Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Unta yang Bersaksi Pada Kebaikan

Unta yang Bersaksi Pada Kebaikan

Dalam kesedihan karena merasa bahwa dirinya dizhalimi oleh orang yang menyebar fitnah tersebut, orang mukmin yang difitnah itu pasrah kepada Allah Swt. sembari membaca shalawat yang sangat banyak kepada Rasulullah Saw.

Jum'at, 05 September 2014

Pada masa permulaan Islam, ada seorang muslim yang difitnah telah mencuri seekor unta. Untuk mewujudkan niat bejatnya ini, si tukang fitnah mengajukan saksi-saksi palsu, yakni orang-orang munafik yang tidak segan untuk bersumpah palsu demi terwujudnya muslihat mereka. Maka, orang yang semestinya tidak salah, akan diputus oleh hakim sebagai pencuri juga.

Sebagaimana kita ketahui, dalam hukum Islam, seorang pencuri harus dihukum potong tangannya. Dalam hal ini, orang mukmin yang difitnah tersebut merasa sangat terdesak dalam kondisi semacam ini. Sebab, keputusan hakim mutlak membuat keputusan bahwa si mukmin inilah yang mencuri unta itu, berdasarkan saksi yang komplet.

Dalam kesedihan karena merasa bahwa dirinya dizhalimi oleh orang yang menyebar fitnah tersebut, orang mukmin yang difitnah itu pasrah kepada Allah Swt. sembari membaca shalawat yang sangat banyak kepada Rasulullah Saw. Hal inilah yang membuat orang mukmin ini tenang. Dengan keyakinan pada pertolongan Allah Swt. serta barakah dan manfaat dari shalawat yang ia tujukan untuk Rasulullah Saw.

Selanjutnya, orang mukmin yang dirundung malang ini berdoa kepada Allah Swt dan mengadu. Dengan khusyuk, orang mukmin ini pun berdoa. Tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah Swt. Bahkan, untuk sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia, Dia akan mampu menaklukkannya. Setelah berdoa, unta di sekitar tempat orang tersebut berdiri mendesah keras, kemudian bukti akan rahmat dan kekuasaan Allah Swt terjadi pada saat itu. Unta tersebut dapat berbicara dengan bahasa manusia sebagai saksi atas kejadian tersebut.

Para tukang fitnah yang tadinya merasa menang atas muslihat yang telah dilempar, tertegun dan kaget, karena berkat kekuasaan Allah Swt., unta itu bisa bicara.

"Ya, Rasulullah, aku ini milik orang beriman ini. Orang-orang itu yang telah memfitnah orang yang beriman ini. Mereka adalah saksi palsu dan si tukang fitnah telah membuat tuduhan palsu terhadap orang mukmin sejati ini." Lantas, unta tersebut mendekati pemiliknya dengan sikap tunduk dan duduk di depannya.

Hal ini sangat mengagetkan semua orang, lebih-lebih orang yang telah melakukan muslihat dengan fitnah tersebut. Sehingga, terkuaklah kebohongan saksi-saksi palsu ini, mereka tidak dapat berkutik dengan kesaksian unta itu dan merasa malu. Seiring dengan itu, tumbuhlah cahaya iman dalam hati orang-orang yang turut menyaksikan peristiwa menakjubkan ini.

Tidak hanya menanggung malu yang berlipat-lipat, tukang fitnah ini pun sesungguhnya yang berhak atas hukuman karena telah merekayasa seseorang agar celaka, dengan menyebar fitnah. Akan tetapi, orang yang beriman tersebut tidak menuntut balasan kepada orang yang membuatnya menderita, tetapi mendoakan agar mereka bisa merasakan dan menjadi perantara agar orang itu dapat mengambil hikmah dengan adanya kejadian ini.

Atas kejadian ini, Rasulullah Saw. bertanya, "Wahai orang mukmin, bagaimana kamu dapat memperoleh keajaiban itu?"

Orang mukmin itu menjawab, "Ya Rasulullah, aku selalu bershalawat kepadamu sepuluh kali sebelum tidur."

Kemudian, Rasulullah Saw, bersabda, "Karena shalawatmu kepadaku, Allah Swt. bukan hanya menyelamatkanmu dari hukuman potong tangan, tetapi juga akan menyelamatkanmu dari siksa neraka di akhirat. Barangsiapa bershalawat kepadaku sepuluh kali pada sore hari dan sepuluh kali pada pagi hari, maka, Allah Swt. akan membangkitkannya bersama para nabi kesayangan dan kepercayaan-Nya, dan wali-wali yang patuh, serta Allah Swt. akan melimpahkan berkah kepadanya sebagaimana berkah kepada nabi-Nya."

Akhirnya para sahabat yang lain juga mendapatkan manfaat yang sangat agung nilainya dari kejadian itu. Mereka semakin mengerti tentang posisi dan kebutuhan kepada Rasulullah Saw. Rasulullah tidak hanya sebagai pembuka jalan kebenaran di dunia, tetapi juga sebagai pembuka dan penolong di akhirat kelak.

Dari kisah itu, orang tersebut hanya membaca shalawat saat menjelang tidur, itu pun hanya sebanyak 10 kali. Bisa kita bayangkan, bagaimana pertolongan Allah Swt.yang akan kita terima jika kita mampu menjadikan shalawat sebagai bagian dari amal kita sehari-hari yang membuktikan cinta kita kepada Rasulullah Saw.? Tentunya, manfaatnya tidak terhitung.
Disadur: Kisah-Kisah Ajaib Pengubah Hidup!, Karya: Ustadz Amrin Ali Hasan

comments powered by Disqus

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiiq

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi - radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakekn

connect with abatasa