Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Kisah Satu Dosa Bag. II

Kisah Satu Dosa Bag. II

Dalam kondisi yang terbuang seperti itu, pemuda tersebut segera pergi menuju ke suatu tempat di padang pasir untuk menyepi dari keramaian. Di tempat itu, ia selalu berdzikir dan memohon ampunan Allah selama empat puluh hari..

Rabu, 14 Maret 2012

Pemuda itu pun jadi menangis lagi dan keluar dari ruangan Rasulullah Saw. Ia merasa dosanya tak bisa terampuni. Sebab, Rasulullah Saw. saja sudah tak mau berdekatan dengannya.

Dalam kondisi yang terbuang seperti itu, pemuda tersebut segera pergi menuju ke suatu tempat di padang pasir untuk menyepi dari keramaian. Di tempat itu, ia selalu berdzikir dan memohon ampunan Allah selama empat puluh hari empat puluh malam. Sikapnya itu menunjukkan bahwa ia masih memiliki harapan akan ampunan dan rahmat Allah Swt. Ia benar-benar bertobat dari perbuatan dosanya yang telah ia lakukan.

Selama masa tobatnya itu, pemuda tersebut sama sekali tidak makan dan minum. Hingga tubuhnya pun jadi lunglai dan tak bisa bergerak lagi. Dalam kondisi yang tiada daya itulah, ia berdoa kepada Allah: “Ya Rabb, Tuhannya Nabi Muhammad Saw., Nabi Adam a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. Aku ini adalah hamba-Mu yang berdosa. Aku telah mendatangi pintu Rasulullah, kekasih-Mu, agar memohonkan ampunan bagiku. Namun, tatkala ia mendengar kesalahan yang telah kuperbuat, ia mengusirku dari pintunya.”

“Maka kali ini, ya Rabb,” lanjut doa pemuda itu sambil terus menangis, “aku datang ke pintu-Mu agar engkau menolongku untuk membukakan pintu Rasulullah, kekasih-Mu. Jika engkau menerima tobatku, maka sampaikanlah kabar tentang hal itu kepa­da Nabi Muhammad, kekasih-Mu. Sebab, sesungguhnya Engkau Maha Kasih Sayang kepada setiap hamba-Mu. Tak ada lagi harapan pada diriku selain hanya kepada-Mu. Jika sekiranya engkau tak mengampuniku, maka kirimkanlah api dari neraka-Mu dan bakar­lah aku dengan api-Mu itu di dalam dunia-Mu ini. Agar Engkau menyelamatkanku dari siksa neraka di akhirat-Mu nanti.”

Demikianlah bunyi doa penyesalan dari pemuda itu. Dan Allah Maha Mendengar setiap penyesalan dan tobat dari hamba- Nya. Dia Yang Maha Pengasih pun mengutus Malaikat Jibril untuk menemui Rasulullah Saw. dan menyampaikan firman- Nya. Malaikat Jibril segera turun dan menemui Rasulullah Saw. seraya berkata: “Hai Muhammad Tuhanmu telah mengucapkan salam untukmu”

Rasulullah Saw. menjawab, “Huwas-saldmu wa minnas-salami wa ilaihi yarji’us-salamu (Dialah Kesejahteraan dan dari kami kesejahteraan serta kepadaNyalah kesejahteraan itu kembali)” Malaikat Jibril kemudian menyampaikan bahwa Allah telah berfirman: “Apakah engkau yang telah menciptakan seluruh makhluk?”

Rasulullah SAW menjawab, “Dialah Allah yang telah menciptakanku dan para makhluk lainnya.”

Malaikat Jibril menyampaikan lagi firman Allah yang berikutnya: “Apakah engkau yang memberi rezeki kepada seluruh makhluk?”

Kembali Rasulullah Saw. menjawab pertanyaan tersebut seraya berkata, “Allahlah yang memberi rezeki kepada seluruh makhluk dan termasuk juga kepadaku.”

Kembali Malaikat Jibril menyampaikan firman Allah yang selanjutnya:

“Apakah engkau yang menerima tobat mereka?”

Rasulullah Saw. menjawab: “Allah-lah yang menerima tobat setiap hamba-Nya dan mengampuni dosa mereka.”

Hai MuhammadAllah telah berfirman kepadamu: Telah Aku kirimkan kepadamu salah seorang dari hamba-Ku dan ia menerangkan satu dosa dari sekian banyak dosa yang telah ia lakukan. Kemudian mengapa engkau berpaling darinya dan merasa sangat marah kepadanya hanya dengan mengetahui satu dosa itu sajaT Demikian firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Saw.

Mengirim Utusan

Kemudian Malaikat Jibril menyampaikan kelanjutan dari firman Allah tersebut: “Oleh karena itu, bagaimanakah jadinya keadaan orang-orang mukmin nanti jika mereka datang kepadamu dengan dosa yang lebih besar dan sebanyak gunung-gunung? Eng­kau adalah utusanku yang Aku utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Maka, jadilah engkau orang yang memiliki kasih sayang kepada orang-orang yang beriman, menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa dan maafkanlah kesalahan ham­ba-Ku. Sebab, sesungguhnya Aku pun telah mengampuninya dan menerima tobatnya”

Setelah menerima pesan dari Allah melalui Malaikat Jibril tersebut, Rasulullah Saw. kemudian mengutus beberapa orang untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepada pemuda yang pernah menemuinya serta memerintahkan agar membawanya ke hadapan Rasulullah Saw. Pada waktu para sahabat membawa pemuda itu, mereka sampai di tempat Nabi Saw. ketika waktu magrib telah tiba.

Rasulullah Saw. segera mengimami para sahabat untuk menunaikan shalat magrib. Termasuk pemuda yang sudah diterima tobatnya itu, juga ikut bermakmum kepada Nabi Saw.

Pada rakaat pertama, Rasulullah Saw. membaca Surah Al-Takatsur setelah surah Al-Fatihah. Tatkala beliau sampai pada ayat hatti zurtum al-maqabir (hingga kamu sekalian masuk ke dalam kubur), mendadak pemuda itu berteriak histeris dan langsung pingsan tak sadarkan diri.

Usai shalat magrib, barulah diketahui bahwa ternyata pemuda itu sudah meninggal dunia. Rasulullah Saw. kemudian memerintahkan para sahabat untuk mengurus jenazah tersebut. Beliau pun mengimami shalat jenazah untuk pemuda itu dan ikut mendoakan di pemakamannya.

Kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya yang tak terbatas, menyebabkan sebesar apa pun dosa seseorang, jika ia mau menyesali perbuatannya, bertobat dan berupaya untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang sama, maka sesungguh­nya Allah akan mengampuni dan menerima tobatnya. Semua itu bukanlah disebabkan ibadah dan dzikir penyesalan yang dilakukan oleh pemuda itu selama empat puluh hari empat puluh malam. Melainkan, semata-mata karena rahmat dan ampunan Allah Yang Mahaluas.

Oleh karena itu, jika kita telah berbuat dosa, jangan sampai putus harapan dari rahmat dan ampunan Allah. Sebab, Dialah satu-satunya Zat yang dapat memberikan pengampunan dan pertolongan. Namun, jika berniat untuk melakukan perbuatan dosa terlebih dahulu, baru kemudian bertobat, maka hal itu justru merupakan suatu upaya pengingkaran diri kepada Allah dan mendahulukan hawa nafsu daripada Allah. Tindakan yang demikian itu sama saja dengan telah menomor-duakan atau menyekutukan Allah dengan selain-Nya.

Disadur dari buku Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, karya Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Penerbit Darul Hikmah

comments powered by Disqus

Tenang Dalam Setiap Sikap

Saudaraku yang baik, ketenangan menjadi sesuatu yang dibutuhkan setiap orang. Terutama ketika sedang menghadapi masalah atau saat hendak mengambil keputusan. Orang yang tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak overacting. Orang

connect with abatasa