Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Mas Amri»Punya Waktu untuk Sakit

Punya Waktu untuk Sakit

Kita ini sering aneh, ketika diajak berolah raga, apapun bentuk olah raga, selalu mengatakan:”Maaf saya sibuk, pekerjaan menumpuk, tidak ada waktu untuk berolah raga”. Dan beribu-ribu alasan, sehingga seolah-olah dirinya punya hak untuk tidak berolah raga. Namun, yang paling menggelikan adalah banyak orang ...

Jum'at, 26 Januari 2007

Kita ini sering aneh, ketika diajak berolah raga, apapun bentuk olah raga, selalu mengatakan:”Maaf saya sibuk, pekerjaan menumpuk, tidak ada waktu untuk berolah raga”. Dan beribu-ribu alasan, sehingga seolah-olah dirinya punya hak untuk tidak berolah raga. Namun, yang paling menggelikan adalah banyak orang tidak punya waktu untuk berolah raga, namun banyak punya waktu untuk sakit.

Ketika seseorang diajak untuk bersepeda, dalam satu minggu dua kali saja, dan setiap bersepeda memerlukan waktu dua jam, sehingga dalam seminggu hanya memerlukan waktu empat jam, selalu saja mengatakan tidak punya waktu. Tapi anehnya, setiap bangun tidur dirinya harus berhenti sejenak, minimal satu jam, karena asam uratnya menganggu, dirinya merasa ada waktu. Padahal dalam seminggu minimal memerlukan waktu tujuh jam, menahan rasa sakit untuk bangun dari tempat tidurnya.

Ketika seseorang diajak, shalat subuh ke Masjid, kemudian pulangnya berjalan kaki sedikit memutar jalan agar agak jauh, dengan sandal di lepas agar syaraf kaki terstimulasi dan hanya memerlukan waktu lima belas menit per hari jalan pagi setelah subuh, bisa menghemat waktu berjam-jam, gara-gara konsentrasi dan ngantuk tersembuhkan. Sebab oksigen ke otak sangat optimal. Lima belas menit setelah shalat subuh, selalu saja mengatakan tidak punya waktu. Padahal dirinya selalu ada waktu konsentrasi yang terbuang, karena oksigen ke otak kurang optimal, disebabkan pompa oksigen yang dilakukan oleh jantung, kurang fit.

Bahkan kami menjumpai banyak teman, sering sakit, tidak terlalu parah memang, kadang-kadang pilek, sesekali migren, ngilu-ngilu badan, bangun tidur terasa kelelahan, tidur kurang nyenyak, asam urat menggelitik bagian-bagian tubuh dan beberapa penyakit ringan selalu dialaminya. Kalau ditotal, biaya pengobatan berkisar antara Rp. 15.000 sampai Rp. 1.000.000. Anehnya, dirinya tetap saja tidak mau berolah raga, walaupun banyak olah raga yang murah meriah, namun menyehatkan.

Sahabat CyberMQ

Hidup ini harus penuh kecerdikan stratejik, salah satunya dalam sektor kesehatan. Kesehatan, memang bukan segala-galanya, tapi hidup tanpa sehat, rasanya keindahan dunia penuh berkah ini menjadi hilang begitu saja.

Panas mengeluh, karena badan tidak sehat. Dingin mengeluh, karena badan kurang sehat. Jalan turunan mengeluh, karena badan kurang sehat. Jalan tanjakan mengeluh, karena badan kurang sehat. Pekerjaan banyak mengeluh, karena merasa kelelahan yang sebenarnya tidak perlu, juga karena kurang sehat.

Berani hadapi tantangan untuk menyisihkan waktu berolah raga, agar punya waktu untuk sehat dan berusaha sungguh-sungguh agar sakit bisa diminimalis ??? Bagaimana pendapat sahabat !!!

Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail : amri@mq.co.id

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa