Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Motivation»Di Sini Senang, di Sana Senang

Di Sini Senang, di Sana Senang

Tulisan ini bertutur tentang kehidupan saya yang miskin dari rasa syukur. Sehingga, meletakkan Tuhan dalam posisi salah selalu. Sebagaimana sudah sering saya ungkapkan, tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua ...

Sabtu, 25 Februari 2012

Pada suatu hari kerja yang melelahkan dan membosankan, bersama seorang rekan kerja yang juga lagi jenuh, tiba-tiba seorang penyiar wanita radio Delta FM Jakarta membacakan salah satu tulisan saya yang berjudul `Tuhan Tidak Pernah Benar`. Tulisan ini bertutur tentang kehidupan saya yang miskin dari rasa syukur. Sehingga, meletakkan Tuhan dalam posisi salah selalu. Sebagaimana sudah sering saya ungkapkan, tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua keja­dian yang lewat di depar mata setiap harinya, membawa pesan-pesan Tuhan. Bingkai berpikir seperti ini juga yang saya gunakan ketika Tuhan `mengingatkan`saya melalui suara penyiar Delta FM.

Dalam frekuensi yang sangat sering, ada banyak orang yang bertanya, kenapa mengubah diri demikian sulit dan lama. Hari ini mendengarkan seminar saya, dua minggu kemudian sudah lupa. Minggu ini membaca buku-buku kebi­jakan, bulan berikutnya kembali lagi ke perilaku asal. Bulan ini dicuci otak melalui pelatihan yang mencerahkan, tidak lama kemudian muncul kembali kebiasaan lama yang men­jengkelkan. Detik ini juga sangat terang dalam pikiran, kalau kebaikan bisa menghasilkan keajaiban-keajaiban, tidak lama setelah itu, ada saja godaan yang membuat kita lupa.

Anda yang mengalami pengalaman seperti ini, sebenarnya tidak perlu berkecil hati. Sebab, ini terjadi di hampir setiap orang-termasuk diri saya sendiri. Bila boleh diandaikan jiwa dan badan ini dengan bangunan, setiap orang dewasa telah memiliki bangunan badan dan jiwa yang tinggi dan kokoh. Untuk menggantinya dengan bangunan baru, kita perlu merobohkan bangunan lama terlebih dulu, baru kemudian bisa membangun bangunan baru. Sebagaimana bangunan yang sebenarnya, tidak hanya membangun bangunan baru yang menuntut kehati-hatian. Merobohkan bangunan lama pun memerlukan kehati-hatian dan kesa­baran. Keduanya sama-sama menuntut kesabaran waktu yang lama.

Betapa lama pun waktunya, betapa besar pun pengor­banannya, kita wajib merobohkan bangunan lama dan menggantinya dengan bangunan baru. Dalam bentuknya yang esensial, misi hidup semua orang adalah membuat bangunan baru di atas fondamen-fondamen badan dan Jiwa  yang lama. Saya menilai kinerja hidup saya, dalam bentuk seberapa banyak bangunan lama itu runtuh, dan seberapa banyak bangunan baru yang terbangun di atas tanah (baca: badan) yang sama.

Sulit, tidak mudah, dan kadang menderita memang. Namun, ada hal-hal yang membuat kegiatan ini menjadi agak lebih mudah. Kegiatan terakhir bernama rasa hormat kita pada diri sendiri dan orang lain. Mari kita mulai dengan rasa hormat yang pertama.

Dalam kesusahan dan kesulitan memperbaiki sang hidup. bagaimana pun tubuh dan jiwa ini adalah kekayaan paling berguna yang diberikan Tuhan kepada kita. Lihat semua bentuk luarnya, bukankah bentuk seperti ini hanya milik kita sendiri? Rasakan juga isi di dalamnya, ini juga hanya spesifik milik kita saja. Ukuran-ukuran kesempurnaan memang mungkin bisa menarik kita ke tempat yang lebih tinggi. Namun, ukuran-ukuran perbaikan yang terjadi setiap hari dalam diri, adalah rajutan kain yang mempercantik diri.Ini tidak kalah daya tariknya dengan ukuran-ukuran kesempurnaan yang diimpikan banyak orang.

Wajah saya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan wajah Brad Pitt yang superganteng, Tinggi badan saya juga jauh lebih pendek. Apa lagi rambut saya sudah mengenal kamus kerontokan. Rezeki saya memang sangat dan sangat jauh di bawah rezeki Bill Gates yang kesohor itu. Demikian juga perusahaan yang saya pimpin. Dibandingkan dengan Microsoft, ia tidak bisa dibandingkan. Kualitas hidup dan kepemimpinan saya mirip dengan bumi langit, jika diban­dingkan hidup dan kepemimpinan Mahatma Gandhi misalnya. Namun, dengan seluruh kekurangan ini, saya men­syukuri sekali seluruh perbaikan yang telah terjadi. Dulu, kerap diterka berumur sekurang-kurangnya sepuluh tahun lebih tua dibandingkan dengan umur asli. Sekarang, orang yang menerka demikian sudah jauh berkurang. Bahkan, sudah ada yang menerka lebih muda dari umur sebenarnya. Bukankah ini patut disyukuri?

Serupa dengan rasa hormat kepada diri sendiri yang menghasilkan wajah fisik dan wajah kehidupan yang lebih muda, rasa hormat kepada orang lain juga tidak kalah ajaibnya. Dalam kadar yang tepat, ia bahkan bisa berfungsi seba­gai mantera yang menaklukkan banyak orang. Lebih hebat lagi, orang yang kita taklukkan merasa dirinya dimenang­kan. Sehingga, ini bisa menjadi fundamen kemajuan yang sangat sustainable. Kalau boleh jujur, kebanyakan hal yang saya raih dalam kehidupan, berasal dari `mantera` jenis ter­akhir.

Dalam totalitas, rasa hormat kepada diri sendiri dan orang lain-keduanya dalam kadar yang tepat-bisa mengubah hidup banyak orang seperti bait lagu anak-anak `disini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Bagaimana tidak disambut kesenangan di mana-mana Menoleh ke diri sendiri, bertemu wajah tersenyum penuh rasa syukur, tambah awet muda, dan menarik simpati banyak orang. Menengok ke orang lain, mereka pun tersenyum penuh dengan rasa hormat. Sebagian bahkan tersenyum sambil meletakkan rezeki ke tangan kita yang tengadah. Mohon ditunjukkan kepada saya, adakah orang yang tidak suka dengan bait lagu anak-anak itu?


*Penulis: Gede Prama, Penerbit: PT Elex Media Komputindo

comments powered by Disqus

Sembilan Langkah Supaya Anak Mau makan

Bukan itu saja. Ketika disuapi, anak bertingkah macam- macam. Ia lari ke sana ke mari, dan menangis jika dipaksa duduk. Jika pun mau makan, makanan tersebut tak dikunyah segera, tetapi diemut dulu.

connect with abatasa