Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Not Just Ide

Not Just Ide

Satu ide dengan segudang keberanian, jauh lebih baik daripada segudang ide dengan satu keberanian.

Kamis, 15 Desember 2005

Satu ide dengan segudang keberanian, jauh lebih baik daripada segudang ide dengan satu keberanian.

Kalau kita berkumpul dan mengadakan perbincangan tetang banyak hal, maka kita jumpai banyak orang dengan sejuta ide-ide luar biasa. Namun ketika ide-ide itu sudah diformat dengan luar biasa bagusnya, hasilnya ide hanya sekedar ide.

Dan ide itu akan membusuk kemudian menjadi pupuk yang menyuburkan berjuta-juta ide berikutnya dan tidak menjadi pupuk untuk menyuburkan keberanian merealisasikan ide-ide tersebut. Hasilnya, ide kita semakin bertambah banyak dan keberanian kita semakin tambah sedikit.

Contoh sederhana,

Lebih dari seratus orang yang kuliah mengambil program S-2 dan lulus, ketika mereka mau pulang ke daerah masing-masing untuk berbakti kembali ke perguruan tinggi dimana mereka bekerja, mereka sering bertemu dan pamitan mau pulang.

Ketika kami ajukan pertanyaan: “ Mengapa tidak dilanjutkan sekalian S-3 ?”. Maka 99 persen menjawab:” Saya akan melajutkan S-3 sebentar lagi, saya harus mengumpulkan keilmuan tambahan dan uang dulu. S-2 saja kami sudah kesulitan memahami keilmuannya dan juga kesulitan keuangan. Apalagi melanjutkan S-3, keluarga kami akan terlantar.

Akibatanya, mereka pulang ke daerah asal dan hanya sedikit sekali yang bisa melajutkan S-3 sebab terjebak oleh rutinitas yang membuat keberanian kuliah S-3 menjadi karatan dan ada yang ingin melanjutkan S-3 hanya belum dapat izin, sebab dosen lainnya juga harus melanjutkan kuliah.

Jika ada yang mengambil S-3, sejauh pantauan kami, setelah mereka 10 tahun mengabdi dan kembali dalam kondisi usia diatas kepala 5, dan nantinya akan lulus setelah mendekati pensiun. Terus kapan mengamalkan ilmunya, sebab penyakit dan kematian dengan gembiranya menunggu.

Sedangkan satu orang yang memutuskan melanjutkan S-3, walaupun harus rela hidup sangat sederhana disebabkan lembaganya tidak menanggung beasiswa, alhamdulillah lulus S-3 dalam usia 44 tahun dan istrinya menyusul juga untuk mengambil S-2.

Keberanian yang membawa kesengsaraan sesaat, kemudian kembali ke almamaternya menduduki jabatan sangat stratejik dan sebagai motivator bagi teman-temannya yang hanya punya ide banyak dan tidak punya nyali keberanian kuliah S-3 dengan dalih biaya dan biaya. Bahkan satu sahabat saya, melanjutkan S-3 diluar tanggung jawab biaya lembaga dan pulang posisinya malah hilang karena ditinggal lama, akhirnya mendirikan perguruan tinggi sendiri dan menjadi rektor untuk perguruannya sendiri.

Ketika beliau mengundang kami untuk syukuran, karena sudah jadi doktor, air mata kami terjatuh secara tidak sengaja karena sangat haru. Rupanya “Guyonan” kami, ketika beliau lulus S-2 dan datang ke rumah untuk pamitan pulang ke daerahnya ditanggapi dengan sangat serius.
 

Kalau sahabat ingin tahu, tentang “Guyonannya”, yaitu: Ketika beliau lulus S-2 dan mau pamitan ke daerahnya, kami mengatakan: ”Lanjutkan saja S-3” sebab menuntut ilmu itu wajib, tidak mungkin Allah Swt tidak memberikan rizkinya dan saya belum pernah melihat orang mati kelaparan gara-gara mengambil S-3. Akhirnya keberanian mereka tergugah dan menjadi S-3 sedangkan lainnya terkubur oleh lubang S2 yang dibuatnya sendiri.

Dan kasus lain juga banyak, salah satunya, keberanian Mak Eroh, yang membelah gunung dengan cangkul dan peralatan sederhana lainnya. Beliau bukan orang kaya harta, tidak juga kaya ide. Tetapi beliau punya sejuta lebih kekayaan dan keberanian. Dampaknya, beliau mendapat hadiah “Kalpataru” dari pemerintah. Namun yang lebih penting, bukan hadiah “Kalpataru” itu, tetapi keberanian beliau menghasilkan sejuta manfaat bagi ummat.

Sahabat CyberMQ,

Hati-hati terhadap berjuta-juta ide yang kita miliki. Sebab, satu ide dengan segudang keberanian, jauh lebih baik daripada segudang ide dengan satu keberanian.

Berani menciptakan keberanian-keberanian atau sekedar ide dan ide dalam menghadapi kehidupan. !!! Bagaimana pendapat sahabat.

Masrukhul Amri :
Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri@manajemenqolbu.com






 

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa