Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Motivation»Mengubah Kemungkaran dengan Cara Mengumandakan Adzan II

Mengubah Kemungkaran dengan Cara Mengumandakan Adzan II

"Wahai penduduk semuanya, aku adalah perempuan yang sudah bersuami. Laki-laki ini menginginkan tubuhku dan memasukkanku ke dalam rumahnya. Selama aku berada di sini, suamiku pasti menceraikanku. Oleh sebab itu, aku past...

Rabu, 02 April 2014

Sambungan dari Mengubah Kemungkaran dengan Cara Mengumandakan Adzan

"Wahai penduduk semuanya, aku adalah perempuan yang sudah bersuami. Laki-laki ini menginginkan tubuhku dan memasukkanku ke dalam rumahnya. Selama aku berada di sini, suamiku pasti menceraikanku. Oleh sebab itu, aku pasti terkena cacian berhari-hari."

Penjahit itu kembali meneruskan ceritanya: "Aku menemui pemuda itu dan mengingkari perbuatannya, lalu aku hendak melepaskan gadis itu dari genggaman pemuda itu. Lantas pemuda itu memukulku dengan besi yang ada di tangannya, sehingga kepalaku sobek. Kemudian aku menunaikan shalat Isya dengan orang-orang. Aku pun mengatakan kepada para jamaah bahwa pemuda ini telah melakukan perbuatan yangtelah kalian ketahui. Mari, kalian semua bergegas bersamaku mencegahnya dan melepaskan gadis itu darinya.

Orang-orang berangkat bersama kami dan menyerang rumahnya. Namun, tak lama setelah itu, sekelompok anak buah putra mahkota itu datang membawa tongkat, kemudian memukuliku sangat keras, sehingga terluka dan berdarah-darah. Lalu, mereka mengusir kami dari rumahnya. Kami merasa sangat hina, kemudian aku pulang ke rumah. Saat itu aku tidak tahu arah menuju rumahku lantaran sakit yang kuderita dan banyaknya darah yang keluar. Aku mencoba untuk tidur, namun tidak bisa.

Aku bingung apa yang dapat aku perbuat untuk menyelamatkan gadis itu dari cengkeraman pemuda itu pada malam hari, agar gadis itu dapat pulang ke rumahnya dan tidak diceraikan oleh suaminya? Lantas, aku mempunyai ide untuk mengumandangkan azan Subuh pada tengah malam agar dia mengira waktu Subuh telah datang dan kemudian dia melepaskan gadis itu dari rumahnya untuk kembali ke rumah suaminya. Maka aku pun naik ke atas menara dan sesekali melihat pintu rumah pemuda itu. Sebelum azan aku kumandangkan, aku melihat gadis itu apakah telah keluar. Kemudian aku kumandangkan azan, tetapi gadis itu belum juga keluar. Setelah itu, aku bertekad apabila gadis itu belum keluar juga dari rumah pemuda itu, maka aku tunaikan saja shalat, sehingga terlihat waktu pagi benar-benar telah tiba.

Saat aku melihat-lihat apakah perempuan itu sudah keluar, tiba-tiba saja di jalanan telah dipenuhi dengan pasukan penunggang kuda dan beberapa pejalan kaki.

Mereka mengatakan, "Siapa yang mengumandangkan azan pada jam segini?"

"Aku," jawabku dengan tegas. "Aku hanya ingin orang-orang membantuku menolongnya."

"Turun," perintah mereka.

Aku lantas turun.

"Penuhilah titah Amirul Mukminin!"

Mereka membawaku menemui Amirul Mukminin. Saat melihatnya duduk di singgsana khalifah, aku gemetar karena khawatir dan sangat ketakutan.

"Mendekatlah," perintah Amirul Mukminin.

Aku lantas mendekat.

Kemudian dia berkata kepadaku, "Buang rasa takutmu dan coba tenangkan hatimu."

Amirul Mukminin terus-menerus bersikap lembut kepadaku, sehingga aku merasa tenang dan rasa takutku pun hilang.

"Kamukah orang yang mengumandangkan adzan pada jam segitu?" tanya Amirul Mukminin.

"Benar, wahai Amirul Mukminin!" jawabku.

"Apa yang mendorongmu untuk mengumandangkan adzan pada jam segitu, padahal malam masih panjang, sehingga dengan apa yang kamu lakukan itu dikhawatirkan dapat menimbulkan salah persepsi bagi orang yang berpuasa, musafir, orang yang shalat, dan yang lainnya."

Amirul Mukminin menaruh kepercayaan kepadaku, sehingga aku mau menceritakan kisahku itu.

"Kamu adalah orang yang dapat dipercaya," kata Amirul Mukminin.

Setelah itu, aku ceritakan semua peristiwa itu kepadanya. Mendengarceritaku, Amirul Mukminin marah sejadi-jadinya. Dia memerintahkan pengawalnya untuk menghadirkan putra mahkota beserta perempuan itu dalam keadaan keduanya apa adanya. Keduanya dihadirkan dengan cepat. Saat itu dipanggil pula suami perempuan itu beserta perempuan-perempuan tsiqqah (yang dapat dipercaya) dan perempuan tsiqqah dari pihak laki-laki. Selanjutnya, Amirul Mukminin menyuruh suaminya agar memaafkan dan tetap bersikap baik kepada istrinya, karena dia dalam keadaan dipaksa dan perbuatannya dapat dimaafkan. Setelah itu, Amirul Mukminin menghampiri putra mahkota tadi.

"Berapa banyak rezeki yang ada padamu? Berapa hartamu? Berapa pula istri-istri dan selir-seliryang kamu miliki?"tanya Amirul Mukminin.

Putra mahkota itu menuturkan kepadanya banyak hal.

"Sungguh celaka kamu!" ujar Amirul Mukminin kepada putra mahkota. "Apa tidak cukup bagimu semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadamu, sehingga kamu merusak kehormatan Allah, melanggar had-had-Nya, dan berani terhadap kekuasaan? Apa semua itu belum cukup, sehingga kamu sengaja memukuli, menghina, dan menyakiti seorang laki-laki yang telah menyuruhmu kepada yang makruf dan mencegahmu dari kemungkaran?"

Putra mahkota itu diam dan tidak kuasa menjawab. Setelah itu, Amirul Mukminin memerintahkan pengawalnya agar kaki putra mahkota itu diikatdan lehernya dibelenggu, lalu memerintahkan mereka agar dia dimasukkan ke dalam karunggoni, setelah dipukul dengan tongkat sekeras-kerasnya, sehingga hal itu membuatku ketakutan, kemudian diadilempardi sungai Tigris. Saat itu adalah akhir-akhir masa hayatnya. Selanjutnya, Amirul Mukminin memerintahkan agar memberi pagar pembatas seluruh rumahnya

di mana di situ terdapat gudang dan harta yang diambilnya dari baitulmal.

Setelah itu, Amirul Mukminin berkata kepada penjahit yang saleh itu, "Setiap kali kamu melihat kemungkaran, baik itu yang kecil atau besar, walaupun seperti ini dia menunjuk polisi, maka beritahu aku jika memungkinkan aku untuk bertemu. Jika tidak dan memungkinkan azan sebagai perantara antara aku dengan dirimu, maka kumandangkanlah azan kapan pun itu atau boleh juga pada waktumu seperti ini."

Karena peristiwa inilah, apa pun yang kami perintahkan kepada pejabat-pejabat negara itu pasti mereka kerjakan. Dan manakala kami melarang sesuatu terhadap mereka, pasti mereka tinggalkan karena rasa takut mereka terhadap Khalifah Al- Mu’tadhid. Aku tidak perlu mengumandangkan azan seperti yang terjadi pada waktu yang lalu, kecuali seperti yang terjadi sekarang ini.

 

Kisah-kisah tentang Keimanan dan Akhlak

comments powered by Disqus

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiiq

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi - radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakekn

connect with abatasa