Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Ulurkan Tanganmu

Ulurkan Tanganmu

Temanku tersenyum, sambil mengelus rambut si adik, beberapa teman yang tadi berdebat mulai tersenyum bahkan ada yang sampai menangis meski tidak terlihat. "Bagaimana kalau adik ngelap sepatu om dan teman-teman om sampai ...

Jum'at, 03 Februari 2012

Waktu itu hujan turun sangat deras, beberapa mahasiswa berlari mencari tempat berteduh, ada yang berteduh di pohon, ada yang lari ke ruang makan bahkan ada yang me­nyerbu mini market 24 jam yang terkenal di kampus kami.

Aku dan beberapa rekan bergegas menuju warung Mpok Ijah. Warung renyah spesial anak-anak kos-kosan, murah, meriah, nggak pake lama. Kami asyik berbagi cerita tentang kampus, dosen, dan yang lainnya. Tiba-liba, seorang kawan menunjuk kepada anak kecil di seberang jalan.

Sang anak berlari ke sana ke mari sambil membawa payung, dia menghampiri satu per satu orang yang lewat tanpa memperhatikan dirinya sendiri yang basah kuyup. Banyak pejalan kaki yang tidak menghiraukan hingga si anak pun duduk kelelahan dan mengangkat kedua tangannya seperti hendak berdoa.

"Wah gawat, si anak berdoa tu bisa nggak berhenti nih hujan." Belum selesai salah satu temanku berucap, tiba-tiba "Jebrreeesss" hujan turun semakin deras. Temanku berdiri dan mengatakan, "Yuk... bawa tu anak ke sini daripada hujan tambah deras."

"Ehh... enak saja, lu aja yang bawa ntar kita-kita kebasahan lagi," celetuk salah satu anak. Melihat mereka adu mulut, aku pun berkata, "Sudah... sudah bawa saja ke sini mungkin dia berdoa soal yang lain, kenapa juga sich ribut banget kalian, kasihan kan."

Seketika itu pula tidak ada yang berbicara di antara kami, ma­sing-masing menyimpan prasangka kepada si anak. Hingga salah satu dari kami berdiri dan memanggil si adik.

Mendengat teriakan Arif, si adik berlari menuju warung Mpok Ijah. "Ada apa om?" tanyanya sambil ketakutan, melihat wajah beberapa dari kami yang tidak bersahabat.

Arif tersenyum dan mengatakan, "Adik jualan apa sich?"

"Sol sepatu om, sama kebetulan bawa payung 2 biji, seharusnya payung ini dijual om, tapi waktu hujan adik

kasihan jadi adik buka satu per satu untuk membantu mbak dan mas yang lewat di depan adik/’ jawabnya sambil menunduk.

"Emang dibayar berapa?" tanya A rif dengan nada pelan.

"Terserah aja om, mereka mau rigasih berapa, kalau hujan begini, nggak ada sepatu yang di sol, soalnya pada bersih, jadi adik bakal nggak laku. Jadinya payung adik aja deh yang digunakan untuk bantu. Payung ini buatan mbok di rumah om."

Temanku tersenyum, sambil mengelus rambut si adik, bebe­rapa teman yang tadi berdebat mulai tersenyum bahkan ada yang sampai menangis meski tidak terlihat.

"Bagaimana kalau adik ngelap sepatu om dan teman-teman om sampai kinclong, terus kita be li payung adik buat jalan ke kampus, gimana dik?"

"Alhamdulillah... iya om, adik mau, sebentar ya om, adik ambil dulu alatnya," dia pun berlari ke seberang jalan meniti hujan yang deras dan jalanan yang semakin becek.

"Mpok, soto ayam sama jeruk hangat satu ya, buat si adik."

Spontan kami semua melihat ke arah Arif. Temanku itu me­lanjutkan makannya seakan-akan dia tidak melakukan apa- apa.

Aku pun bertanya "Rif, beneran nih?"

"Aku cuma ingin menghargai kerja keras si adik, ingat dia tidak mengemis dan ingat, dia tidak berusaha ngambil untung di saat orang lain kehujanan. Biasanya semakin dibutuhkan bisa dijual semakin mahal, tapi dia tidak, masih ada hati tulus dari hati seorang anak."

Kami pun mengangguk dan saling melempar senyum.

Ketika si adik mengelap sepatu yang basah dan kotor terkena tanah becek, kami pun menatapnya dengan perasaan yang mendalam. Ada yang bersyukur dan ada yang bersenda gurau berusaha menghibur.

Setelah selesai dan akan mau pulang, Arif mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah dan memberikannya kepada adik. Spontan adik terkejut dan berusaha mencari kembaliannya, dikumpulkannya uang receh yang berada di

sakunya. Melihat perilaku adik, Arif berjongkok, "Dik terima aja uangnya, kan adik tadi bekerja, om terima kasih sudah dibantu, lebihnya buat mbok di rumah aja ya."

Si adik pun menangis dan memeluk arif sambil berucap, "Makasih om."

"Maukah kita menjadi Arif berikutnya?" *hh*

 
Disadur dari buku Tuhan Tidak Tidur, Penulis: Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata; Penerbit: PT Elex Media Komputindo

comments powered by Disqus

Ciri-ciri Ahli Ma`rifat

Hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki. Karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. Bila hati sudah terisi dunia, Allah tidak mau mengisinya. Begitu pun cinta kepada manusia,

connect with abatasa