Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Kurang Ajar

Kurang Ajar

Secara manusiawi, kita takut adalah wajar. Namun, kalau hidup selalu ketakutan untuk melangkah, karena takut dengan berbagai prasangka masalah yang akan muncul, itu namanya kurang ajar. Wajar adalah sebuah bentuk aktivitas yang masih dalam...

Kamis, 19 Juni 2008

Secara manusiawi, kita takut adalah wajar. Namun, kalau hidup selalu ketakutan untuk melangkah, karena takut dengan berbagai prasangka masalah yang akan muncul, itu namanya kurang ajar. Wajar adalah sebuah bentuk aktivitas yang masih dalam garis normal. Kurang ajar, merupakan bentuk dari aktivitas yang menyimpang dari kewajaran. Bahkan di luar kewajaran yang mengarah kepada norma sopan santun atau aktivitas yang merugikan diri sendiri dan banyak orang.

Kembali kemasalah “kurang ajar”, yaitu sebuah aktivitas yang di luar kewajaran dan berkecenderungan ada unsur negatif yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Ketika kami berkesempatan untuk berkunjung ke kawah Gunung Kelut pada tanggal 7 Juni 2008, kemudian kalau ingin melihat kawah yang dulunya ada danau dan sekarang sudah tidak ada lagi sebab ditengah kawah itu sudah muncul gunung baru, maka perjalanan menuju kawah tersebut ada dua jalur. Pertama bisa melewati terowongan buatan yang berfungsi untuk lewat lahar kalau gunung meletus. Kedua lewat lereng sebelah terowongan itu, melalui jalur setapak.

Ketika kami sudah sampai pintu terowongan itu, muncul keraguan untuk melanjutkan, namun niat untuk tetap masuk jauh lebih besar, sehingga kami masuk dengan cara bergandeng tangan. Namun, setelah beberapa meter, muncul ketakutan yang sangat luar biasa, sebab sangat gelap sekali. Akhirnya kami putuskan kembali keluar dan membatalkan perjalanan, diiringi keringat dingin menahan rasa takut. Setelah sampai di luar, kami bertemu dengan seorang wanita yang sedang menunggu temen-temennya yang sedang melihat kawah baru disebelahnya, kemudian kami konsultasi. Beliau menjawab, masuk saja pak, nggak apa-apa khok. Tadi saya juga sudah masuk. Setelah bapak masuk, nanti sampai ujung ada tangga ke bawah dan disana banyak orang khok.

Jawaban optimis wanita tadi, menumbuhkan keberanian kami untuk mencoba kembali. Walaupun secara jujur, kami sangat ketakutan dan bahkan teman saya sambil memegang tangan saya sangat erat, dan ngomong apa saja, sebagai aktualisasi ketakutan sangat akut.

Akhirnya, kami pun juga sampai ke ujung terowongan itu. Luar biasa, disana ada tangga menuju kawah yang dulu ada danaunya dan sekarang muncul gunung baru disebabkan meletus satu tahun yang lalu. Walaupun, meletusnya dianggap tidak jadi. Tapi, gunung baru ditengah kawah itu, sangat luar biasa indahnya, dengan hiasan belerang mengepulkan asap.

Begitu juga, sekitar 12 tahun yang lalu, saya pernah jadi karyawan, dipanggil oleh direktur utama. Ketika dipanggil, hati saya sangat berbunga-bunga, sebab pada saat itu bertepatan dengan hari ulang tahun kelahiran. Dugaan saya akan mendapat hadiah kejutan, sebab beberapa hari sebelumnya, telah menyelesaikan proyek dengan profit yang lumayan besar. Rupanya, dugaan sangat meleset, kami dipanggil bukan mendapat hadiah tapi dipecat dengan tidak hormat dan tanpa pesangon dengan alasan yang saya tidak tahu pasti, baru ketahuan lima tahun berikutnya, ketika beliau datang dan minta maaf.

Pada saat itu, secara jujur sangat takut dengan masa depan, sebab istri sedang hamil anak pertama dan kami belum punya tabungan sama sekali. Terutama untuk biaya persalinan dan keperluan lain. Pada saat itu, kami ingin protes minta keadilan, namun kami sadar juga, pada saat itu tidak punya keberanian untuk memprotes. Akhirnya, kenyataan harus diterima apa adanya.

Sahabat CyberMQ

Kita semua pasti sering mengalami rasa takut yang sangat berlebih dan bahkan sampai tidak berdaya. Rasa takut itu sangat wajar, seperti yang juga pernah saya alami. Namun ketakutan berlebih sampai tidak berdaya dan itu terjadi terus menerus, namanya bukan wajar tapi kurang ajar.

Sebab, kalau kita punya rasa takut berlebih sampai merasa tidak berdaya dan itu terus menerus, berarti kita kehilangan keimanan. Sebab Tuhan pasti sangat Maha Berdaya. Karena Tuhan sangat Maha Berdaya, maka kita harus memanfaatkan kemaha keberdayaan Tuhan yang hebat itu. Salah satu caranya adalah kita pasrahkan saja kegigihan optimal kita dalam menghadapi hidup kepada yang Maha Berdaya. Nanti, Tuhan yang Maha Berdaya itu, akan memberdayakan kita dengan kebesaran-Nya.

Berani menghadapi tantangan kewajaran-kewajaran rasa takut kita sampai tidak berdaya, sehingga punya kesadaran, bahwa Tuhan Maha Berdaya dan bisa memberdayakan kita atas kehendak-Nya !!! Bagaimana pendapat sahabat.

Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. Website http://amri.web.id e-mail : amri{at}mq{dot}

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa