Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Percepatan yang Terdahului

Percepatan yang Terdahului

Banyak diantara kita yang sudah merasa punya kecepatan, kecepatan dalam bentuk apapun. Kemudian merasa bangga, karena sudah mampu melakukan percepatan. Namun, akhirnya diri kita terkaget-kaget, ...

Jum'at, 09 Februari 2007

Banyak diantara kita yang sudah merasa punya kecepatan, kecepatan dalam bentuk apapun. Kemudian merasa bangga, karena sudah mampu melakukan percepatan. Namun, akhirnya diri kita terkaget-kaget, sebab rupanya percepatan yang kita miliki jauh tertinggal dengan percepatan-percepatan disekitar kita.

Suatu ketika para pejabat, mungkin termasuk kita bagian dari pejabat itu, merasa sudah melakukan persiapan dengan cepat yaitu menghadapi banjir untuk kota Jakarta dan sekitarnya. Namun yang sangat menarik, setiap musim hujan, diri kita kalah cepat dengan banjir itu. Jadi, persiapan tinggal persiapan dan banjir tetap saja melanda dan bahkan semakin tahun semakin besar dan meluas. Ini berarti, persiapan percepatan menangani banjir, tetap saja kalah cepat dengan banjir itu.

Banyak para ahli kesehatan, setiap tahun melakukan percepatan untuk menangani flu burung. Namun percepatannya, terdahului oleh flu burung itu sendiri. Sehingga, diskusi, penanganan dan lain sebagainya tetap kalah cepat dengan penyebaran flu burung. Makanya, penanganan, tetap penanganan, sedangkan penyebaran tetap penyebaran. Ini berarti, persiapan percepatan, menangani flu burung, tetap saja kalah cepat dengan penyebaran flu burung.

Banyak orang kepingin menikah misalnya, sudah selalu berkali-kali melakukan persiapan pernikahan dan bahkan calon yang diincarpun sudah diberi tanda, agar tidak salah sasaran. Namun yang menarik adalah percepatan persiapan pernikahan, terdahului oleh orang lain yang jauh lebih cepat. Dampaknya adalah, keinginan percepatan pernikahan, hanya sebuah cita-cita. Kalah oleh orang lain yang jauh lebih cepat. Bahkan orang lain sudah mempunyai anak tiga, kita hanya percepatan pernikahan, yang selalu terdahului orang lain, karena cara mendapatkannya jauh lebih cepat.

Banyak orang pasti menginginkan berkecukupan ekonomi, sehingga selalu melakukan percepatan untuk mendapatkannya. Namun yang sangat menarik adalah, percepatan kita kalah cepat dibanding dengan yang lain. Dampaknya, kita selalu kalah berkecukupan ekonomi, bila dibanding dengan yang lain. Jangan salah sangka yeach, berkecukupan ekonomi disini, bukan hanya harta yang berlimpah, tapi lebih ke “sedekah” yang berlimpah. Bahkan cara meraih berkecukupan ekonomi kita, kalah dengan ayam, yaitu dengan istilah;”Rizki kita diambil oleh ayam”. Intinya adalah, ayam bangun lebih awal dibanding kita.

Sahabat CyberMQ

Membuat percepatan hidup, merupakan keharusan, namun kalau kita hanya menggunakan percepatan tanpa pembanding, jangan-jangan, percepatan kita selama ini, termasuk paling lambat dibanding yang lambat. Apalagi dibanding yang tercepat, jangan-jangan kita dianggap yang tidak bergerak sama sekali.

Berani menghadapi tantangan percepatan yang cepat??? Atau kita memilih terlindas percepatan itu sendiri. Bagaimana pendapat sahabat!!!

Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri{at}mq{dot} co{dot}id

comments powered by Disqus

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiiq

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi - radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakekn

connect with abatasa