Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Emosional Financial Behavior

Emosional Financial Behavior

Mari kita petakan prilaku keuangan kita secara “Emosional Financial Behavior”, agar dalam mensikapi kehidupan pemenuhan kebutuhan, bisa berprilaku secara tersinergi.

Jum'at, 07 April 2006

Kalau kita, mengelola keuangan dengan pendekatan emosi, biasanya kita menjadi orang-orang kreatif dalam menghadapi kondisi keuangan. Prilaku kehidupannya adalah hitungan kreativitas. Maka, kalau kita kekurangan keuangan, aktivitas yang dilakukan adalah menambah penghasilan. Akibat positifnya, kita punya kemampuan lebih untuk memperpanjang nafas keuangan.
 
Kalau kita berkecerdasan emosi bagus, biasanya mempunyai; (1) Kemampuan memotivasi diri sendiri dalam menghadapi keuangan secara bagus, apapun kondisi keuangannya (2) Kemampuan mengetahui kelebihan dan kekurangan diri dalam menghadapi dan mengelola keuangan, (3) Kemampuan bersosialisasi, dengan sosialisasi itu, kita akan punya kemampuan lebih dalam mengintip peluang mendapatkan keuangan; (4) Kemampuan berempati, dengan modal berempati, kita akan punya daya dorong untuk memodifikasi aneka kelebihan dan kekurangan keuangan terhadap pemenuhan diri dan orang lain. 
 
Bagi kita yang keuangannya sangat baik dan prilaku kita dalam menghadapi keuangan secara emosional juga baik, maka uang itu akan tersinergi secara optimal. Keuangan dari hasil kita sebagai karyawan, konsultan, bisnis dan investor akan tersalurkan pada jalur-jalur secara benar, optimal dan ada nilai tambah.
 
Bagi kita yang keuangannya sangat baik, namun prilaku kita dalam menghadapi keuangan secara emosional sangat kurang, maka prilaku kita dalam menghadapi keuangan adalah sangat hura-hura atau mengeluarkan uang kepada pos-pos yang tidak perlu. Biasanya berkecenderungan untuk menutupi gengsi. Kita ingin dianggap sebagai karyawan, konsultan, pebisnis, dan investor sukses dengan cara memasang label-label dalam diri dan sistem kita. Membeli barang-barang yang sebenarnya tidak perlu sekali. Makanya, kenaikan penghasilan, tanpa diimbangi dengan pembinaan kecerdasan emosi, tidak akan meningkatkan produktivitas. Biasanya produktivitas seseorang yang berkaitan dengan penambahan penghasilan hanya akan bertahan tiga bulan.
 
Bagi kita yang keuangannya sangat kurang, namun prilaku kita dalam menghadapi keuangan secara emosional sangat baik, maka prilaku kita untuk bertahan hidup sebagai karyawan, konsultan, pebisnis, dan investor sangat kreatif untuk memenuhi kekurangan keuangan itu. Mereka tidak mau membeli sesuatu yang berdampak menambah biaya. Apabila memiliki motor atau mobil, tidak mau barang itu mengandung nilai biaya, namun punya nilai tambah. Misalnya disewakan dan hasil sewa itu, bisa untuk membiayai motor dan mobilnya.
 
Sedang bagi kita yang keuangannya sangat kurang dan prilaku kita dalam menghadapi keuangan secara emosinal juga sangat kurang, maka untuk bertahan hidup sebagai karyawan, konsultan, pebisnis, dan investor akan stress optimal. Yaitu sebuah prilaku yang kelihatannya sangat masuk akal padahal yang kita anggap sangat masuk akal itu tidak masuk akal. Ketika kami diundang oleh beberapa perusahaan secara nasional maupun internasional, sebuah kejutan yang luar biasa adalah, banyak orang antri pinjam di koperasi itu bukan untuk memenuhi kebutuhan produktivitas, namun kebutuhan konsumtif. Akibatnya, penghasilan mereka hanya habis untuk mengangsur cicilan-cicilan beban kehidupan yang sebenarnya tidak harus ada.
 

Banyak diantara kita yang keuangannya sangat kurang baik dalam posisi sebagai karyawan, konsultan, pebisnis, dan investor, dan ini terjadi secara terus menerus, maka kita tutupi kekurangan kita dengan cara memaksakan diri berhutang yang sebenarnya tidak perlu terjadi. 
 
Saya sering kedatangan tamu dengan penampilan yang luar biasa keren, namun diakhir pembicaraan selalu ditutup dengan mau pinjam uang dengan jumlah yang tidak rasional kalau dibanding dengan penampilannya. 
 
Bahkan, untuk menutupi penampilan dan gaya hidupnya, kita rela untuk makan serba pas-pasan yang penting terlihat sangat keren dengan terlilit hutang yang dibuatnya sendiri. 
 
Sahabat CyberMQ,
 
Mari kita petakan prilaku keuangan kita secara “Emosional Financial Behavior” , agar dalam mensikapi kehidupan pemenuhan kebutuhan, bisa berprilaku secara tersinergi.
 
Berani hadapi tantangan keuangan sangat baik dan prilaku kita sebagai karyawan, konsultan, pebisnis, dan investor dalam mengahadapi keuangan secara emosional juga sangat baik ??? Atau kita akan hidup selalu terjebak kekurangan keuangan dan berprilaku untuk mendapatkan keuangan dengan terbebani stress optimal karena terjebak gengsi, bagaimana pendapat sahabat !!! 
 
Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri@mq.co.id
 
 
 
 

comments powered by Disqus

Kumpulan Hadits tentang Keluarga

Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya)

connect with abatasa