Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Motivation»Sang Penyair yang Pemberani (Bag2)

Sang Penyair yang Pemberani (Bag2)

Sebagai sosok yang pemberani sekaligus pandai bersyair, Abdullah bin Rawahah juga ikut mengobarkan semangat juang pasukan Muslim dengan syair-syair yang indah. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa pada saat rasulullah SAW memb

Senin, 08 Juli 2013

Panglima Penyair yang Tangguh
Sebagai sosok yang pemberani sekaligus pandai bersyair, Abdullah bin Rawahah juga ikut mengobarkan semangat juang pasukan Muslim dengan syair-syair yang indah. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa pada saat rasulullah SAW memberatkan pasukan Muslim medan Perang Mu’tah melawan pasukan Romawi. Abdullah bin Rawahah termasuk salah satu di antara tiga panglima perang yang ditunjukan oleh beliau.

Adapun dua orang panglima perang lainnya adalah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abdul Muthalib.
Rasulullah SAW berkata, Jika Zaid bin Haritsah menjadi syahid, maka kepemimpinan perang akan diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib, jika kemudian Ja’far juga menjadi syahid, maka panglima perang akan beralih kepada Abdullah bin Rawa ha h. Posisi tersebut memang layak dipegang oleh Abdullah karena sikapnya yang dikenal pemberani, pantang menyerah, dan tidak takut mati.

Ketika pasukan Muslim siap berangkat menuju Mu’tah, Abdullah berkata, "Semoga Allah SWT mencurahkan kebaikan pagi ini dan membela kalian." Kemudian, dia juga mengucapkan bait-bait syair yang mengobarkan semangat juang kaum Muslimin. Syair-syair yang diucapkan adalah:

"Yang aku minta dari Allah Yang Rahman hanyalah ampunan dan memukul musuh sehingga dosaku diampuni atau tusukan pedang di kota Haran yang dapat menembus jantung hati musuh mereka berkata saat melewati jasadku Allah menunjukkan panglima itu untuk syahid."

Ketika pasukan Muslim sampai di Negeri Syam, mereka mendengar bahwa Heraklius pemimpin Romawi telah mengirimkan pasukan sebanyak 100.000 orang. Kemudian, beberapa kabilah Arab juga ikut bergabung bersama pasukan Romawi sebanyak 100.000 pasukan; sehingga jumlah mereka total sekitar 200.000 pasukan. Jumlah yang sangat besar dan tidak berbanding dengan jumlah pasukan Islam yang hanya 3.000 orang. Para panglima kaum Muslimin bersepakat untuk bertahan hingga selama 2 hari untuk mengatur strategi, karena Perang Mu’tah ini merupakan perang pertama kaum muslimin melawan bangsa adidaya yang berkuasa saat itu, yakni bangsa Romawi.

Pada saat itu beberapa Sahabat mengusulkan untuk menulis surat kepada Rasulullah SAW dan mengabarkan perihal jumlah pasukan Romawi yang jelas jauh lebih besar. Tetapi, usulan ini ditolak oleh Abdullah. Kemudian, dia berdiri di hadapan pasukan Muslim dan berkata, "Saudara-saudara sekalian! Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan, atau banyaknya jumlah. Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan agama yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Ayo kita maju! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala!"

Mendengar seruan dari Abdullah tersebut, pasukan Muslim menjadi kembali bersemangat. Setelah sebelumnya sempat merasa kalah sebelum berperang karena melihat jumlah pasukan Romawi yang demikian besar, mereka kembali bersiap. Akhirnya, berangkatlah pasukan Muslim ke medan perang dengan semangat yang tinggi untuk menegakkan ajaran Allah.

Meskipun jumlah pasukan kaum Muslimin jauh lebih sedikit, jumlah syuhada dalam perang ini hanya 8 orang. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya korban yang jatuh di kalangan pasukan Romawi. Saat itu panglima perang pertama, yaitu Zaid bin Haritsah, gugur menjadi syahid. Kemudian bendera kepemimpinan beralih kepada Ja’far bin Abi Thalib. Setelah Ja’far juga gugur di medan perang sebagai syahid, Abdullah bin Rawahah mengambil bendera kepemimpinan dan menggantikan posisi Ja’far. Melihat Ja’far gugur sebagai syahid, pasukan Muslim sempat sedikit goyah dan kurang bersemangat.

Pada saat itu, Abdullah lalu tampil dengan gagah dan berkata dengan lantang di hadapan para pasukan Muslimin:

"Aku bersumpah demi Allah, akan maju ke medan perang baik suka maupun tidak seluruh manusia telah siap bertempur tapi kenapa sepertinya engkau, wahai jiwaku, menolak Surga telah tiba kesempatan yang aku idamkan bukankah engkau ini hanya setetes saja dari lautan."

Kemudian, dia melanjutkan syairnya:
"Wahai jiwaku, sekiranya engkau tidak gugur di medan perang, engkau tetap akan mati inilah merpati kematian telah menyambutmu apa yang kau idam-idamkan telah engkau peroleh jika engkau ikuti jejak keduanya (dua panglima sebelumnya) engkau beruntung sebagai panglima sejati jika engkau mundur pasti sengsara dan rugi."
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

Perkataan Ibnu Rawahah tersebut kembali mengobarkan semangat juang kaum Muslimin dalam perang. Hingga akhirnya Abdullah bin Rawahah pun menjadi syahid di medan perang. Melihat ketiga panglimanya tewas menjadi syahid, pasukan Muslim akhirnya menunjuk Khalid bin Walid sebagai panglima perang yang menggantikan ketiganya, hingga perang usai.

Pada saat sedang terjadi perang tersebut, Rasulullah SAW beserta beberapa Sahabat yang tidak ikut berperang sedang bercakap-cakap tentang para pasukan Muslim dan para panglimanya. Di tengah percakapan tersebut, tiba-tiba Rasulullah SAW terdiam sejenak. Tampak kedua mata beliau basah dan berkaca-kaca. Beliau lalu berkata kepada para Sahabat di sekelilingnya, "Zaid bin Haritsah telah menjadi syahid, kemudian digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib yang akhirnya menjadi syahid, kemudian digantikan oleh Abdullah bin Rawahah yang akhirnya juga menjadi syahid, ketiganya akan diangkat ke surga bersamaku."

Demikianlah kisah sosok pemberani dan bersahaja Abdullah bin Rawahah yang akhirnya menjadi syahid dalam perang menegakkan ajaran Allah SWT.

comments powered by Disqus

Keajaiban-Keajaiban Dunia Ketika Rasulullah S.A.W Dilahirkan

Kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. pada 12 Rabiulawal, Tahun Gajah di Mekah al-Mukarramah sebagai pembuka rahmat di pelosok alam semesta. Kelahiran baginda menjadi seribu satu tanda bahwa baginda akan menjadi utusan terakhir dala

connect with abatasa