Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Nasihat Rasulullah Saw. Tentang Sedekah

Nasihat Rasulullah Saw. Tentang Sedekah

Pintu rezeki terbuka hingga langit ketujuh, dan berakhir di Arsy. Pintu ini tidak tertutup pada malam dan siang hari. Melalui pintu tersebut, Allah swt. selalu menurunkan rezeki kepada setiap orang. Setiap orang diberi rezeki

Selasa, 25 November 2014

Zubair r.a. berkata, `Pada suatu ketika, saya datang kepada Rasulullah saw. dan duduk di hadapan beliau saw.. Kemudian Rasulullah saw. memegang ujung belakang surban saya dan bersabda, "Wahai Zubair, aku adalah utusan Allah swt. kepadamu secara khusus, dan seluruh manusia secara umum (yakni, masalah ini disampaikan secara khusus dari Allah swt.), tahukah kamu, apa yang telah difirmankan oleh Allah swt.?"

Maka saya menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Rasulullah saw. bersabda, "Ketika Allah swt. bersemayam di `Arsy-Nya, Allah swt. memandang kepada hamba-Nya dengan pandangan kasih sayang, lalu berfirman, "Wahai hamba-hamba-Ku, kalian adalah makhluk-Ku, dan Aku adalah Rabb kalian. Rezeki kalian berada dalam genggaman-Ku. Janganlah kalian menyusahkan diri kalian mengenai masalah yang menjadi tanggungan-Ku. Mintalah rezeki kepada-Ku."

Setelah itu, Rasulullah saw. bersabda, "Tahukah kamu, apa lagi yang difirmankan oleh Rabbmu?" Allah swt. berfirman, "Wahai hamba-Ku, belanjakanlah hartamu untuk orang lain. Aku akan memberikan nafkah kepadamu. Berbuat lapanglah kepada orang lain agar Allah swt. tidak menyempitkan pemberian untukmu. Jangan sempitkan pemberianmu kepada manusia, agar Aku tidak menyempitkan pemberian-Ku kepadamu. Janganlah kamu timbun simpananmu, agar Aku tidak  menyimpannya (tidak menahan pemberian-Ku kepadamu)."

Pintu rezeki terbuka hingga langit ketujuh, dan berakhir di Arsy. Pintu ini tidak tertutup pada malam dan siang hari. Melalui pintu tersebut, Allah swt. selalu menurunkan rezeki kepada setiap orang. Setiap orang diberi rezeki menurut niatnya, pemberiannya, infaknya, dan sedekahnya. Barangsiapa banyak berinfak, maka rezekinya akan diperbanyak.

Sebaliknya, barangsiapa sedikit dalam berinfak, maka rezekinya akan dikurangi. Barangsiapa yang berhemat dan menyimpan, akan dilambatkan baginya (pemberian Allah swt.).

Wahai Zubair, berilah makanan kepada orang lain apa yang kamu makan, dan jangan menyimpannya, niscaya bagimu akan disimpan (pahalanya). Jangan menghitung-hitung agar pemberian-Nya kepadamu juga tidak dihitung-hitung. Janganlah menyulitkan agar kamu tidak disulitkan. Janganlah menyusahkan (manusia), agar kamu tidak disusahkan.

Wahai Zubair, Allah swt. menyukai kemurahan dalam pemberian, bukan kebakhilan. Kedermawanan berasal dari keyakinan kepada Allah swt., dan kebakhilan berasal dari keraguan kepada Allah swt.. Barangsiapa sempurna keyakinannya kepada Allah swt., maka ia tidak akan masuk neraka Jahannam. Barangsiapa ada keraguan dalam keyakinannya kepada Allah swt., maka ia tidak akan masuk surga.

Wahai Zubair, Allah swt. menyukai kedermawanan, walaupun hanya dengan sebiji kurma. Dan Allah swt. menyukai keberanian walaupun hanya membunuh ular atau kalajengking.

Wahai Zubair, Allah swt. mencintai kesabaran ketika terjadi gempa bumi (dan bencana lainnya), dan ketika bergairah syahwat (dan angan-angan nafsu). Allah swt. menyukai keyakinan yang berkembang ke seluruh jasad (dan menekan hawa nafsu dari memenuhi angan-angannya).

Berkenaan dengan agama, Allah swt. menyukai akal yang sempurna untuk melindunginya ketika ada keraguan, dan ketakwaan di atas hal-hal yang buruk dan haram.

Wahai Zubair, hormatilah saudara-saudaramu, muliakanlah orang-orang shalih, hormatilah orang-orang yang baik, berbuat baiklah kepada tetangga-tetanggamu, janganlah berjalan bersama orang-orang yang fasik. Barangsiapa memperhatikan semua ini, maka ia akan masuk surga tanpa adzab dan siksa. Ini adalah nasihat Allah swt. untukku, dan nasihatku untukmu." [ ]


Disadur: Kisah Keajaiban Sedekah, Penulis: Supriyanto Abdullah

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa