Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Boro-Boro, Buru-Buru, Berat Coy

Boro-Boro, Buru-Buru, Berat Coy

Ketika kami melewati TNI AU, tepatnya didepan Hotel Oma, disitu ada truk besar yang akan mengangkut barang-barang rongsokan. Ketika kami lewat, membaca dibelakang truk itu tulisan “Boro-2, Buru-2, Berat Coy”. Setelah melewati sekitar 100 M, entah kena apa, pikiran kami mengingatkan, ...

Kamis, 03 Juli 2008

Tanggal 1 Juli 2008, kami berkesempatan untuk berolahraga  bersepeda. Berangkat dari rumah pukul 06.30 WIB dengan rute Setiabudi, Punclut, Bengkok Nol, Lembang, Teropong Bintang Bosca, Eldorado, dan pulang ke rumah. Waktu tempuh yang diperlukan adalah 2 jam 10 menit.

Ketika kami melewati TNI AU, tepatnya didepan Hotel Oma, disitu ada truk besar yang akan mengangkut barang-barang rongsokan. Ketika kami lewat, membaca dibelakang truk itu tulisan “Boro-2, Buru-2, Berat Coy”. Setelah melewati sekitar 100 M, entah kena apa, pikiran kami mengingatkan, agar sepeda membalik arah untuk mengambil gambar tulisan itu. Ketika pikiran mengingatkan, kayuhan sepedapun tetap terus, baru setelah 200 M, yaitu pas pintu gerbang tahu tauhiid yang terkenal itu, akhirnya motorik fisik, memutuskan untuk membalik arah dan mengambil gambar tulisan tersebut.

 

 

Kalimat, boro-boro, buru-buru, berat coy, merupakan ekspresi dari pemiliknya, sopirnya, bahkan kebanyakan dari kita semua, dihadapkan oleh keadaan nyata yaitu “boro-boro, buru-buru, berat coy”.

Sebenarnya, makna boro-boro, sangatlah luas, namun secara garis besar adalah sebuah keadaan yang tidak sesuai dengan harapan atau keadaan yang jauh dibawah standar. Misalnya “Boro-boro digaji cukup”, sebab kenyataannya adalah sudah gaji kurang, malah dipotong atau belum dibayar sepenuhnya. Contoh lain, “Boro-boro dibuatkan kopi, ucapan terimah kasih saja tidak”. Jadi intinya merupakan ekspresi kekecewaan atas harapan yang tidak terpenuhi.

Sedangkan, buru-buru, juga sangat luas maknanya, namun secara garis besar adalah sebuah kenyataan hidup yang selalu dikejar waktu, disebabkan oleh sebuah target yang harus terpenuhi. Karena selalu diburu-buru, maka kenyamanan menghadapi indahnya dunia ini menjadi berkurang.

Adapun, berat coy ….. sebagai bentuk ekspresi aktualisasi kepada orang lain tentang kenyataan yang sedang dihadapinya, memang berat kawan.

Jadi, kalau kita maknakan secara keseluruhan, “boro-boro, buru-buru, berat coy …”, adalah suatu pemenuhan kebutuhan hidup yang belum terpenuhi, tapi harus tetap dijalankan karena masih sangat butuh untuk bertahan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan dihadapkan pada kenyataan untuk memenuhi kebutuhan yang belum tercukupi itu harus bergerak dengan buru-buru sebab waktu selalu membatasinya, ditambah beban yang berat untuk memenuhi kebutuhan itu.  

Sahabat CyberMQ

Inilah kenyataan kehidupan kita dalam keseharian, yaitu kebutuhan belum terpenuhi, selalu buru-buru dan beban berat siap menanti kehidupan kita. Bahkan akhir-akhir ini, jauh lebih dihadapkan dengan kenyataan kekurangan pemenuhan kebutuhan, semakin terburu-buru, dan beban semakin sangat berat.

Akhirnya, pada diri kita, harus tetap berani menghadapi “boro-boro” yaitu kebutuhan yang semakin hari semakin sulit untuk memenuhinya, maka diperlukan kreativitas hidup agar kita terampil menyiasatinya, kalau tetap belum mampu memenuhinya, maka tetap gembira adalah obatnya. Begitu juga, kehidupan yang harus serba cepat dan bahkan mengarah kepada serba cepat yang “terburu-buru”, maka sangat diperlukan kehati-hatian, agar tidak merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Dan, beban “berat” keseharian kita ini, harus tetap kita angkut, sebab semakin menunda mengangkut atau menyelesaikannya, maka beban berat itu akan semakin berat dan memberatkan.

Kuncinya menjadi sangat sederhana, bagi kita yang karyawan, ketika menghadapi “boro-boro, buru-buru, berat coy”, maka nikmati saja, kemudian gaji kita minta ke perusahaan sedangkan rizki kita minta ke Tuhan. Sebab gaji bagian kecil dari rizki, sedangkan rizki bentuknya tidak hanya gaji, Tuhan Maha Kaya.

Begitu juga bagi pemilik perusahaan yang juga dihadapkan dengan”boro-boro, buru-buru, berat coy”, maka nikmati saja, kemudian produktivitas kita minta ke karyawan agar perusahaan tetap punya daya saing, sedangkan profit minta ke Tuhan. Sebab produktifitas karyawan ada batasnya, sedangkan profit dari Tuhan tidak ada batasnya. Sebab produktifitas bagian kecil dari element profit, sedangkan profit bentuknya tidak hanya dari faktor produktifitas. Tuhan Maha Kaya dan mampu menciptakan profit. MAKA TULISAN INI, DIKHUSUSKAN JUGA PADA ULANG TAHUNKU, MOHON DOA, SEMOGA HIDUP PENUH KEBERKAHAN DARI TUHAN.

Berani bersahabat dengan “Boro-boro, buru-buru, berat coy” dengan tetap hidup penuh kegembiraan dan keceriaan !!! Bagaimana pendapat sahabat ???

Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. Website http://amri.web.id e-mail : amri{at}mq{dot}

comments powered by Disqus

Kisah Mertua dan Menantu

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua. Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Ura

connect with abatasa