Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Nasehat»Tawanan yang Menjual Agamanya

Tawanan yang Menjual Agamanya

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, beliwau mengirimkan pasukan perang ke Romawi. Tetapi, ternyata pasukan khalifah itu kalah perang dan dua puluh orang tentaranya tertawan musuh.

Jum'at, 14 Desember 2012

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, beliwau mengirimkan pasukan perang ke Romawi. Tetapi, ternyata pasukan khalifah itu kalah perang dan dua puluh orang tentaranya tertawan musuh.

Kaishar Romawi memanggil satu diantara tawanan itu untuk diajak menganut agamanya, yakni menyembah berhala. Kaisar berkata, "jika kau mau masuk agamaku, maka kau akan kujadikan gubernur di suatu wilayah yang luas. Serta akan kuveri pasukan, pakaian kebesaran, piala dan terompet. Tetapi jika kau tidak mau mengikuti ajakanku, aku akan membunuhmu."

 

Tawanan itu menjawab, "aku tidak akan menjual agamaku dengan dunia!"
Mendengar jawaban itu, naiklah kemarahan Kaisar Romawi. Ia menyuruh pasuknannya untuk membunuh tawanan itu.

 

Tawanan itupun digelandang ke lapangan dan di penggal kepalanya. Kepala tawanan itu jatuh mengelinding, perputar tiga kalu dan mulutnya membacakan ayat alquran "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu sebagai orang ridha dan diridhai. Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke surga-Ku."

 

Melihat hal itu kaisar semakin marah. Kemudian ia menawarkan hal yang sama kepada tawanan yang kedua. "masuklah ke agamaku, maka kau akan kujadikan gubernur di suatu wilayah. Jika tidak mau, kepalamu akan kupenggal seperti temanmu itu!"


Tawanan kedua menjawab, "aku tidak akan menjual agamaku dengan harta dunia. Meski anda mampu memutuskan urat leherku, tapi anda tak akan mampu memutuskan imanku!"
Kaisar segera memerintahkan pasukannya untuk membunuh tawanan kedua. Tawanan itu dipenggal. Kepalanya mengelinding di tanah, berputar tida kali dan mulutnya membacakan ayat Alquran "Maka ia berada di kehidupan yang menyenangkan, di surga yang tinggi, yang buah-buahnya rendah (mudah dipetik)."
Potong kepala tawanan yang kedua itu berhenti mengelinding di dekat kepala tawanan pertama.
Demi melihat kejadian itu, meledaklah amarah kaisar. Segera dipanggilnya tawanan yang ketiga. "bagaimana dengan kau? Apakah bersedia masuk agamaku? Dan kau akan kujadikan gubernur di suatu wilayah?"
Rupanya tawanan ketiga ini adalah orang celaka. Mendengar tawaran itu ia menjawab, "aku bersedia masuk agamamu. Aku memilih dunia daripada akhirat!"

 

Lalu kaisar berkata kepada perdana mentrinya, " tetapkan wilayah untuknya, dan berikanlah ia pakaian kebesaran bendera, serta pasukan!"

 

Tetapi perdana mentri kaisar menjawab, "wahai kaisar, bagaimana mungkin kita akan memberikan semua itu kepadanya begitu saja, tanpa diuji terlebih dahulu? Katakanlah kepadanya, ‘kalau ucapanmy itu sungguh - sungguh, maka bunuhlah salah satu temanmu!"

 

Kaisarpun berkata sebagaimana yang disarankan oleh perdana mentrinya. Ternyata tawanan itu memang sungguh-sungguh orang celaka. Maka diikutinya perkataan kaisar. Ia langsung membunuh salah seorang temannya!


Setelah itu kaisar berkata kepada perdana mentrinya, "sekarang, tetapkan wilayah untuknya."
Tetapi perdana mentrinya menjawab, "wahai kaisar, tidaklah termasuk orang yang berakal jika engkau mempercayai ucapannya. Orang ini tidak menjaga hak (hidup) orang yang dilahirkan dan dibesarkan bersamanya. Lantas, bagaimana mungkin ia akan menjaga hak kita?"


Akhirnya kaisar memerintahkan pasukannya agar memenggal kepala tawanan itu. Begitu dipenggal, kepala itu jatuh menggelinding di tanah, berputar tida kali dan mulutnya mengucapkan ayat Alquran, "Adakah orang yang berhak mendapat siksa mampu lepas dari neraka?"


Setelah itu, kepala tawanan yang ketiga itu berhenti menggelinding di tempat yang jauh dari letak kepala kedua temannya. Na’udzu billah mindzaalik.


comments powered by Disqus

Kumpulan Hadits tentang Keluarga

Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya)

connect with abatasa