Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Motivation»Mendapat Ganti yang Lebih Baik

Mendapat Ganti yang Lebih Baik

``Bu... tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. la tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat.``

Selasa, 04 November 2014

Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. la tengah berdiri di sebuah konter Bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian. Bu­kan masalah uang yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.

 

Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang. Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. la laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa dan munajat.

 

Seolah mendapat ilham dari Alloh, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infak­kan kepada anak-anak yatim yang berada di lingkungannya. Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di Bank dan ke­mudian membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar.

 

la tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. la lang­sung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secang­kir teh.

Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang maji­kan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka ber­dua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda, la memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggal­kan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modem Indonesia zaman sekarang.

 

Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah maji­kannya untuk memyampaikan sebuah berita.

 

``Bu... tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. la tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat.``

 

Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, ``Oalah... Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku kan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya.``

 

Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Ba­gus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah Bank. Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah.

 

Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa keseha­tan untuk bunda dari anak-anaknya.

Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang.

 

Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam am- plop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata ``Subhanallah!`` Berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang menda­lam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira.

 

Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,

 

``Terima kasih ya Nak... Subhanallah, padahal baru sema­lam ibu berdoa mengadu kepada Alloh kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin... Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua nganterin uang sebanyak itu. Makasih ya, Nak... Nanti ibu juga mau telponin adik-adik- mu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah!``

 

Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata, ``Sa- ma-sama bu... Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghaji- kan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin....``

 

Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah. Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Alloh lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun 2004. Walil- lahil Hamd!



Disalur dari 33 Kisah Keberkahan Para Pengamal Sedekah, Aqilah Selma Amalia

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa