Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Bekerja dengan Hati

Bekerja dengan Hati

Barangkali beginilah profesi seorang bidan. Apalagi buka praktik di sebuah kampung di daerah pinggiran ibukota pasti memiliki berbagai macam kisah hikmah yang dapat di­petik.

Rabu, 05 Oktober 2011

Barangkali beginilah profesi seorang bidan. Apalagi buka praktik di sebuah kampung di daerah pinggiran ibukota pasti memiliki berbagai macam kisah hikmah yang dapat di­petik.

Dini hari itu kami terbangun, jarum jam masih menunjukkan pukul 01.00, sebagian orang masih mengatakan itu malam ka­rena langit masih gelap namun ada beberapa mengatakan itu dini hari. Terlepas dari itu kami pun beranjak keluar mende­ngar langkah seorang laki-laki berlari di daerah tempat kami tinggal.

"Bu bidan... Bu bidan tolong anak saya bu bidan... tolong," teriak si Bapak sambil sesenggukan. Napasnya masih belum teratur kemudian dia lari kembali untuk menggendong anaknya yang sakit. Bayi yang digendongnya mungkin masih berusia beberapa bulan, ditemukan tidak bernapas di saat sang bapak menyedot ingus dari si anak.

Keluarga pun berdatangan, ada yang membacakan surat Al Fatihah, ada yang menangis dan ada yang hanya diam tidak berbicara. Bu Bidan pun sigap seraya memberikan pertolong­an pertama, sambil memberikan pertolongan beliau mencoba untuk menenangkan keluarga yang masih sesenggukan.

Aku pun keluar dan memberikannya segelas air putih dan ikut menenangkan si bapak. Istriku ikut masuk ke dalam ruangan sambil memastikan apa yang terjadi. Masih belum ada tanda-tanda, tangisan sang ibu dan bacaan ayat suci Al- Qur`an terdengar lebih keras dari sebelumnya, keluarga dari beliau satu per satu berdatangan.

Kami berdua ikut berdoa di depan pintu, kami bersyukur Bu Bidan sangat tenang dalam melakukan tindakan meskipun kami semua dibuat was-was oleh keadaan dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa. Kutemani si bapak sambil mengintip di depan pintu. Hingga akhirnya suara tangis si kecil mulai terdengar.

"Alhamdulillah, ya Allah," teriak kami spontan mendengar tangisan si anak. Napas sang bapak mulai mereda dan kami pun melempar senyum tanpa ada keluar kata sekalipun, karena sama-sama tahu bahwa yang diharapkan telah dikabulkan oleh-Nya.

Ya Allah, kami kagum kepada Bu Bidan, dia sudah memberi­kan pelajaran kepada kami bagaimana hidup dengan sebuah pengabdian. Kejadian pagi ini tidak jarang terjadi, dan Bu Bidan seakan-akan sudah siap dengan segala risiko meskipun harus mengorbankan waktu istirahatnya.

Kesetiaannya mengabdi ditunjukkan dengan kepeduliannya terhadap sesama. Tidak semua warga kampung bisa mem­balas jasanya dengan materi, tapi Bu Bidan sendiri pernah mengatakan "Saya yakin pasti ada jalannya, saya bersabar aja dan tetap fokus terhadap apa yang saya kerjakan".

Semua warga saat ini memahami keberadaan Bu Bidan seba­gai aset mulia yang dimiliki oleh mereka. Tidak hanya soal anak bahkan orang tua pun juga sering menanyakan kepada beliau tentang beberapa penyakit ringan dan cara mengoba­tinya. Banyak warga yang mempromosikan beliau bila ada warga baru yang bertempat tinggal di sana.

Inilah Bu Bidan, bekerja dengan hati tanpa pamrih, tanpa me­ngenal waktu dan ikhlas terhadap bagaimanapun kondisi pa­siennya, kaya dan miskin tetap mendapatkan pelayanan beli­au sebagai bidan. Jika pemerintah ingin bekerja dengan hati sebagaimana slogan-slogan mereka maka belajarlah darinya. Beliau adalah guru kami, patut untuk ditiru karena ketulusan dan kemuliaan hati, tidak hanya hati seorang bidan, tapi hati tulus seorang manusia, pemberian Tuhan. *hh*
 

Disadur dari buku Tuhan Tidak Tidur, Penulis: Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata; Penerbit: PT Elex Media Komputindo

comments powered by Disqus

Bayi Belajar Sejak Dalam Kandungan

APAKAH anak dalam kandungan benar-benar dapat belajar atau mempelajari kata-kata yang diucapkan oleh sang pendidik atau orang tuanya? Seperti yang dikatakan oleh F. Rene Van de Carr, M.D. Jawabannya ?ya?, ...

connect with abatasa