Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Perbanyak Pendapatan Bukan Pendapat

Perbanyak Pendapatan Bukan Pendapat

Jadi generasi pendapatan adalah generasi yang segera menentukan pilihan untuk menuju Jakarta dengan segala resiko yang dinikmatinya.

Kamis, 01 Juni 2006

Hidup ini sangat diperlukan pendapatan agar banyak bermanfaat bagi banyak orang, dan bukan hanya memperbanyak pendapat sehingga tidak pernah sampai tujuan.
 
Ilustrasi sederhananya adalah, kalau kita dari Bandung mau pergi ke Jakarta, maka ada banyak jalur yang bisa kita tempuh; pertama melalui Puncak, kedua melalui Jonggol, ketiga melalui Sukabumi, keempat melalui tol Cipularang, kelima melalui Purwakarta, keenam melalui jalur Kereta, ketujuh melalui Udara dan masih banyak jalan lagi menuju Jakarta.
 
Tidak salah memang, kalau kita ingin pergi ke Jakarta, kemudian setiap diri kita mengajukan pendapat dengan segala alasan efektivitas untuk menuju ke Jakarta. Tetapi, kalau kita hanya banyak pendapat saja, kapan kita akan sampai ke Jakarta. 
 
Beda dengan kalau kita berkonsep pendapatan, pada tipe ini energinya lebih ditekankan kepada sampai Jakarta bukan pada pendapat tentang tingkat efektifitas untuk mencapai Jakarta. Jadi generasi pendapatan adalah generasi yang segera menentukan pilihan untuk menuju Jakarta dengan segala resiko yang dinikmatinya.
 
Contoh lain misalnya, gempa yang menimpa Jogjakarta dan sekitarnya. Banyak diantara kita, hanya diskusi tentang cara paling efektif untuk menangani korban gempa. Tidak salah memang kita diskusi untuk mengajukan berbagai pendapat agar lebih efektif. Namun, terlalu banyak diskusi dan masukan dari berbagai pendapat, para korban keburu kelaparan, kedinginan, dan semakin terlunta-lunta. Padahal barang-barang bantuan sudah menumpuk di posko-posko tanpa ada kecepatan distribusi. Apalagi, kita hanya berpendapat saja dan lupa memberi bantuan kepada mereka.
 
Saya kagum sekali dengan penduduk yang kena musibah itu, ada beberapa orang tidak banyak pendapat, mereka dengan akrap mengumpulkan beberapa jenis ubi-ubian, kemudian dimasak bersama-sama dan dibagikan sama rata. Bahkan ada sebuah toko kelontong dari sisa-sisa reruntuhan rumahnya, dia kumpulkan kemudian dibagi-bagikan ke saudara-saudaranya sesama terkena musibah. Padahal dia sendiri juga sangat memerlukan barang itu.
 

Begitu juga banyak diantara kita yang akhir-akhir ini kekurangan keuangan, sebab gaji tidak naik, sedangkan kebutuhan hidup terus meningkat. Mereka sering diskusi, mengajukan pendapat paling efektif untuk menambah kebutuhan keluarganya. Namun, pendapat tinggal pendapat dan tidak pernah segera bergerak dari hasil pendapat itu. Dampaknya, pendapat semakin banyak sedangkan pendapatan semakin menurun.
 
Sahabat CyberMQ,
 
Bukan berarti kita tidak boleh berpendapat, sebab berpendapat bisa mengasah ketajaman gagasan dalam menghadapi hidup ini. Namun, hati-hati kalau kita hanya memperbanyak pendapat dan lupa meningkatkan pendapatan. 
 
Berani hadapi tantangan untuk meningkatkan pendapat yang diwujudkan menjadi pendapatan !!! Atau kita hanya banyak pendapat dan lupa pendapatan. Sehingga hidup dalam infrastruktur kemiskinan di berbagai peluang kehidupan. Akhirnya, hidup terkubur oleh pendapat . pendapat . pendapat dan hanya pendapat. Bagaimana pendapat sahabat ???
 
Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri@mq.co.id
 
 

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa