Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Kemandirian Spiritual

Kemandirian Spiritual

Kemandirian spiritual adalah sedih dan gembiranya tidak digantungkan pada kelapangan dan kesempitan.

Rabu, 20 Juli 2005

Kemandirian spiritual adalah sedih dan gembiranya tidak digantungkan pada kelapangan dan kesempitan, tapi nilai manfaat dan tidaknya dalam menghadapi hidup.Orang yang punya kemandirian spiritual ciri khasnya adalah kalau lapang mereka bersungguh-sungguh untuk mengoptimalkan rasa syukurnya, sehingga hidupnya menjadi semakin produktif.

Begitu juga, kalau mengalami kesempitan, mereka punya daya juang bersungguh-sungguh mengoptimalkan rasa sabar, sehingga hidup tidak menjadi layu karena kesempitan itu. Maka bagi orang yang punya kemandirian spiritual, biasanya berkecenderungan untuk selalu punya kemampuan menjaga stamina energi produktifitas kehidupannya. Kalau kita mau jujur, dalam membuat pondasi kemandirian spiritual, maka membuat pondasi sabar akan jauh lebih mudah dibanding membuat pondasi syukur.

Contoh sangat sederhana saja, ketika terjadi gempa dan badai tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya, maka hampir orang seluruh indonesia dan bahkan dunia yang selama ini energinya terbuang tidak bersabar yang diwujudkan dengan pertengkaran sana-sini tanpa ujung pangkal, maka ketika terjadi musibah itu sebagaian besar ummat manusia ini terfocus untuk punya rasa sabar luar biasa. Sabar menahan marah, sabar untuk mengoptimalkan sedekah dan lain sebagainya.

Intinya, semuanya mampu melepaskan rasa kejengkelan yang selama ini sudah menjangkit secara sangat mendalam. Dan Aceh banyak menerima bantuan. Begitu juga dalam struktur keluarga, hasil pengamatan kami selama bertahun-tahun keluarga dalam posisioning kesempitan justru lebih bisa saling bekerja sama. Namun ketika posisi keluarga merangkak menuju kemudahan, permasalahan-permasalahan keluarga yang selama ini bisa dipertahankan justru menjadi tidak punya energi lagi untuk mempertahankannya.

Sahabat

Marilah sama-sama mewaspadai posisioning kemandirian spiritual kita, terutama pondasi sektor kemudahan. Sebab banyak individu, keluarga, perusahaan dan negara justru jatuh ketika tidak tahan berpijak disektor kemudahan. Berani menghadapi tantangan menjadi generasi yang punya kemandirian spiritual??? Bagaimana pendapat sahabat!!

comments powered by Disqus

Kumpulan Hadits tentang Keluarga

Lelaki tua itu menjawab: "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya)

connect with abatasa