Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Motivation»Membuang Label, Membuang Penderitaan

Membuang Label, Membuang Penderitaan

Wah, betapa indah dan nikmatnya kalau ada kehidupan yang sedamai dan setenteram imajinasi rekan tadi. Sayang- nya, sampai dengan perjalanan manusia saat ini, kehidupan seperti itu memang belum pernah tercipta.

Kamis, 29 Desember 2011

Seorang pembaca setia kolom ini dari Surabaya pernah me­ngirim e-mail ke saya. Dengan imajinasinya, ia bertanya ten­tang kemungkinan terciptanya masyarakat tanpa peme- rintah. Di mana isinya hanya manusia-manusia yang saling mencintai dan menyayangi. Sehingga, kita tidak lagi mem­butuhkan pelindung dan penjaga tatanan yang bernama pemerintah.

Wah, betapa indah dan nikmatnya kalau ada kehidupan yang sedamai dan setenteram imajinasi rekan tadi. Sayang- nya, sampai dengan perjalanan manusia saat ini, kehidupan seperti itu memang belum pernah tercipta. Namun, sebagai mimpi dan imajinasi, tentu sahabat tadi tidak salah. Bahkan, bisa menjadi stimulator renungan saya pada tulisan kali ini.

Dengan bersahabatkan kejernihan, masalah dan ketidak-tenteraman sebenarnya tidak bersumber pada hal-hal yang jauh. Ia bersumber di sini: dari diri kita sendiri. Coba tinggal­kan rumah yang biasanya dibuat riuh oleh segudang masalah: tidak cocok, tidak disiplin, kurang bersih, kurang bisa mengerti sampai dengan pembantu yang tidak jujur. Dan intip rumah kita dari jauh. Bukankah semua persoalan hilang semua ketika kita tidak ada? Atau datang ke kantor di tengah malam ketika tidak ada orang, bukankah masalah berkurang dalam jumlah yang sangat banyak?

Ini semua berarti, kita semualah yang menjadi pencipta persoalan. Kalau sahabat di atas, mencarinya di orang lain (sebagai contoh pemerintah), tentu saja salah alamat. Sama dengan jari tangan yang menunjuk ke pihak lain. Satu jari menunjuk orang, satu jari netral, dan tiga jari (mayoritas menunjuk ke diri kita sendiri. Sekarang mari kita cermati, tingkatan yang mana konflik dan ketidaktenteraman itu muncul.

Izinkan saya membagi manusia ke dalam dua bagian kesejatian dan peran (label). Pada saat kita baru lahir, kita datang dengan kesejatian. Badan telanjang, jiwa yang bersih tangis yang melengking, semuanya tanpa label dan peran Nama, jabatan, kekayaan, keterkenalan, pendidikan datang kemudian setelah kita memasuki dunia peran dan label

Dalam kesejatian, kita sebenarnya tidak memerlukan ter­lalu banyak hal. Makan sepiring, minum beberapa gelas tidur pun-dalam pikiran yang penuh kesejatian-sebenarnya mudah. Demikian juga dengan ketenteraman dan kedamaian. Ia bukan barang mewah dan mahal.

Akan tetapi, semua ini menjadi mahal dan tidak pernah terbeli oleh siapa pun, ketika manusia memasuki dunia peran dan label. Inilah dunia yang penuh atribut dan tuntut­an. Pendidikan, jabatan, keterkenalan, harta, pujian hanya­lah serangkaian atribut yang jika diikuti terus kemauannya membuat kita seperti berkejaran dengan bayangan sendiri. Alias lelah, namun tidak pernah sampai di tempat tujuan.

Jika ada orang yang kehilangan jabatan, kemudian shod berat. Masalahnya bukan pada jabatan yang hilang tersebut tetapi mengapa dia mengidentikkan dirinya pada jabatan tadi. Bila ada orang yang biasa naik mercedes, kemudian terpaksa naik angkot, dan minder berat dengan keterpakasaan terakhir. Sebabnya, tentu saja bukan mercedes maupun angkot, namun kenapa ia mengidentikkan percaya dirinya dengan mobil mewah. Demikian juga orang yang seluruh hidupnya ditandai penyesalan, karena tidak memiliki gelar akademis. Sekali lagi pertanyaannya, siapa yang menyuruh dia mengaitkan percaya diri dan pendidikan?

Dengan penjelasan lain, masalah dan ketidaktenteraman sebenarnya hanya ada di tingkat peran dan label. Dalam kesejatian, masalah itu hampir tidak ada. Secara lebih khusus, kalau kita sudah demikian terikatnya dengan label- label tadi. Sebut saja label sukses, siapakah yang memberi label demikian? Atau peran sebagai pimpinan puncak perusahaan, tidakkah ia adalah sebutan orang yang ada kalanya datang, dan ada saatnya pergi? Keduanya di sam- ping datang dan pergi secara tidak permanen, juga datang dari pihak luar yang notabene bukan kesejatian kita sendiri.

Kembali ke pertanyaan sahabat di awal tentang hidup damai penuh ketenteraman, sejauh kita bisa melepaskan diri dari label dan peran, siapa pun pemerintah dan presiden­nya, sebenarnya kedamaian bukanlah sesuatu yang terlalu sulit untuk dicapai. Sayangnya, lingkungan sosial tempat kita hidup, sangat dan sangat terikat dengan label. Rumah mewah, mobil mentereng, penampilan ngejreng, jabatan yang tinggi, sebutan sukses dari orang lain, hanyalah seba­gian saja dari label-label yang sudah demikian mengikat pikiran dan jiwa. Demikian terikatnya, sampai-sampai begitu semua ini pergi, seluruh kesejatian diri pun ikut hilang. Maka bertaburanlah penderitaan dan ketidakdamaian di mana-mana.

Dalam keadaan demikian, siapa pun pemerintahnya, seberapa hebat pun presidennya, tetap tidak berdaya dalam menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian. Jadi saya menghargai sekali imajinasi seorang pembaca dari Surabaya, yang mengimajinasikan kehidupan damai tanpa pemerintah. Namun, jauh lebih penting dan peran pemerintah, keberanian kita untuk membuang label sangat menentukan terhadap terealisasinya imajinasi tadi.

Dengan kesadaran seperti ini, kendati di kantor saya memiliki sekitar dua ribu orang anak buah, di jalan ditemani supir, ketika jadi pembicara publik kerap diberikan pujian, tulisan saya juga kadang dihormati orang. Akan tetapi di rumah saya belajar untuk membuang semua label ini. Celana pendek dan baju kaos yang sebagian rombeng, kaki yang sering tidak memakai alas, rambut yang tidak disisir tangan yang kotor oleh tanah karena cinta tanaman, atau kesenangan untuk mengobrol dengan satpam, tukang ojek tukang kebun dan orang bawah lainnya. Semuanya ditujukan untuk membuang label. Sebab, cepat atau lambat, si tidak suka, semua label akan lari entah ke mana.


*Penulis: Gede Prama, Penerbit: PT Elex Media Komputindo

comments powered by Disqus

Kumpulan Hadits tentang Keluarga

Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya)

connect with abatasa