Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Mushaf Kecil

Mushaf Kecil

Anakku yang masih kecil, sejak kemarin sore, kondisi kesehatannya tidak baik. Hari ini, saat aku pulang kerja, aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit, meski lelah dan letih menderaku. Demi dia, , , , , , , , , , ,

Jum'at, 19 Juli 2013

Anakku yang masih kecil, sejak kemarin sore, kondisi kesehatannya tidak baik. Hari ini, saat aku pulang kerja, aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit, meski lelah dan letih menderaku. Demi dia, keletihan yang kurasakan adalah sebuah ketenangan.

Aku menggendongnya dan berangkat ke rumah sakit. Yang antre sudah banyak. Mungkin kami terlambat lebih dari satu jam. Aku mengambil nomor antrean masuk menemui dokter kemudian pergi menuju tempat duduk di ruang tunggu.

Banyak wajah yang berbeda, ada yang masih kecil dan ada yang sudah tua. Diam dan sunyi mengusai semuanya. Ada beberapa buku kecil yang dibaca oleh beberapa orang.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebagian ada yang memejamkan mata, tidak tahu apa yang dia pikirkan. Ada yang mengikuti pandangan semua orang dan banyak orang yang di wajahnya terlukis kegelisahan dan rasa bosan menunggu.

Kesunyian yang lama terputus oleh suara pemanggil, "Nomor sekian." Rasa senang terlukis di wajah orang yang dipanggil. Dia berjalan dengan langkah cepat kemudian suasana kembali sunyi.

Pandanganku tertarik melihat seorang pemuda belia. Dia tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Dia membawa mushaf saku kecil dan membacanya. Tatapannya tidak pernah diangkat. Aku memandangnya dan aku tidak terlalu memikirkan keadaannya. Namun, ketika aku lama menunggu sejam penuh, aku yang asalnya hanya sekadar memandang, menjadi berpikir serius tentang gaya hidupnya dan penjagaannya terhadap waktu. Sejam penuh dari umurku, apa yang aku dapatkan? Padahal aku kosong tanpa pekerjaan dan tugas, hanya penantian membosankan yang aku peroleh.

Azan magrib berkumandang, kami pergi ke tempat shalat.
Di mushalla rumah sakit, aku berusaha berada di samping pemuda pemilik mushaf. Setelah selesai shalat, aku berjalan bersamanya dan langsung memberitahukan kekagumanku kepadanya atas pemeliharaan terhadap waktu.

Pembicaraannya fokus tentang banyak waktu yang sama sekali tidak kita manfaatkan. Siang dan malam yang habis dari usia kita tanpa kita rasa dan sesali.
Dia bercerita bahwa dia membawa mushaf kecil ini sejak setahun yang lalu, saat kawannya menganjurkan dia untuk memelihara waktu.

Dia memberitahukan bahwa di waktu yang sering tidak dimanfaatkan, dia membaca Al-Qur’an berkali lipat lebih banyak daripada di masjid maupun di rumah. Bahkan, bacaan mushafnya merupakan tambahan pahala dan kebaikan yang juga bisa menghilangkan rasa bosan dan stres. Dia menambahkan bahwa dia sekarang berada di ruang tunggu lebih dari satu setengah jam yang lalu.

"Kapan kamu akan menemukan waktu sejam setengah untuk membaa Al-Qur’ an?" tanyanya kepadaku.
Aku berpikir, betapa banyak waktu yang hilang sia-sia? Berapa banyak detik di dalam hidupmu yang berlalu dan tidak dihitung dengan baik? Bahkan, berapa bulan yang berlalu di dalam hidupmu tanpa kamu isi dengan membaca Al-Qur’an?

Aku membelalakkan mata. Aku mendapati bahwa diriku akan dihisab, sedangkan masa ini tidak berada di tanganku.
Terus apa yang aku tunggu? Renunganku ini terputus oleh suara pemanggil, aku pergi menemui dokter.
Aku ingin merealisasikan sesuatu sekarang....

Setelah keluar dari rumah sakit, aku segera pergi ke perpustakaan, membeli mushaf kecil. Aku memutuskan untuk menjaga waktuku. Aku berpikir sambil menaruh mushaf itu di dalam saku.
Berapa orang yang akan berbuat seperti ini?
Berapa banyak pahala besar yang akan didapat oleh orang yang menunjukkan?

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa