Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Rasa Ingin....

Rasa Ingin....

Ini adalah kisah dimulai masa kecilku. Setahun setelah kelahiranku, Tuhan menakdirkan orangtuaku untuk menjemput rezeki dan ilmunya di kota itu. Aku pun diboyong kt Samaridna. Berbagai pengalaman hidup masa kecil banvak ...

Senin, 12 Maret 2012

Ini adalah kisah dimulai masa kecilku. Setahun setelah kelahiranku, Tuhan menakdirkan orangtuaku untuk menjemput rezeki dan ilmunya di kota itu. Aku pun diboyong kt Samaridna. Berbagai pengalaman hidup masa kecil banvak kudapat di sana. Setelah lulus dari bangku sekolah menengah pertama, aku diberangkatkan kembali ke kota Solo, kota kelahiranku. Tujuan orangtuaku pasti baik, mereka ingin agar kelak aku bisa menjadi seorang manusia yang mandiri dan bisa belajar mengatur waktu.

Selang setahun kemudian, adikku menyusul. Kami tinggal di sebuah kamar kecil serumah milik nenekku. Sepulang sekolah, keseharian kami diisi dengan tugas rutin seperti mencuci piring, baju bahkan menyetrika yang dilakukan serba sendiri ditemani hiburan musik dan berita dari radio.

Satu ketika kami guyon, "Dek, enak ya seandainya kita punya’ TV?" aku iseng bertanya setelah sekian lama memimpikan TV. Uang saku yang dikirim orangtua kami sisihkan sebagian.

Pada akhirnya, tabungan untuk membeli TV pun terpenuhi. Senangnya hati kami saat melihat jejeran TV berbagai ukuran yang terpajang di depan toko. Pada akhirnya, TV terbeli.

Lulus sekolah dan mulai kuliah, muncul ’rasa ingin’ lainnya. Tanpa disadari, rupanya hati ini sudah mulai banyak keinginan. Ingin mendapatkan perguruan tinggi favorit. Ingin mendapatkan pendamping hidup terbaik. Ingin mendapatkan tempat kerja yang lebih baik. Setelah menikah pun masih banyak keinginan. Ingin menjadi keluarga sakinah. Ingin memiliki sebuah rumah. Begitu banyak bahkan tak terhitung keinginan yang tidak, belum dan sudah terwujud.

Kenangan itu terlintas masih jelas, seperti menonton tayangan masa lalu. Hampir saja keinginan itu menutupi dan memadamkan Cahaya-Nya yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yaa Allah, ampuni hamba-Mu ini yang telah melupakan syukur atas nikmat yang sudah terpenuhi. Engkau Maha Mengetahui apa yang belum kudapat dan apa yang sudah kudapat. Engkau jualah Yang Kuasa mengetahui seberapa pantasnya aku tidak mendapatkan keinginan yang kucari. Engkau adalah pemilih keinginan terbaik. Kini, kugantikan keinginan itu agar selalu senantiasa dekat dengan-Mu.... Aku pun tersadar, "Alhamdulillahirabbil aalamin...”

Disadur dari buku Tuhan Tidak Tidur, Penulis: Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata; Penerbit: PT Elex Media Komputindo


Anda akan menikah? buat website pernikahan anda yang dapat anda gunakan untuk undangan online atau informasi pernikahan anda, Gratis hanya di WebNikah.com.
Atau anda mempunyai bisnis dan usaha dalam layanan wedding seperti wedding organizer, Fotografi, Makeup atau fotografi, Gabung juga sebagai Vendor di Webnikah.com dan promosikan layanan anda. Daftarkan Wedding Service anda di Vendor WebNikah.com

comments powered by Disqus

Kisah Mertua dan Menantu

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu mertua. Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Ura

connect with abatasa