Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Motivation»Kendaraan Menuju Kebahagiaan

Kendaraan Menuju Kebahagiaan

Sempat lama saya dibuat tercenung oleh tokoh perdamai­an itu. Dan merasakan sendiri, betapa kecilnya saya di ha­dapan ’raksasa’ kehidupan sehebat Dalai Lama. Di mana pun kita bertemu, di televisi,

Minggu, 13 November 2011

Salah satu dari buku yang saya baca pelan-pelan sampai habis adalah buku Dalai Lama bersama Howard C. Cutter yang berjudul The Art of Happiness. Awalnya, buku ini saya baca secara cepat. Akan tetapi, semakin diselami, ia seperti menghadirkan kedamaian tersendiri. Seperti berhadapan dengan manusia dengan tantangan yang sangat besar- bayangkan negerinya dianeksasi Cina dalam waktu yang lama-namun masih bisa menyebut diri berbahagia.

Sempat lama saya dibuat tercenung oleh tokoh perdamai­an itu. Dan merasakan sendiri, betapa kecilnya saya di ha­dapan ’raksasa’ kehidupan sehebat Dalai Lama. Di mana pun kita bertemu, di televisi, media cetak atau hampir semua kesempatan, kita senantiasa bertemu dengan mimik muka yang serba tersenyum. Padahal, kehidupannya- sebagaimana dituturkan Cutter-tidak sedikit yang ditandai oleh banjir kesedihan.

Ada seorang rahib Tibet yang disiksa dalam tahanan Cina selama lebih dari dua puluh tahun. Orangtua yang menangis karena anaknya dididik di sekolah yang menginjak-injak ajaran dan keyakinan orang Tibet. Bayangkan, bangsa Tibet yang dalam waktu sangat lama meyakini tidak boleh mem­bunuh segala sesuatu yang bernyawa, tiba-tiba generasi mudanya disuruh membunuh binatang setiap kali pergi ke sekolah. Semakin besar hasii bunuhannya, maka semakin besar juga nilainya di sekolah. Belum lagi penghancuran tempat-tempat suci bangsa Tibet.

Dirangkum menjadi satu, kehidupan seorang Dalai Lama ditandai oleh banjir bandang kesedihan yang demikian dahsyat. Kalau orang biasa seperti saya mengalaminya, mungkin ’ ceritanya menjadi sangat lain. Sehingga menimbulkan per­tanyaan besar bagi saya, apa kendaraan dahsyat yang bisa membawa Dalai Lama sampai dalam tataran kebahagiaan yang sekarang?

Sampai sekarang pun saya masih meraba-raba. Yang jelas, sebagai manusia yang hidup di zaman ini, tidak sedikit orang menggunakan materi dan hal-hal eksternal lain sebagai kendaraan menuju kebahagiaan. Perlombaan materi terjadi di mana-mana. Lomba model terakhir, tidak hanya monopoli orang kota. Di desa pun perlombaan terjadi. Dari perlombaan materi sampai dengan perlombaan ’spiritual’.Terutama, melalui perlombaan mau disebut paling mengeta­hui, paling peka dengan sinyal-sinyal Tuhan dan sejenisnya.

Bahkan di pojokan tertentu kehidupan beragama juga ter­jadi perlombaan. Kasus pembunuhan antarumat di Maluku, demikian juga di Yugoslavia hanyalah sebagian kecil dari demikian banyak kasus lomba mau disebut lebih benar. Maka jadilah kita sekumpulan manusia yang menempatkan ’perlombaan’ sebagai kendaraan menuju kebahagiaan. Kalau ukurannya adalah pembunuhan yang tidak pernah berhenti, kesengsaraan yang meningkat terus, atau kebencian meningkat serta kasih sayang yang menyusut, maka boleh dikatakan bahwa ’perlombaan’ sebagai kendaraan menuju kebahagiaan telah gagal membawa kita ke sana.

Sebagai orang yang hadir di banyak kesempatan, sering kali saya bertemu manusia yang kesepian di keramaian. Kelaparan di tengah kekayaan materi yang melimpah. Atau malah dihimpit kebencian di tempat ibadah yang suci dan mulia. Secara jujur harus saya katakan kepada Anda, saya pun kadang-kadang ditulari penyakit serupa. Serta membuat saya bertanya, dalam struktur sosial seperti apakah kita in sedang hidup?

Seorang sahabat sekaligus guru yang sering member, inspirasi kepada saya pernah bertutur, dunia pencerahan baru kita temukan kalau kita mulai menemukan orang Kristen di Masjid, saudara-saudara Muslim di Vihara, saha­bat-sahabat beragama Buddha di Pura, atau penganut Hindu di Gereja. Tentu saja maksudnya bukan kehadiran fisik Namun kehadiran secara persahabatan. Terutama, persaha­batan dalam kedamaian dan kebahagiaan. Kalau masih kita merasakan permusuhan dan perlombaan kebenaran ditempat ibadah, saya mau bertanya: masihkan kita layak untuk berdoa dari tempat suci ini?

Kembali ke soal awai tentang kendaraan menuju kebahagiaan, bercermin dari ini semua, banyak orang menyimpulkan bahwa perlombaan materi, maupun perlombaan kebenaran, bukanlah kendaraan yang tepat dalam hal ini. Bahkan, telah terbukti menjerumuskan kemanusiaan kedalam lembah dalam dan mengerikan. Lantas punyakah kita I kendaraan alternatif?

Bercermin dari kehidupan mulia Dalai Lama, rupanyal beliau telah lama tidak menggunakan kendaraan sebagai­mana disebutkan di atas. Dengan perjalanannya keliling dunia, bertutur serta berceramah tentang perdamaian ke siapa saja yang mau mendengarkan, bersahabat dengan musuh yang menganeksasi negerinya, ia sedang menunjukkan kepada kita tentang kendaraan beliau yang sangat lain.

Di sebuah kesempatan ia pernah bertanya kepada seorang rahib Buddha yang baru saja keluar dari penjara Cina selama puluhan tahun. Ketika ditanya, bahaya terbesar yang dihadapi ketika rahib tadi berada di penjara, ia menjawab sederhana: kehilangan rasa perdamaian dengan bangsa Cina.

Anda bebas menyimpulkan semua pengalaman ini, namun bagi saya ia memberi inspirasi tentang kendaraan sebagai sarana menuju kebahagiaan. Rupanya, kualitas rangkulan kita bersama kehidupan dan orang lain, bisa menjadi kendaraan menuju kebahagiaan, yang jauh lebih memadai dibandingkan kendaraan mana pun. Anda punya kendaraan lain?

 
Penulis: Gede Prama, Penerbit: PT Elex Media Komputindo

comments powered by Disqus

Sembilan Langkah Supaya Anak Mau makan

Bukan itu saja. Ketika disuapi, anak bertingkah macam- macam. Ia lari ke sana ke mari, dan menangis jika dipaksa duduk. Jika pun mau makan, makanan tersebut tak dikunyah segera, tetapi diemut dulu.

connect with abatasa