Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Terpensiunkan oleh Potensinya Sendiri

Terpensiunkan oleh Potensinya Sendiri

Apabila kita punya saudara, kakak, bapak, ibu atau tetangga, ketika mereka menjadi karyawan sebuah perusahaan atau lembaga pemerintahan akan mengalami pensiun.

Rabu, 30 November 2005

Apabila kita punya saudara, kakak, bapak, ibu atau tetangga, ketika mereka menjadi karyawan sebuah perusahaan atau lembaga pemerintahan akan mengalami pensiun.
  
Salah satu penyebab seseorang itu pensiun adalah faktor usia sehingga diduga sudah tidak produktif lagi untuk menjalani aktivitas tugas atau terpaksa dipensiunkan dini karena berbagai hal yang berkaitan dengan perusahaan atau dirinya sendiri.
  
Kisah pensiun seperti diatas, tentunya akan mengganggu kehidupan kita. Bisa penghasilan berkurang atau kita akan mengalami kelelahan kehidupan karena merasa sudah tidak terpakai lagi. Dan ini harus segera diantisipasi dengan aktivitas baru.
  
Sebenarnya, dalam kehidupan ini, banyak diantara kita yang mengalami pensiun walaupun kelihatannya masih bekerja dan biasanya kita tidak menyadari bahwa dirinya sudah pensiun, sebab pensiunnya bersifat terselubung.
  
Pensiun terselubung ini, dampak negatifnya jauh lebih besar dibanding pensiun secara alamiah karena faktor usia atau perusahaan mengalami permasalahan. Sebab pensiun terselubung ini faktor utamanya dari diri.
  
Penyebab pensiun terselubung ini adalah potensi kita sudah tidak “ngefek” terhadap tuntutan kehidupan. Intinya, ilmu kehidupannya sudah tidak layak lagi untuk berkiprah.
  
Persis seperti bayi, kalau berteriak dan menangis asal-asalan, maka mendapat air susu ibunya akan lama sebab ibunya menganggap bayi itu belum begitu lapar atau memang dianggap hanya main-main saja. Namun, ketika bayi itu teriak dan menangis sekencang-kencangnya, maka dengan serta merta seorang ibu akan meninggalkan segala aktivitasnya untuk segera menyusui anaknya. Ini terjadi, karena ibu beranggapan bahwa anaknya memang sangat memerlukan air susu karena sudah kelaparan.
  

Ketika bayi itu sudah menjadi remaja dan akhirnya dewasa, ketika lapar dan haus menangis sekencang-kencangnya, maka yang didapat bukan air susu ibu. Mereka akan dianggap mengalami gangguan jiwa dan akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa.
 
Mengapa bayi berteriak dan menangis keras, ibunya langsung menyusui? Hal ini disebabkan ilmu teriakan dan menangisnya sebagai potensi optimal untuk mendapatkan rizki kehidupannya.
 
Namun, ketika menginjak remaja atau dewasa, mereka berteriak dan menangis sekeras-kerasnya, maka ibu, bapak, kakak, adik, tetangga akan segera memasung dan membawanya ke rumah sakit jiwa. Hal ini disebabkan ilmu teriakan dan menangisnya sebagai potensi kebodohan untuk mendapat rizki kehidupannya.
 
Begitu juga kehidupan kita, usia bertambah, pendidikan bertambah, kebutuhan perusahaan bertambah. Kalau kita tidak mengoptimalkan potensi kehidupan akan terpensiunkan oleh potensi kita sendiri.
 
Sahabat CyberMQ,
 

Hati-hatilah, kalau kita tidak merasa terpensiunkan, bisa jadi kita terjebak oleh kenyamanan sehingga menjadi tumpul sensitivitas terhadap masalah kita.
 
Berani hadapi tantangan untuk tidak terpensiunkan oleh potensi kita agar hidup semakin bermanfaat bagi banyak orang??? Bagaimana pendapat sahabat !!!
 
Masrukhul Amri : Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri@manajemenqolbu.com
 

comments powered by Disqus

Tenang Dalam Setiap Sikap

Saudaraku yang baik, ketenangan menjadi sesuatu yang dibutuhkan setiap orang. Terutama ketika sedang menghadapi masalah atau saat hendak mengambil keputusan. Orang yang tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak overacting. Orang

connect with abatasa