Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Kikirnya Manusia

Kikirnya Manusia

Fulan sedang dirundung kesulitan. Sudah berbagai usaha dilakukan agar keluar dari kesulitan tersebut. Namun, nasib baik belum bersahabat dengan dirinya. Fulan lalu bertanya kepada seorang bijak.

Kamis, 23 Mei 2013

Fulan sedang dirundung kesulitan. Sudah berbagai usaha dilakukan agar keluar dari kesulitan tersebut. Namun, nasib baik belum bersahabat dengan dirinya. Fulan lalu bertanya kepada seorang bijak.

"Tuan, sudilah kiranya kau menunjukkan jalan keluar dari masalahku ini," pinta Fulan.
"Sesungguhnya, Allah yang berkehendak memasukkan dan mengeluarkan seseorang kepada suatu keadaan," jawab orang bijak itu.

"Apakah yang harus aku lakukan?" tanya Fulan.
"Tunjukkanlah kesungguhanmu. Mudah-mudahan, Dia bermurah hati kepadamu," kata orang bijak.
"Baiklah. Aku akan bersungguh-sungguh. Jika kesulitanku pergi, aku akan menjual rumah dan segala isinya. Lalu, aku akan membelikan seluruh hasil penjualan rumah itu kepada fakir miskin. Aku berjanji!" tegas Fulan yang sudah tidak kuat lagi menanggung beban masalah yang ada dirinya.

Sebelum Fulan itu pergi, orang bijak memberinya nasihat.
"Ingatlah, Allah tidak akan memberi perintah di luar kesanggupan. Sesungguhnya, masalah yang menimpa setiap manusia adalah ujian dari keimanan dan penebus dari dosa-dosa. Dia ingin menjadikan setiap hambanya menjadi lebih baik. Jadi, janganlah kauperdaya Tuhanmu."

Namun, Fulan sudah tidak mendengarkan lagi. Ia ingin segera pulang ke rumahnya untuk membuktikan kesungguhannya. Sesampainya di rumah, Fulan segera menyebarluaskan berita bahwa ia ingin menjual rumahnya. Sementara kabar itu menyebar, tidak berapa lama, atas izin Allah, tuntaslah permasalahan-permasalahan Fulan.

Ketika orang-orang yang hendak membeli rumahnya berdatangan, setan mulai menggoda. Dimunculkan sifat kikir dari dalam diri Fulan. Ia tidak ingin memberikan uang hasil penjualan rumahnya kepada fakir miskin sesuai dengan janjinya dulu. Fulan kemudian mencari akal.

Ia menyampaikan kepada para calon pembeli, rumahnya dijual dengan harga murah. Namun, dengan satu syarat. Setiap orang boleh mendapatkan rumahnya seharga Rp l.000,00, tetapi harus membeli kucingnya juga yang harganya Rp500 juta.

Melihat rumahnya yang bagus, salah seorang pembeli setuju dengan syarat itu. Maka ia pun memberikan uang Rp l.000,00 untuk pembayaran rumah dan Rp500 juta untuk pembayaran kucing.

Karena Fulan telah beijanji memberikan uang hasil penjualan rumah, ia hanya mengeluarkan uang Rpl.000,00 kepada fakir miskin. Sementara yang Rp500 juta, ia masukkan ke kantongnya sendiri.

Fulan mengira Allah bisa diperdaya, padahal Allah Maha Perkasa dan Maha Kuasa. Allah akan membalasnya dengan cara apa pun yang dikehendaki-Nya. Baik itu di dunia ataupun nanti di akhirat. Sebenarnya, Fulan sendirilah yang telah memperdayai dirinya sendiri. Nau- zubillah.

"Hendaknya, manusia waspada terhadap salah satu sifat buruknya. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Apabila diberi kelapangan, ia kikir. "

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa