Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Berkurban atau jadi kurban

Berkurban atau jadi kurban

Kisah menarik dengan judul: “Trimo, tukang sampah yang berhasil membiayai istrinya berhaji”.

Kamis, 12 Januari 2006

Ketika saya membeli majalah Tarbawi edisi 124 tahun 7, pada halaman 45 ada kisah menarik dengan judul: “Trimo, tukang sampah yang berhasil membiayai istrinya berhaji”.
 
Kisahnya sangat sederhana, yaitu pak. Trimo, menikah dengan istrinya tahun 1988. Sebelum dinikahi, istrinya yang bernama Jumroh itu, hidupnya ikut orang. Kebetulan kalau shalat Jumat, pak. Trimo sering lewat depan rumah tempat calon istrinya bekerja. Kini usia istrinya 41 tahun dan pak. Trimo 38 tahun.
 
Sekarang pak. Trimo bertempat tinggal di daerah Cirendeu, Tangerang, Banten. Beliau ngontrak rumah petak yang dulunya berupa tanah, kemudian di bangun rumah papan yang sangat sederhana. 
 
Pekerjaan pak. Trimo adalah tukang sampah, harus bertanggung jawab menghidupi keluarga dengan satu putri bernama Intan. Penghasilannya tidak besar, cuma Rp. 800.000,-. Penghasilan yang halal dan penuh berkah ini, bisa untuk menghidupi keluarga, sisanya dikirim ke kampung halaman, dan yang sangat mengejutkan istrinya masih bisa menabung untuk biaya haji.
 
Sejak awal menikah, istrinya sering bilang, dia ingin naik haji. Kalau melihat orang naik haji dia selalu menangis. Dia bilang:” Kapan saya kayak mereka, bisa ibadah haji.” Lihat jamaah haji di TV saja bisa menangis. 
 
Ketika istrinya melapor ke suaminya yaitu pak. Trimo, bahwa dirinya sudah mempunyai tabungan 20 juta, maka ketika itu semangat pak. Trimo untuk mencari uang tambahan pergi haji istrinya semakin menggebu. Semangat itu diwujudkan dengan paginya mengangkut sampah dan malamnya menjadi tukang pijat. Alhamdulillah, dengan semangat pijatnya, pak. Trimo bisa menabung 10 juta untuk biaya tambahan. 
 
Kisah diatas bisa menjadi pelajaran di “Universitas Kehidupan” kita bahwa untuk mencapai sesuatu harus berani berkurban. Tanpa mau berkurban, rasanya kita hanya mencapai kesuksesan hidup pada level jadi kurban.
 
Sahabat CyberMQ,
 
Sebenarnya kita harus punya rasa malu sebab pak. Trimo yang hanya tamatan tsanawiyah yaitu setingkat SMP, istrinya tidak tamat SD, rumah masih kontrak dirumah petak, penghasilan hanya Rp. 800.000,- dan aneka kekurangan lainnya, istrinya mampu pergi haji.
 
Sedangkan banyak diantara kita yang gajinya diatas Rp. 800.000, pendidikan tinggi, punya rumah lebih dari satu, dan aneka kelebihan lainnya, namun sampai mau pensiun dan mendekati ajal, belum punya kegigihan untuk pergi haji.
 

Saya jadi teringat dengan salah satu ayat yang berbunyi: “Dan berserulah manusia untuk mengerjakan haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru dunia yang jauh" (Al-Hajj: 27).
 
Ayat ini merupakan tantangan prestatif bagi kita semua, bahwa untuk pergi haji tidak harus menunggu banyaknya harta, tapi yang lebih penting adalah banyak jumlah kegigihan. Sebab pada ayat itu ada hikmah luar biasa yaitu datang dengan berjalan kaki, berarti bukan orang kaya. Mengendarai unta yang kurus, berarti juga bukan orang kaya.
 
Pertanyaan pada diri kita semua, kalau di bandingkan dengan keluarga bapak Trimo saja, insya Allah keuangan kita jauh lebih banyak. Namun, secara jujur banyak diantara kita lebih banyak uang namun lebih sedikit kegigihan pergi haji. 
 
Pak. Trimo, memang menjadi orang yang “Nrimo” yaitu menerima apa adanya dan di optimalkan. Istrinya bu “Jumroh” dan alhamdulillah berkesempatan lempar jumroh. Semoga putrinya yang bernama “Intan”, punya kekuatan menembus cita-citanya. 
 
Berani hadapi tantangan berkurban untuk pergi haji atau hidup jadi kurban. Salah satunya ketidak beranian untuk mememutuskan diri harus pergi haji!!!. Bagaimana pendapat sahabat ???
 
Masrukhul Amri : Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri@mq.co.id
 
 

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa