Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Bodohologi Seri Ke-2

Bodohologi Seri Ke-2

Bodohologi adalah ilmu yang mempelajari tentang optimalisasi kebodohan untuk mencapai kesuksesan hidup. Maksudnya adalah, bagaimana kebodohan-kebodohan yang kita miliki, tidak boleh menghambat keberanian-keberanian kita dalam menghadapi aneka permasalahan kehidupan. Tulisan bodohologi seri dua, terinspirasi oleh ...

Jum'at, 08 Februari 2008

Ketika kami menulis seminggu yang lalu dengan judul “bodohologi”, banyak komentar yang muncul, ada yang diblog dan sebagaian besar melalui sms dan email. Banyak yang setuju dan banyak juga yang tidak setuju.

Bodohologi adalah ilmu yang mempelajari tentang optimalisasi kebodohan untuk mencapai kesuksesan hidup. Maksudnya adalah, bagaimana kebodohan-kebodohan yang kita miliki, tidak boleh menghambat keberanian-keberanian kita dalam menghadapi aneka permasalahan kehidupan. Tulisan bodohologi seri dua, terinspirasi oleh beberapa teman dan jaringan bisnis yang saya jumpai selama tiga bulan terakhir

Secara garis besar, manusia dibagi menjadi empat kwadran; (1) Orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu, maka follow him; (2) Orang yang tahu tapi tidak tahu bahwa dia tahu, maka wake him up; (3) Orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, maka teach him; (4) Orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahum maka ignore him

Kemudian ada yang bertanya, kalau “bodohologi” termasuk pada kwadran mana? Secara pribadi saya akan menjawab bahwa “bodohologi” termasuk pada kwadran yang pertama yaitu orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu, maka follow him.

Mengapa bodohologi termasuk pada kwadran yang pertama? Ya … sebab orang yang punya ilmu “bodohologi” bukan hanya sadar bahwa dirinya bodoh, kemudian mau bertanya. Namun, orang ini termasuk sangat pandai, sebab dia tahu tentang kobodohannya dan tidak mau terjebak dan terhambat terhadap kebodohannya. Sehingga tidak mau mengecilkan potensi dirinya untuk menjadi sukses, walaupun dengan modal sebuah kebodohan.

Jadi, orang yang punya ilmu bodohologi, seperti orang terjun payung, dirinya sadar bahwa tidak bisa hidup sendiri, maka ketika terjun, mau bersahabat dengan kawan yang namanya “payung parasut”. Ketika dirinya bersahabat dengan payung parasut, walaupun baru pertama kali terjung payung, insyaAllah masih selamat. Namun, kalau seseorang yang merasa sudah terjung payung sampai lima ribu kali, karena merasa berpengalaman, dirinya tidak mau lagi bersahabat dengan kawan yang selama ini setia menemaninya, yaitu payung parasut. Apa yang terjadi, akan hancur dan kemungkinan besar akan meninggal dunia, walaupun sudah sangat berpengalaman terjun payung.

Sahabat CyberMQ

Bukankah banyak contoh dilapangan, orang-orang yang tidak pernah belajar ilmu “bodohologi”, bisa jadi gelarnya berjejer sampai untuk membacanya saja memerlukan tahan nafas sangat lama, namun yang terjadi adalah potensi dirinya terkunci oleh gelarnya sendiri. Yaitu, maaf, banyak gelar tanpa karya nyata.

Berani hadapi tantangan untuk belajar ilmu bodohologi, karena itu ruh kecerdasan !!! Atau seumur-umur merasa pandai, tapi tanpa karya nyata yang berarti. Bagaimana pendapat sahabat.

Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. Website http://amri.web.id e-mail : amri{at}mq{dot}

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa