Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Secangkir Kopi Buat Ayah

Secangkir Kopi Buat Ayah

Sampai saat ini pun aku tidak menemukan kalimat utama yang pas untuk mengungkapkan bagaimana aku menyayangimu. Yang kutemukan adalah hingga saat ini aku belum bisa menjadi sebagaimana dirimu,

Rabu, 05 Oktober 2011

"Di saat aku ingin belajar tentang arti pengorbanan dan aku tidak menemukan figur terbaik selain dirimu".

Sampai saat ini pun aku tidak menemukan kalimat utama yang pas untuk mengungkapkan bagaimana aku menyayangimu. Yang kutemukan adalah hingga saat ini aku belum bisa menjadi sebagaimana dirimu, duhai ayah sosok yang selama ini berjuang habis-habisan demi menyambung napas hidup mama dan anak-anaknya.

Ayah, jika mama memiliki sejarah yang berarti tentang kasih sayang dan pengorbanannya maka ayahlah yang mengajar­kan kepada kami bagaimana sikap tegar dan bijaksana tersemat dalam perjuangan kehidupan. Begitu banyak figur-figur seperti ayah yang menghabiskan siang malamnya tanpa lelah, terus tersenyum mengais rezeki demi makan & susu anak-anaknya, menerobos hujan demi hari yang lebih baik, bersa­bar dengan panasnya kehidupan yang kejam, memilih tegar untuk menunjukkan bahwa Tuhan menghadirkan ujian bukan untuk melemahkan dan memilih bijak saat anak-anakmu menginginkan sepiring nasimu untuk mereka.

Aku tidak pernah tahu bagaimana cara mengungkapkan bah­wa aku menyayangimu karena engkau mengajarkan kasih sayang yang tidak pernah dapat diungkapkan dengan apa pun di dunia ini. Tapi percayalah ayah, ayahlah inspirasiku untuk melewati ganasnya tantangan dan ujian. Ayah inspirasiku un­tuk senantiasa bersabar dan meniti usaha pelan-pelan. Aku tidak akan pernah menyerah karena aku tahu doamu selalu ada mengiringi hari-hari anak-anakmu. Sebagaimana doamu yang senantiasa mengiringi masa kecil hingga besarku meski ayah tidak banyak memeluk dan menimang sebagaimana mama.

Ayah, sempatkah Allah mempertemukan kita kembali? aku ingin duduk bersamamu, menikmati segelas teh dan secang­kir kopi hangat sekadar bercengkerama bersama melepas rindu yang senantiasa terpendam. Aku ingin memandang wajah bijakmu dan menemani hari-hari tuamu, aku ingin berbakti dan ada di saat masa lemahmu, aku ingin hadir mendengar­kan segala cerita dan tawamu, aku ingin bercerita banyak hal tentang dirimu meskipun kutahu ayah pasti tidak nyaman dengan semua itu.

Subhanallah Ayahlah inspirasiku, mungkin tidak banyak yang bisa ditulis untuk menyentuh hati dan merasakan bagaimana seorang anak mengungkapkan isi hati kepada sang ayah, tapi aku punya Allah yang mendengar dan mengabulkan doaku untuk ayah.

Ayah... sabar ya Insya Allah, kuasa-Nya akan mempertemukan kita kembali dan aku ingin memeluk dan mendekapmu dengan hangat, dengan menyematkan satu rasa. Aku benar- benar menyayangimu. *hh*.

 
Disadur dari buku Tuhan Tidak Tidur, Penulis: Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata; Penerbit: PT Elex Media Komputindo

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa