Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Sabar dan Mengeluh

Sabar dan Mengeluh

Pada suatu hari, Abul Hassan pergi ke Baitul Haram. Ketika tawaf, tiba-tiba dia melihat seorang perempuan cantik yang wajahnya begitu bersinar dan berseri.

Selasa, 17 Juli 2012

’’Mengeluh itu termasuk kebiasaan jahiliah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum tobat, maka Allah akan memotongnya bagai pakaian dari uap api neraka.

-HR Imam Majah

Pada suatu hari, Abul Hassan pergi ke Baitul Haram. Ketika tawaf, tiba-tiba dia melihat seorang perempuan cantik yang wajahnya begitu bersinar dan berseri.

’’Demi Allah, aku belum pernah melihat perempuan secantik itu dan wajahnya selalu terlihat gembira. Apa- kah perempuan itu tidak pernah bersusah dan bersedih hati?” kata Abul Hassan.

Perempuan itu mendengar apa yang diucapkan Abul Hassan, lalu dia bertanya.

”Apa yang kaukatakan, Saudaraku?” tanya perempu­an itu. ’’Demi Allah, aku selalu terbelenggu oleh perasaan sedih dan duka dikarenakan risau. Tidak ada seorang pun yang mau peduli dengan apa yang kurasakan ini.”

’’Persoalan apa yang membuatmu risau?” tanya Abul Hassan.

”Aku memiliki dua orang anak yang sudah dapat bermain sendiri dan satu anak lagi yang masih kususui. Sua­tu hari suamiku sedang menyembelih kambing kurban. Ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anak pertamaku berkata kepada adiknya, ’Hai adikku, maukah aku tunjukkan kepadamu bagaimana ayah menyembelih kambing?’ ’Ya, aku mau,’ jawab adiknya. Sang kakak lalu menyuruh adiknya berbaring dan kemudian menyembelih leher adiknya.” Perempuan itu bercerita. ”Lalu apa yang terjadi?” Abul Hassan penasaran. ’’Sang kakak ketakutan melihat darah yang keluar dari leher adiknya. Ia kemudian lari ke atas bukit. Nahas baginya karena dia dimangsa oleh buaya. Ayahnya ke­mudian mencari anaknya hingga ia pun mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju periuk yang berisi air panas. Ditariknya periuk itu dan tumpahlah air panas menyiram tubuhnya hingga melepuh seluruh kulit badannya. Kejadian itu terdengar oleh anakku yang telah menikah dan tinggal di daerah lain. Ia pun jatuh dan pingsan hingga menemui ajalnya. Kini, aku tinggal sebatang kara.”

Abul Hassan tertegun mendengar cerita si perempu­an cantik itu. ’’Bagaimana kau bisa sabar menghadapi semua musibah hebat itu?” tanyanya kemudian.

”Tak seorang pun dapat membedakan antara sabar dan mengeluh, melainkan ia menemukan di antara keduanya dan menemukan jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaikinya, maka hal itu baik dan terpuji aki- batnya. Adapun mengeluh, maka ia tidak mendapat ganti atau sia-sia belaka,” jawab perempuan itu.

"Kesabaran harus dimiliki setiap orang ketika menerima sibah dan cobaan dari Allah karena  Allah akan mengganti kesabarannya di dunia dengan-Nya menjadi kekasih-Nya dan ketika di akhirat akan Menggantinya dengan surga.

comments powered by Disqus

Kisah Mertua dan Menantu

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua. Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Ura

connect with abatasa