Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Sahidnya Perempuan

Sahidnya Perempuan

Aisha sangat bersedih ketika mendengar suaminya telah gugur di medan perang sebagai umat yang mati syahid. Dia lalu pergi mengadu kepada ulama sambil menangis.

Senin, 23 Juli 2012

Aisha sangat bersedih ketika mendengar suaminya telah gugur di medan perang sebagai umat yang mati syahid. Dia lalu pergi mengadu kepada ulama sambil menangis.
"Aku sangat sedih karena suamiku telah berpulang dan menjadi syahid."
Ulama itu tersenyum lalu berkata, "Seharusnya kau bahagia sebab suamimu akan dijamin keberadaannya di surga oleh Allah."
Aisha semakin menangis. "Aku sedih karena aku tidak bisa syahid seperti suamiku dan bersamanya di surga." Ulama itu bertanya, "Berarti kau ingin mati dalam keadaan syahid."
Aisha mengangguk dan berkata, ’Apakah aku harus mengacungkan senjata di medan perang dan mati di sana?"
Ulama itu menggeleng. ’Apakah ketika suamimu hidup kau sudah yakin bahwa kau adalah seorang istri yang salihah dan berbakti?"
Aisha menggeleng pelan, "Aku tidak tahu."

 

Ulama kembali bertanya, "Baiklah, apa yang kaulaku­kan selama menjadi seorang istri?"
Aisha menjawab, "Aku meneladani para istri rasul yang berbudi. Aku selalu mendoakan kebahagiaannya.
Aku menemaninya dalam keadaan baik dan buruk. Aku tidak pernah keluar rumah tanpa izinnya, walau sejeng­kal pun. Aku merawatnya dari bangun tidur hingga kami akan tertidur. Aku mencukupi kebutuhan batinnya. Aku tidak pernah membantah. Aku menjaga amanahnya, baik secara lisan maupun apa yang terlihat mataku, misalnya hartanya. Aku menjaga anak-anaknya dan aku mencintainya karena Allah."
Ulama itu tersenyum simpul, "Kau telah menunaikan kewajibanmu sebagai seorang istri yang diridhai Allah. Teruskan menjaga anak-anaknya dan jadikan mereka khalifah-khalifah di bumi ini. Maka kau akan menjadi syahid karenanya."
Aisha tertegun sejenak, ’Apakah benar wahai Ula­ma?"
Ulama menjawab, "Syahidnya perempuan adalah ke­tika dia meninggal karena melahirkan atau dia menjadi istri dan ibu yang salihah dan bermanfaat bagi keluar­ganya."
Aisha tersenyum bahagia, lalu beranjak dari duduk­nya, ’Terima kasih. Aku akan mengantarkan anak-anak kami menjadi khalifah di bumi ini dan menyusul suami­ku di surga kelak."

"Ditanyakan kepada Rasulullah saw., ‘Apakah yang dapat menandingi pahala jihad di jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha AgungV Rasulullah saw. menjawab: ’Kamu tidak akan mampu melaku­kannya.’ Lalu, mereka mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Beliau selalu menjawab: ’Kamu tidak akan sanggup melakukannya. ’ Lalu pada yang ketiga kalinya, beliau bersabda: ’Perumpamaan orangyang berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang selalu berpuasa dan shalat serta tunduk kepada ayat- ayat Allah. Ia tidak pernah putus berpuasa serta shalat sebelum orang yang berjihad di jalan Allah itu kembali.’"
-Shahih Muslim No. 3490

 

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa