Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Menyelamatkan Nyawa I

Menyelamatkan Nyawa I

Saya melongok saku kemeja dan menggenggam uang tiga ratus ribu rupiah yang sedianya untuk membeli obat. Kala itu matahari kehidupan kami sekeluarga sedang surut, karena saya nekat jadi pengusaha dan menemui kegagalan dalam...

Rabu, 17 September 2014

Sepasang suami istri sesenggukan di hadapan saya, tepat di bibir loket kasir Rumah Sakit Bhakti Yudha. Saya yang tengah menanti penghitungan obat untuk kedua anak kembar yang kala itu berusia dua tahun, hanya terpana melihat bagaimana dua sosok itu lunglai di bawah tatapan nanar dari petugas kasir.

"Saya cuma kasir bapak, ibu... jadi nggak bisa kasih kebijakan apa-apa!" Si kasir pria tampak empati namun tak bisa berbuat banyak. Dua orang lelaki dan perempuan itu menuju deretan kursi panjang untuk sedikit menopang tubuh mereka yang bagai tak bertenaga.

Ketika saya bertanya pada kasir, ia menceritakan bahwa anak dari ibu dan bapak muda itu sedang dirawat karena diare dan boleh keluar hari itu. Mereka hanya punya uang seratus ribu rupiah sedang biaya untuk perawatan sisanya adalah tiga ratus dua puluh ribu rupiah. Karena telah berusaha mengurus surat miskin di hari minggu itu namun tidak membuahkan hasil karena kantor kelurahan tutup maka mereka terpaksa harus meminta kebijakan untuk bisa membawa sang anak segera keluar agar biaya perawatan tidak bertambah sehari.

"Jumlah tagihan tiga ratus dua puluh ribu rupiah itu sudah dikurangi oleh pimpinan rumah sakit Pak, tapi mereka tetap nggak bisa bayar, jadi terpaksa tunggu besok!" Ujar si kasir.

"Jadi kalau tunggu besok, biaya kamar tambah lagi dong mas?" Tanya saya.

"Ya sudah pasti, itu yang bikin mereka bingung." Jawab kasir.

Saya melongok saku kemeja dan menggenggam uang tiga ratus ribu rupiah yang sedianya untuk membeli obat. Kala itu matahari kehidupan kami sekeluarga sedang surut, karena saya nekat jadi pengusaha dan menemui kegagalan dalam mengelolanya hingga jaminan kesehatan dan kenikmatan ketika jadi pegawai saya lepaskan demi meraih cita-cita jadi pengusaha. Tiga ratus ribu rupiah itu uang terakhir kami, untuk membeli obat, sementara kebutuhan untuk menggaji pegawai dua hari ke depan belum tahu dapat dari mana.

Saya hampiri kursi panjang depan loket dan mencoba menyapa keduanya. Saya menawarkan untuk memberi uang sejumlah dua ratus ribu dari tiga ratus ribu rupiah yang saya punya.

"Jangan Pak... itu pasti untuk buat beli obat, nanti bapak nggak bisa bayar obat!" Sang suami menggeleng menolak. Saya meyakinkan mereka bahwa saya hanya perlu menebus satu resep saja karena anak saya seusia dan bisa berbagi obat untuk sementara.

Dengan tambahan uang itu mereka menuju kasir dan membayar ju/nlah tagihan yang harus mereka setorkan sore itu. Uang masih kurang dua puluh ribu rupiah namun kasir memberi kebijakan yang datang dari dirinya sendiri.

"Kalau cuma dua puluh ribu rupiah, saya bisa bantu kasih keringanan dengan uang saya sendiri!" Ujar kasir yang baik budi itu. Transaksi selesai dan suami istri itu mendapatkan surat lunas untuk membawa pulangsi buah hati dari kamar perawatan segera. Sang suami mencium tangan saya yang segera saya tepis dengan pelan. Berkali kali ucapan Terima kasih meluncur dari mulutnya.

"Bapak kerja dimana?" Tanya saya.

"Kerja sama tukang jahit Pak, di Jagakarsa!" jawabnya.

"Kasihan yang punya kios jahit Pak, jahitannya mulai nggak laku. Saya juga beberapa hari ini bingung nggak dapat pemasukan, anak sakit diare... untung ada bapak, terima kasih Pak semoga Alloh membalasnya!"

Rupanya ia seorang penjahit yang bekerja pada tukang jahit. Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tukang jahit jaman sekarang di tengah banjirnya produk tekstil jadi dari mana mana. Jangankan ia yang cuma pekerja di kios jahit, sedang majikannya pun juga terhempas dalam kondisi yang sama. Saya hanya sedikit mengingat wajahnya hingga ia dan istrinya pamit meninggalkan saya untuk mengambil anak mereka.

Sampai di rumah saya menceritakan pada istri tercinta bahwa obat hanya bisa dibeli separuh saja, karena ada orang lain yang lebih membutuhkannnya. Meski itu adalah uang terakhir yang dipegang namun dengan kebesaran hati ia mau menerimanya. Penderitaan mereka masih lebih buruk tak se-bandng dengan kondisi bisnis kami yang masih bisa menghasilkan sedikit rejeki.

Bersambung....


Disadur: 33 Kisah Keberkahan Para Pengamal Sedekah, Penulis: Aqilah Selma Amalia

comments powered by Disqus

Sembilan Langkah Supaya Anak Mau makan

Bukan itu saja. Ketika disuapi, anak bertingkah macam- macam. Ia lari ke sana ke mari, dan menangis jika dipaksa duduk. Jika pun mau makan, makanan tersebut tak dikunyah segera, tetapi diemut dulu.

connect with abatasa