereka merasa lega dan yang membuat jiwa mereka merasa tenang. Jenis ucapan yang baik ini tentunya saling berbeda antara astu orang dengan yang lainnya sesuai dengan kondisi, kebiasan, dan masa.

Sedangkan, maksud firman-Nya, "Dan rendahkanlah dirimu terhadap ereka berdua dengan penuh kesayangan," adalah tunduklah kepada keduanya sebagai betnuk penghormatan dan kasih sayang kepada keduanya dalam upaya mencari pahala, bukan karena kamu merasa takut kepada keduanya dan bukan karena kamu mengharapkan mendapatkan sesuatu yang mereka miliki. Serta, berbagai maksud yang sejenisnya yang membuat seroang hamba tidak akan mendapatkan pahala.

Lalu maksud firman-Nya yang berbunyi, "dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,’ adalah doakanlah keduanya agar keduanya mendapatkan rahmat, baik ketika keduanya masih hidup maupun ketika sudah meninggal dunia, sebagai balasan atas pengasuhan keduanya terhadap diri Anda ketika masih kecil. Ayat ini menunukkan bahwa semakin lama masa pengasuhan orang tua terhadap anaknya, maka semakin bertambah hak orang tua yang harus dipenuhi oleh si anak. Begitu pula halnya hak seorang pendidik, yang telah mendidik muridnya dalam masalah agama dan dunia, si anak ini harus membals jasa didikan gurunya tersebut.

Sedangkan, maksud firman-Nya, "Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertoba," adalah, Tuhan kita (Allah Ta’ala) mengetahui semua yang dirahasiakan, baik perkara yang baik maupun perkara yang buruk. Dia tidak menilai perbuatan Anda dan fisik Anda, tetapi yang Dia nilai adalah hti Anda serta berbagai perkara yang baik dan yang butuk yang tersimpan di dalam hati Anda.

Maksud firman-Nya, "Jika kamu orang-orang yang baik," adalah, jika keinginan dan maksud Anda berbakti kepada kedua orang tua adalah semata-mata untuk mencari keridhaan allah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta tidak ada sedikit pun terbetik di dalam hati maksud yang lain.

Kemudian diteruskan dengan firman-Nya, "Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat." Arti dari orang-orang yang bertobat adalah orang-orang yang selalu memohon kepada-nya di setiap waktu, sesungguhnya orang yang selalu menempatkan Allah di dalam hatinya dan yang mengetahui bahwa dia selalu bergantung kepada Allah dan keapda rasa cinta-Nya. Maka, jika dalam suatu saat dia melakukan suatu kesalahan, Allah Ta’ala akan memaafkannya dan mengampunyinya atas suatu kesalahan yang sifatnya insidental, bukan yang berkesinambungan.

Sumber Link

comments powered by Disqus

Keajaiban-Keajaiban Dunia Ketika Rasulullah S.A.W Dilahirkan

Kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. pada 12 Rabiulawal, Tahun Gajah di Mekah al-Mukarramah sebagai pembuka rahmat di pelosok alam semesta. Kelahiran baginda menjadi seribu satu tanda bahwa baginda akan menjadi utusan terakhir dala

connect with abatasa