Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Keuangan Level Mana

Keuangan Level Mana

Setiap orang mendambakan keuangan yang banyak. Pertanyaannya adalah keuangan kita pada level yang mana?

Kamis, 23 Maret 2006

Selama ini, Insya Allah kita termasuk orang yang punya uang, berapapun jumlahnya. Permasalahannya adalah keuangan kita pada level mana. Ada tiga pendekatan seseorang dalam menghadapi keuangannya. Pertama, Intelegence financial, yaitu keuangan yang didasarkan pada intelegensi. Kedua, Emosional Financial, yaitu keuangan yang didasarkan pada emosi. Ketiga, Spiritual Financial, yaitu keuangan yang didasarkan pada spiritual.
 

Intelegence Financial; 
 
Kalau kita dalam pengelolaan keuangan dengan pendekatan intelegensi, biasanya prilaku kita sangat rasional secara matematis. Prilaku kehidupannya adalah hitungan matematis. Maka, kalau kita kekurangan keuangan, aktivitas yang dilakukan adalah menghemat. Tidak salah memang, hidup menghemat. Namun, apabila menghemat yang salah akan mengurangi produktivitas kita. Intinya, menghemat adalah cara paling tradisional untuk bertahan hidup.
 
Emosional Financial; 
 
Kalau kita dalam pengelolaan keuangan dengan pendekatan emosi, biasanya kita menjadi orang-orang kreatif dalam menghadapi kondisi keuangan. Prilaku kehidupannya adalah hitungan kreativitas. Maka, kalau kita kekurangan keuangan, aktivitas yang dilakukan adalah menambah penghasilan. Akibat positifnya adalah kita punya kemampuan lebih untuk memperpanjang nafas keuangan.
 
Spiritual Financial;
 
Kalau kita dalam pengelolaan keuangan dengan pendekatan spiritual, biasanya kita menjadi orang-orang yang merasa resah kalau keuangannya tidak bermanfaat optimal bagi banyak orang. Maka, ahli keuangan secara spiritual, selalu berusaha keuangannya ada dampak optimal bagi banyak orang. Kita akan rajin bersedekah dalam bentuk yang beraneka ragam, bisa dalam bentuk bersedekah langsung bagi yang membutuhkan atau bersedekah secara tidak langsung dengan cara menanamkan modal dengan niat agar orang-orang menjadi mandiri secara keuangan.

Sahabat MQ;

Setiap orang mendambakan keuangan yang banyak. Pertanyaannya adalah keuangan kita pada level yang mana? Kalau hanya pada level kecerdasan keuangan secara intelegensi, maka biasanya menjadi orang-orang yang hanya menghemat dan berkecenderungan pelit. Sedangkan kalau kita pada level kecerdasan keuangan secara emosi, maka biasanya menjadi orang-orang yang kreatif untuk menutupi kekurangan keuangannya. Namun kalau kita pada level kecerdasan keuangan secara spiritual, maka biasanya berkecenderungan menjadi orang-orang yang ingin mengangkat ekonomi lingkungan. Mereka berkeyakinan, bahwa dengan mempermudah orang lain dirinya akan menjadi mudah juga.

Pertanyaannya adalah keuangan kita pada level mana? Berani hadapi tantangan keuangan secara spiritual? Atau tetap bertahan pada level keuangan secara intelegensi yang berdampak semakin kaya harta-semakin miskin pencerahan amal!!!. Bagaimana pendapat sahabat ???

Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri@mq.co.id



 

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa